Pemain Jepang Dituding Langgar Aturan saat Melawan Belanda, Mantan Wasit FIFA Angkat Bicara

Pemain Timnas Jepang satu ini dituduh melanggar aturan saat menghadapi Belanda, mantan wasit FIFA bereaksi.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 16 Juni 2026, 05:15 WIB
Keito Nakamura #13 dari Timnas Jepang merayakan bersama rekan satu timnya setelah mencetak gol pertama tim pada pertandingan Grup F Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Jepang di Stadion Dallas pada 15 Juni 2026 di Arlington, Texas. (Charlotte Wilson/Getty Images melalui AFP)

Bola.com, Jakarta - Pemain Timnas Jepang, Keito Nakamura, menjadi bahan perbincangan setelah laga melawan Belanda pada Grup F Piala Dunia 2026, Senin (15-6-2026) dini hari WIB.

Winger berusia 25 tahun itu dituduh melanggar aturan perlengkapan pertandingan karena diduga tidak mengenakan pelindung tulang kering saat bermain.

Advertisement

Jepang dan Belanda bermain imbang 2-2 dalam pertandingan yang berlangsung di AT&T Stadium, Texas, Minggu (15/6/2026).

Setelah babak pertama berakhir tanpa gol, pertandingan berubah menjadi lebih terbuka pada paruh kedua. Virgil van Dijk membawa Belanda unggul lebih dulu sebelum Nakamura menyamakan kedudukan beberapa menit kemudian.

Crysencio Summerville kembali membawa Belanda memimpin. Namun, gol Daichi Kamada pada akhir pertandingan memastikan Jepang membawa pulang satu poin.


Foto Nakamura Memicu Perdebatan

Namun, hanya berselang tujuh menit, Jepang mampu mencetak gol balasan yang membuat kedudukan menjadi imbang 1-1. Keito Nakamura menjadi pencetak gol bagi Jepang setelah menerima umpan dari Takefusa Kubo. (AP Photo/Sam Hodde)

Selain hasil pertandingan, perhatian publik tertuju pada foto-foto Nakamura yang beredar luas di media sosial.

Sejumlah penggemar meyakini pemain Jepang tersebut tidak mengenakan pelindung tulang kering atau shin guard saat berada di lapangan.

Perdebatan muncul karena penggunaan shin guard merupakan kewajiban dalam sepak bola profesional.

Menurut Pasal 4.2 Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB), setiap pemain wajib mengenakan pelindung tulang kering yang memenuhi syarat tertentu.

Perlengkapan tersebut harus terbuat dari material yang sesuai, memiliki ukuran yang memadai untuk memberikan perlindungan yang layak, serta tertutup oleh kaus kaki.

Aturan itu juga menegaskan bahwa pemain bertanggung jawab atas ukuran dan kelayakan pelindung yang mereka gunakan.

Kendati IFAB tidak menjelaskan secara terperinci ukuran minimum yang harus dipakai, pelindung tersebut tetap harus mampu memberikan perlindungan yang dianggap wajar bagi pemain.


Mantan Wasit FIFA Angkat Bicara

Gelandang Timnas Jepang #13, Keito Nakamura (kanan), berebut bola dengan penyerang Belanda #24, Crysencio Summerville, selama pertandingan Grup F Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Jepang di Stadion Dallas di Arlington pada 15 Juni 2026. (Aric Becker/AFP)

Mantan wasit FIFA sekaligus eks kepala Professional Game Match Officials Limited (PGMOL), Keith Hackett, ikut memberikan tanggapan setelah foto Nakamura ramai dibahas.

"Shin guard harus dibuat dari material yang sesuai dan memiliki ukuran yang cukup untuk memberikan perlindungan yang layak serta tertutup oleh kaus kaki. Pemain bertanggung jawab atas ukuran dan kelayakan shin guard yang mereka gunakan," kata Hackett.

Sebagian penggemar berpendapat Nakamura sebenarnya tetap mengenakan pelindung tulang kering, tetapi ukurannya sangat kecil sehingga hampir tidak terlihat di balik kaus kaki.

Meski demikian, muncul pertanyaan apakah pelindung berukuran minim tersebut masih dapat dianggap memberikan perlindungan yang memadai.


Tren Pelindung Kecil Jadi Sorotan

Jack Grealish dari Manchester City, kanan depan, berebut bola dengan pemain Brighton Carlos Baleba selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Brighton dan Manchester City di Stadion Falmer di Brighton, Inggris, Kamis, 25 April 2024. (AP Photo/Kin Cheung )

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan shin guard berukuran kecil memang makin sering terlihat di level tertinggi sepak bola.

Satu di antara contoh paling terkenal adalah pemain Everton, Jack Grealish. Gelandang Inggris itu diketahui menggunakan pelindung tulang kering yang ukurannya berada di antara kategori anak-anak besar dan dewasa kecil.

Namun, tren tersebut mendapat kritik dari sejumlah kalangan medis.

Mantan dokter klub Wycombe Wanderers, Bob Sangar, menilai banyak pemain meremehkan risiko cedera serius pada bagian kaki.

"Beberapa sepatu sepak bola modern memiliki pul yang tajam dan mampu merobek kaus kaki, kulit, bahkan otot. Saya pernah melihat cedera yang sangat tidak biasa," ujar Sangar.

"Berkali-kali saya melihat pemain menerima tendangan keras atau tekel dengan pul mengarah ke tulang kering maupun pergelangan kaki, tetapi mereka hanya mengenakan perlindungan yang sangat minim. Mereka tampak tidak menyadari bahwa cedera akibat benturan seperti itu bisa sangat serius," sentilnya.


Contoh Kasus

Reaksi pemain Jepang, Keito Nakamura, setelah kehilangan peluang mencetak gol dalam pertandingan Grup F Piala Dunia melawan Belanda di Arlington, Texas, dekat Dallas, Senin, 15 Juni 2026. (AP Photo/Julio Cortez)

Sangar kemudian mengungkapkan contoh kasus yang pernah ia tangani.

"Tahun lalu kami menjalani pertandingan melawan Bristol Rovers dan salah satu penyerang kami mengalami luka robek yang membutuhkan hampir 30 jahitan. Dia bahkan harus menjalani tindakan bedah plastik. Penyebabnya hanya satu pul sepatu yang menggores sisi luar kakinya," ungkapnya.

Menurut Sangar, perhatian terhadap risiko cedera kaki seharusnya sama besarnya dengan perhatian terhadap gegar otak yang selama ini menjadi fokus utama dunia sepak bola.

"Kami sangat memperhatikan keselamatan pemain terkait gegar otak, tetapi saya tidak mengerti mengapa risiko cedera kaki serius mendapat perhatian yang jauh lebih sedikit."

"Kita tidak akan mengirim tentara ke medan perang tanpa pelindung tubuh. Namun, pesepak bola tetap turun ke lapangan hanya dengan jersey dan celana pendek."

"Situasi seperti ini akan terus terjadi sampai suatu saat muncul insiden yang benar-benar buruk. Saat itulah orang-orang akan sadar bahwa mereka seharusnya bertindak lebih cepat," ujar Sangar.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait