Senny Marbun Resmi Terpilih Presiden Sebagai Presiden APSF: Pengalaman Indonesia Siap Ditularkan untuk ASEAN

Ketua NPC Indonesia, Senny Marbun, resmi terpilih sebagai ASEAN Para Sports Federation (APSF) untuk periode 2026-2030.

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 07 Juni 2026, 11:45 WIB
Ketua Umum NPC Indonesia, Senny Marbun, resmi terpilih sebagai ASEAN Para Sports Federation (APSF) untuk periode 2026-2030. (Doc NPC Indonesia)

Bola.com, Jakarta - Ketua NPC Indonesia, Senny Marbun, resmi terpilih sebagai ASEAN Para Sports Federation (APSF) untuk periode 2026-2030. Senny resmi menjadi pemimpin baru federasi olahraga disabilitas Asia Tenggara ini melalui Majelis Umum yang berlangsung di Kota Solo.

Melalui mekanisme voting yang melibatkan perwakilan dari sebelas negara anggota APSF yang berlangsung di Grand Ballroom Hotel Alila, Solo, Sabtu (6/6/2026) itu, Senny Marbun sukses mendulang tujuh suara. Ia mengungguli kandidat asal Thailand, Maitree Kongruang, yang memperoleh empat suara.

Advertisement

Dalam pertemuan Majelis Umum APSF ini, Senny akan dibantu oleh sederet jajaran komite eksekutif yang terdiri dari Teo-Koh Sock Miang (Singapura), Y.E. Yi Veasna (Kamboja), Michael Barredo (Filipina) dan Than Than Htay (Myanmar). Keempat nama ini bakal menduduki jabatan sebagai Wakil Presiden APSF di berbagai bidang.

Selain itu, ada pula perwakilan asal Brunei Darussalam, Ali Yusri Abdul Ghafur, yang didapuk sebagai bendahara APSF. Sedangkan Sukanti Rahardjo Bintoro bakal menjalankan peran sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen).


Tingkatkan level Asia Tenggara

Ketua Umum NPC Indonesia, Senny Marbun, resmi terpilih sebagai ASEAN Para Sports Federation (APSF) untuk periode 2026-2030. (Doc NPC Indonesia)

Dalam kepengurusan APSF, Senny Marbun sebetulnya bukan sosok yang asing. Sebab, selain menjabat sebagai Ketua Umum NPC Indonesia, lelaki kelahiran Tapanuli Utara itu sempat menjabat sebagai Wakil Presiden APSF di bidang Media dan Komunikasi pada periode 2022-2026.

Selama ini, kiprahnya sebagai Ketua Umum NPC Indonesia telah melahirkan sederet prestasi. Selain mengukir hattrick juara umum ASEAN Para Games pada 2017, 2022, dan 2023, dia turut membimbing dunia olahraga disabilitas Indonesia mencuri perhatian di Paralimpiade.

Dengan sederet pengalaman ini, lelaki kelahiran 9 April 1954 itu bertekad untuk membantu perkembangan level olahraga disabilitas di Asia Tenggara untuk naik level, sekaligus memangkas ketimpangan prestasi di antara negara-negara anggotanya.

"Saya ingin prestasi negara-negara di Asia Tenggara lebih maju lagi ke depannya. Karena kalau melihat prestasi Indonesia, sebenarnya sudah melampaui batas ya,” kata Senny Marbun seusai terpilih sebagai Presiden APSF, Sabtu (6/6/2026).

“Kita sudah pernah juara tiga kali berturut-turut di ASEAN Para Games, dan capaian medali Indonesia juga bagus di Paralympic. Sekarang saya ingin negara-negara Asia Tenggara mengikuti jejak Indonesia agar bisa terus melangkah ke depan," lanjut dia.


Perhatikan Masyarakat Disabilitas

Menurut Senny, salah satu upaya untuk mengatrol prestasi olahraga disabilitas ialah mendorong kesadaran pemerintah untuk memperhatikan masyarakat disabilitas. Dia menyebut, pemerintah Indonesia sudah mulai memberi atensi untuk kelompok rentan ini.

Selain bonus medali yang disetarakan dengan para atlet non-disabilitas, pemerintah turut membantu pembangunan Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia yang terletak di Karanganyar, Jawa Tengah.

"Seperti yang kita tahu bahwa negara-negara di ASEAN itu masih banyak yang memarjinalkan masyarakat difabel. Itu yang perlu kita bangkitkan semangat negara-negara tersebut agar bisa seperti Indonesia,” kata dia.

“Karena kita dahulu juga sama-sama termarjinalkan, tetapi kemudian Indonesia sudah luar biasa. Bahkan kita sekarang sudah memiliki lahan sepuluh hektar untuk training center. Itu yang perlu kita tularkan kepada negara-negara lain.”

"Kita akan coba. Saya akan coba datang ke negara-negara yang belum disentuh oleh pemerintahnya. Saya akan coba meminta kepada negaranya untuk mengangkat harkat martabat masyarakat difabel, seperti yang sudah dilakukan di Indonesia," lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Presiden APSF untuk bidang Olahraga dan Teknis, Teo-Koh Sock Miang, menjelaskan rencana untuk membantu negara-negara ASEAN dalam menyelenggarakan kejuaraan-kejuaraan single event. Sebab, pengalaman menghelat kejuaraan ini akan membantu perkembangan negara anggota dalam mengembangkan ekosistem olahraga disabilitas.

"Kita harus mengakui bahwa masih ada negara-negara yang belum siap dan belum mampu menyelenggarakan kompetisi multi event yang mencakup banyak cabang olahraga. Maka kita akan mendorong negara-negara tersebut untuk menggelar single event, agar bidang-bidang yang lain ikut terangkat, seperti misalnya klasifier-nya, tenaga teknis lapangan atau leadership-nya, melalui sejumlah pelatihan-pelatihan. Jadi pada intinya kita bisa maju bersama-sama," kata Teo-Koh Sock Miang.

Menurut perempuan asal Singapura ini, butuh kerja konsisten dalam membina atlet-atlet disabilitas. Sebab, proses regenerasi sangat penting agar keberlanjutan olahraga ini bisa berjalan dengan baik dalam mengukir prestasi di dunia.

"Kita harus sadar untuk mulai memperhatikan generasi berikutnya, agar tidak terjadi generation gap. Kita mulai memikirkan untuk bisa menyelenggarakan youth games. Jadi, kejuaraan untuk atlet-atlet pemula atau atlet muda," jelas Teo-Koh Sock Miang.

Berita Terkait