Fabio Capello Bongkar Alasan Usir Ronaldo dari Real Madrid: Bau Alkoholnya Tercium di Ruang Ganti

Mantan pelatih Real Madrid, Fabio Capello, menceritakan kembali penyebab ia mendepak Ronaldo Nazario dari skuadnya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 07 Juni 2026, 20:00 WIB
Ronaldo Luiz Nazario de Lima. Pemain Brasil ini mampu merebut dua kali trofi Ballon d'Or dan memegang rekor sebagai pemain termuda peraih Ballon d'Or. Pada 1997 ia merebutnya bersama Inter Milan saat usianya baru menginjak 21 tahun dan pada 2002 bersama Real Madrid. (AFP/Philippe Desmazes)

Bola.com, Jakarta - Fabio Capello mengungkap alasan di balik keputusannya mendepak Ronaldo Nazario dari Real Madrid, meski ia menganggap legenda Brasil tersebut sebagai pemain terbaik yang pernah ditanganinya sepanjang karier kepelatihan.

Menurut Capello, kemampuan Ronaldo di lapangan hampir tanpa tanding. Namun, kebiasaan sang striker di luar lapangan membuat pelatih asal Italia itu kehilangan kesabaran.

Advertisement

Berbicara dalam acara Milano Football Week, Capello menjelaskan bahwa kualitas Ronaldo selalu berada di level yang berbeda dibanding pemain lain yang pernah ia latih.

"Tanpa ragu, Ronaldo adalah pemain terbaik yang pernah saya tangani. Memang, dia tidak suka berkorban atau berlatih, tetapi dia memiliki kualitas yang tidak pernah saya lihat pada pemain lain. Benar-benar unik," ujar Capello.

Kendati mengagumi kemampuan mantan penyerang Timnas Brasil tersebut, Capello merasa tidak bisa terus menoleransi perilakunya di luar sepak bola.


Capello Kehabisan Kesabaran

6. Fabio Capello (Juli 2006-Juni 2007), 56%, pelatih legendaris Italia itu memiliki persen kemenangan yang kurang baik dibanding pelatih top lainnya. (AFP/Javier Soriano)

Ronaldo, yang mendapat julukan "Il Fenomeno" sejak membela Inter Milan, menikmati periode gemilang bersama Real Madrid setelah meninggalkan Nerazzurri.

Namun, di balik penampilannya di lapangan, Capello menilai kehidupan malam Ronaldo mulai berdampak pada lingkungan tim.

"Ronaldo sangat suka berpesta. Anda bisa mencium bau alkohol dari dirinya di ruang ganti setelah malam-malam seperti itu, dan sering kali dia mengajak beberapa rekan setimnya ikut bersamanya. Saya memaksanya pergi," kata Capello.

Pernyataan itu menjadi satu di antara pengakuan paling blak-blakan Capello mengenai hubungan mereka selama bekerja sama di Santiago Bernabeu.


Berujung ke Milan

Ronaldo Luis Nazario da Lima memperkuat Real Madrid pada tahun 2002-2007. Peraih tiga gelar Pemain Terbaik Dunia ini mempersembahkan gelar La Liga, Piala Interkontinental, dan Piala Super Spanyol. (AFP/Christophe Simon)

Capello juga menceritakan bagaimana keputusannya melepas Ronaldo secara tidak langsung membuka jalan menuju AC Milan.

Saat itu, ia sempat berbicara dengan pemilik Milan, Silvio Berlusconi, mengenai kemungkinan masa depan sang pemain.

"Saya berbicara dengan Berlusconi dan mengatakan bahwa kami akan mengirim Ronaldo ke Arab Saudi. Dia lalu bertanya bagaimana perilaku pemain itu. Saya menjawab bahwa dia suka bersenang-senang dan berpesta," ungkapnya.

"Sehari kemudian saya membaca di surat kabar bahwa Ronaldo akan bergabung dengan Milan."

Transfer tersebut akhirnya benar-benar terjadi pada Januari 2007. Ronaldo kembali ke Stadion San Siro, tetapi kali ini membela AC Milan, rival sekota mantan klubnya, Inter Milan.


Kiprah di Milan

Luiz Ronaldo (kiri) kala membela AC Milan. (AFP/Filippo Monteforte)

Meski kariernya di Milan tidak berlangsung lama, Ronaldo tetap mampu menunjukkan ketajamannya.

Dalam 20 pertandingan resmi bersama Rossoneri, ia mencetak sembilan gol dan menyumbang lima assist.

Setelah meninggalkan Milan, Ronaldo kembali ke Brasil untuk memperkuat Corinthians. Di klub itulah ia menjalani periode terakhir karier profesionalnya sebelum memutuskan pensiun pada Februari 2011.

 

Sumber: Football Italia