Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Pemain Diaspora, Hampir Seperempat Pemain Mewakili Negara yang Bukan Tempat Kelahiran Mereka

Piala Dunia 2026 Jadi Panggungnya Pemain Diaspora, Hampir Seperempat Pemain Mewakili Negara yang Bukan Tempat Kelahiran Mereka

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 25 Juni 2026, 08:00 WIB
Brace yang dicatatkan Ayari untuk Swedia merupakan momen spesial dalam kariernya di panggung terbesar sepak bola dunia. Namun, ia tetap menaruh hormat kepada negara sang ayah. (AP Photo/Moises Castillo)

Bola.com, Jakarta - Kegemilangan gelandang Timnas Swedia, Yasin Ayari, menjadi salah satu fenomena menarik karena statusnya sebagai pemain berdarah campuran yang sukses tampil mengesankan di Piala Dunia 2026.

Saat mencetak gol pada menit ketujuh ke gawang Tunisia dalam duel pembuka Grup F, Yasin Ayari langsung mengangkat kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf, alih-alih melakukan selebrasi. Ini dilakukan demi menghormati Tunisia, negara asal ayahnya.

Advertisement

Kasus yang dialami Ayari sejatinya bukan sesuatu yang unik lagi di Piala Dunia 2026. Sebab, kejuaraan antarnegara paling akbar ini juga dipenuhi para pemain yang bisa membela banyak negara melalui jalur kelahiran atau garis keturunan leluhur.

Ayari, yang kini merumput di Liga Inggris bersama Brighton & Hove Albion memang punya status yang unik. Saat dia terlahir di Swedia, ayahnya berasal dari Tunisia, sedangkan ibunya merupakan keturunan Maroko.

"Itu adalah pertandingan yang spesial bagi saya, itulah mengapa saya tidak merayakan gol pertama karena saya memiliki perasaan yang mendalam untuk Tunisia. Saya mencintai negara ini," ujar Ayari seperti dikutip dari AFP.


Sudah Jadi Resep Umum

Mencari dan merekrut pemain berkewarganegaraan ganda kini telah menjadi hal yang krusial untuk meraih kesuksesan di panggung global. Sebab, hampir seperempat dari 1.248 pemain yang terpilih untuk Piala Dunia 2026 mewakili negara yang bukan tempat kelahiran mereka.

Empat tahun lalu, Maroko menjadi negara Afrika pertama yang sukses mencapai semifinal Piala Dunia dan menaruh harapan untuk setidaknya bisa menyamai pencapaian tersebut ketika mereka berpartisipasi di edisi 2026 ini

Saat tampil impresif menahan imbang Brasil 1-1 di laga pembuka turnamen, mereka menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang pada satu titik menurunkan sebelas pemain dalam daftar starting eleven yang semuanya lahir di luar negeri.

Berkat pemain-pemain itu pula, tim berjuluk Singa Atlas ini juga mampu melumpuhkan Skotlandia pada partai kedua. Mereka berhasil unggul 1-0 dan kini bertengger di peringkat kedua. Tinggal selangkah lagi ke fase berikutnya.


Cerita Diaspora Curacao

Pemain Timnas Indonesia, Egy Maulana Vikri (kiri) menguasai bola dibayangi pemain Timnas Curacao, Leandro Bacuna dalam laga uji coba FIFA Matchday antara Timnas Indonesia menghadapi Curacao di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/9/2022) malam WIB. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Kisah keberhasilan Curaçao yang akhirnya mentas di panggung Piala Dunia 2026 sebetulnya juga berutang besar pada ikatan yang terjalin antara pulau Karibia berpenduduk 160.000 jiwa tersebut dengan Belanda.

Sebab, dari 26 pemain skuad Curacao, 25 di antaranya lahir di Belanda. Tim berjulukan The Blue Wave ini juga dipimpin oleh eks pelatih Timnas Belanda, Dick Advocaat. Striker Curacao, Jurgen Locadia, menyinggung soal ikatan batin rekan-rekannya dengan negeri kelahiran leluhurnya itu.

"Kami memiliki hati dari tanah air kami. Dan kami telah melewati akademi usia muda Belanda. Itu adalah kombinasi yang bagus," ujar Locadia setelah Curaçao mengejutkan Ekuador untuk mengamankan poin Piala Dunia pertama mereka dengan hasil imbang 0-0.

Leandro Bacuna dan Juninho Bacuna dari Curaçao adalah satu dari tujuh pasang kakak-beradik yang berpartisipasi di Piala Dunia. Sebagai informasi, keduanya sama-sama lahir di Groningen, Belanda, dan memilih memperkuat The Blue Wave.


Main untuk Negara Berbeda

Pemain Timnas Prancis, Desire Doue, Marcus Thuram, Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Lucas Digne dan Rayan Cherki (kiri ke kanan) saat mengikuti sesi latihan di pusat pelatihan New England Revolution di Foxborough, Massachusetts, pada 25 Maret 202. Jelang perhelatan Piala Dunia 2026, Timnas Prancis bertemu Brasil di Stadion Gillette, Foxboro, Amerika Serikat. (Franck FIFE/AFP)

Ikatan paspor ganda hingga darah keturunan leluhur ini pada akhirnya turut merembet kepada pembahasan mengenai nama-nama pemain bersaudara yang kini justru memperkuat negara yang berbeda di Piala Dunia 2026.

Pemain Paris Saint-Germain, Desire Doue, menjadi bagian dari lini serang bertabur bintang Timnas Prancis. Sementara itu, kakaknya, Guela Doue, memilih menjadi bagian dari skuad Timnas Pantai Gading.

Ada pula kakak-beradik yang sama-sama berposisi sebagai bek tengah, yakni John Souttar dan Harry Souttar. Nama yang pertama memilih bermain untuk Skotlandia, sedangkan adiknya memperkuat Timnas Australia.

Adapun striker Athletic Bilbao, Nico Williams, memilih untuk mewakili Timnas Spanyol, sementara sang kakak, Inaki Williams, bermain untuk Ghana. Padahal, keduanya bermain untuk tim yang sama.

 


Kisah Menarik Lainnya

Para pemain Cape Verde merayakan kemenangan setelah pertandingan sepak bola Grup H Piala Dunia antara Spanyol dan Cape Verde di Atlanta, Selasa, 16 Juni 2026. (AP Photo/Erik S. Lesser)

Tanjung Verde telah menjadi kejutan di Piala Dunia 2026, dengan menahan imbang mantan juara dunia Spanyol dan Uruguay di dua pertandingan pertama fase grup. Di jantung pertahanan tim berjuluk Blue Sharks itu, ada Roberto 'Pico' Lopes.

Dia tercatat lahir di Dublin dari seorang ibu asal Irlandia dan ayah asal Tanjung Verde. Lopes kemudian direkrut melalui situs jejaring profesional LinkedIn, tetapi baru berhasil pada percobaan kedua.

Lopes sempat mengabaikan pesan pertama yang dikirim oleh pelatih saat itu, Rui Aguas, sembilan bulan sebelumnya. Karena pesan tersebut dikirim dalam bahasa Portugis, bahasa yang tidak dikuasai oleh bek tengah Shamrock Rovers tersebut.

Nestory Irankunda, yang mencetak gol pembuka Australia dalam kemenangan 2-0 atas Turki, lahir di sebuah kamp pengungsian di Tanzania. Orang tuanya berasal dari Burundi yang melarikan diri dari perang saudara. Kemudian, mereka pindah ke Perth saat pemain sayap Timnas Australia itu masih bayi.

Sumber: Japan News Today, AFP

 

Berita Terkait