Turki Tersingkir Getir di Piala Dunia 2026, Romantisme 2002 Tetap Jadi Kenangan Terindah

Turki Tersingkir Getir di Piala Dunia 2026, Romantisme 2002 Tetap Jadi Kenangan Terindah

BolaCom | Choki SihotangDiterbitkan 22 Juni 2026, 16:00 WIB
Duel Australia vs Turki ini bisa dibilang berjalan satu arah saja. The Socceroos dipaksa bermain bertahan oleh The Crescent-Stars selama pertandingan berlangsung. (AP Photo/Emma Peterson)

Bola.com, Jakarta - Turki datang ke Piala Dunia 2026 dengan penuh optimisme. Skuad Ay-Yıldızlılar dipenuhi pemain-pemain yang bersinar di kompetisi elite Eropa, ditambah kehadiran pelatih berpengalaman, Vincenzo Montella. Di atas kertas, mereka layak diperhitungkan sebagai salah satu kuda hitam turnamen.

Namun, kenyataan berkata lain. Turki justru menjadi salah satu tim yang paling cepat angkat koper dari Piala Dunia 2026 setelah menelan dua kekalahan beruntun di fase grup.

Advertisement

Padahal, jika melihat kualitas individu para pemainnya, Turki seharusnya mampu melangkah lebih jauh.

Di lini tengah ada Arda Guler, wonderkid berusia 21 tahun yang kini menjadi bagian dari Real Madrid. Bakatnya disebut sebagai salah satu yang paling menjanjikan di Eropa.

Ada pula Hakan Çalhanoğlu, gelandang Inter Milan yang tetap menjadi motor permainan meski telah menginjak usia 32 tahun. Pengalaman dan kualitasnya membuat ia masih menjadi salah satu gelandang terbaik di Serie A.

Turki juga memiliki Kenan Yıldız, penyerang muda Juventus yang baru berusia 21 tahun. Bersama Ferdi Kadıoğlu dari Brighton & Hove Albion serta Barış Alper Yılmaz dari Galatasaray, Ay-Yıldızlılar memiliki materi pemain yang mampu bersaing dengan tim-tim besar.

Tak heran jika banyak pihak memprediksi Turki bisa menjadi kuda hitam di Piala Dunia 2026.


Dominan, tetapi Gagal Mengubah Peluang Menjadi Gol

Duel sengit Turki vs Paraguay di Piala Dunia 2026 (AFP)

Sayangnya, kualitas individu tidak cukup membawa Turki melangkah jauh.

Pada laga perdana Grup D, mereka kalah 0-2 dari Australia. Kekalahan itu terasa menyakitkan karena Turki sebenarnya mendominasi pertandingan.

Mereka menguasai bola hingga 70 persen dan melepaskan 28 tembakan, delapan di antaranya mengarah tepat ke gawang. Namun, tak satu pun berhasil dikonversi menjadi gol.

Sebaliknya, Australia tampil jauh lebih efektif. Nestory Irankunda membuka keunggulan pada menit ke-27 sebelum Connor Metcalfe menggandakan skor pada menit ke-75.

Skenario serupa kembali terjadi saat menghadapi Paraguay.

Turki lagi-lagi menguasai jalannya pertandingan dengan penguasaan bola hampir 80 persen. Mereka juga mencatatkan lima tembakan tepat sasaran, tetapi penyelesaian akhir kembali menjadi masalah utama.

Paraguay justru mencetak gol cepat melalui Matias Galarza ketika pertandingan baru berjalan dua menit. Gol tersebut bertahan hingga akhir laga dan memastikan Turki kembali kalah 0-1.

Dua pertandingan menghadirkan cerita yang sama. Turki unggul dalam penguasaan bola dan jumlah peluang, tetapi gagal tampil efektif di depan gawang.


Montella: Nasib Tidak Berpihak kepada Kami

Wasit Ivan Barton menunjukkan kartu kuning kepada Vincenzo Montella, pelatih kepala Timnas Turki, selama pertandingan Grup D Piala Dunia 2026 antara Turki dan Paraguay di Stadion San Francisco Bay Area pada 20 Juni 2026 di Santa Clara, California. (Richard Heathcote/Getty Images via AFP)

Kegagalan ini terasa semakin pahit karena Turki sempat diharapkan mampu mengulang kisah manis Piala Dunia 2002. Saat itu mereka tampil mengejutkan dengan menembus semifinal sebelum akhirnya finis di posisi ketiga dunia.

Setelah menunggu 24 tahun untuk kembali tampil di putaran final Piala Dunia, harapan besar disematkan kepada Vincenzo Montella. Namun, perjalanan Turki justru berakhir di fase grup.

Meski demikian, Montella menolak menyalahkan para pemain maupun mencari kambing hitam.

"Nasiblah yang tidak berpihak kepada kami," ujar pelatih asal Italia itu, seperti dikutip dari Milli Gazete.


Kecewa

Montella mengaku sangat kecewa dengan hasil yang diraih timnya, tetapi tetap memberikan apresiasi atas kerja keras seluruh pemain.

"Saya sangat sedih. Ada harapan besar terhadap tim ini dan kami juga memiliki harapan yang tinggi. Semua pemain sudah bekerja keras," tuturnya.

Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran pahit bagi Turki. Memiliki skuad bertabur bintang ternyata bukan jaminan meraih hasil maksimal. Di level tertinggi sepak bola dunia, efektivitas dalam memanfaatkan peluang sering kali menjadi faktor yang menentukan nasib sebuah tim.

Berita Terkait