Legenda Soroti Mentalitas Jerman usai Tersingkir di Piala Dunia 2026

Jerman kalah adu penalti dari Paraguay di Boston pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Hitzlsperger menilai mentalitas dan rencana cadangan jadi masalah utama.

BolaCom | Gia Yuda PradanaDiterbitkan 30 Juni 2026, 20:12 WIB
Para pemain Timnas Jerman menunjukkan kekecewaan setelah kekalahan mereka melalui adu penalti setelah pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Paraguay di Stadion Boston pada 30 Juni 2026 di Foxborough, Massachusetts. (Alexander Hassenstein/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Jerman harus mengakhiri langkah di Piala Dunia 2026 lebih cepat dari yang diharapkan. Die Mannschaft tumbang dari Paraguay lewat adu penalti pada babak 32 besar yang berlangsung di Boston.

Hasil ini memutus rekor sempurna Jerman dalam adu penalti di Piala Dunia dan menutup kembalinya mereka ke fase gugur sejak terakhir menjadi juara pada 2014. Kekalahan tersebut menjadi pukulan besar bagi tim asuhan Julian Nagelsmann.

Advertisement

Mantan gelandang tim nasional, Thomas Hitzlsperger, menilai ada persoalan mendasar yang belum terjawab. Ia menyebut kualitas individu tetap baik, namun cara menyikapi pertandingan dan daya juang yang dulu jadi identitas kuat Jerman kini menghilang.

Selain aspek mentalitas, Hitzlsperger juga mempertanyakan fleksibilitas taktik Jerman. Ia menyoroti absennya rencana cadangan ketika pendekatan utama tidak berjalan efektif.

Para pemain Jerman tampak lesu di akhir laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Jerman vs Paraguay di Foxborough, Mass., dekat Boston, Senin, 29 Juni 2026. (AP Photo/Petr David Josek)

Tersingkir Lewat Adu Penalti, Rekor Jerman Terputus

Laga kontra Paraguay berjalan ketat hingga babak tambahan waktu. Jerman sempat merasa dirugikan setelah gol sundulan Jonathan Tah dianulir usai tinjauan VAR.

Pertandingan kemudian ditentukan lewat adu penalti, dengan Paraguay menang 4-3. Tim asal Amerika Selatan itu melanjutkan kisah mengejutkan mereka setelah lolos dari fase grup sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.

Paraguay selanjutnya akan menghadapi pemenang pertandingan antara Prancis dan Swedia pada babak 16 besar. Sementara itu, Jerman kembali dihadapkan pada evaluasi besar untuk mengakhiri tren negatif yang terus berlanjut sejak satu dekade terakhir.

Sejak menjuarai Piala Dunia 2014, Jerman belum pernah memenangi satu pun pertandingan fase gugur di turnamen besar. Pencapaian terbaik mereka dalam periode tersebut hanyalah mencapai semifinal Euro 2016.

Pelatih kepala Timnas Jerman, Julian Nagelsmann (kedua dari kiri), bereaksi setelah kalah dalam adu penalti selama pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Paraguay di Stadion Boston di Foxborough pada 30 Juni 2026. (FRANCK FIFE/AFP)

Hitzlsperger Kritik Mentalitas dan Daya Juang

Hitzlsperger menilai Jerman terlalu fokus pada kemampuan menguasai dan mengalirkan bola, sehingga mengabaikan semangat bertarung. "Secara individu, ada pemain-pemain bagus. Namun, pada dasarnya, ada sesuatu yang hilang, yaitu cara mereka menyikapi pertandingan," kata Hitzlsperger kepada BBC.

Ia membandingkan dengan Argentina yang dinilainya selalu menampilkan semangat bertanding tinggi. Menurutnya, tim yang sulit dikalahkan tidak hanya bertumpu pada kualitas teknik, namun juga ketangguhan mental di momen-momen krusial.

Hitzlsperger menambahkan, transisi tanpa bola jadi titik lemah yang mestinya bisa diperbaiki. "Kami terus mengajarkan pemain untuk mengoper bola dengan sangat baik, dan itu bekerja luar biasa pada 2014. Setelah itu, kami terus memainkan umpan-umpan bagus, tetapi kami lupa berjuang sangat keras saat tidak menguasai bola," ujarnya.


Rencana B yang Tak Muncul di Era Nagelsmann

Selain soal mentalitas, Hitzlsperger juga menyoroti kaku-nya pendekatan taktik Jerman. Ia menilai Julian Nagelsmann gagal menghadirkan solusi ketika strategi utama buntu, membuat tim terlalu bergantung pada satu gaya bermain sepanjang laga.

Ia menekankan pentingnya variasi ketika lawan mampu meredam pola yang diterapkan. "Kami fokus pada umpan, umpan, dan umpan. Itu memang terlihat bagus pada beberapa momen, tetapi jika cara itu tidak berhasil, Anda harus memiliki rencana B, dan kami tampaknya tidak cukup baik menjalankan rencana B atau C," katanya.

Hitzlsperger juga tidak sepakat jika filosofi permainan tersebut semata-mata dikaitkan dengan pengaruh Pep Guardiola. Ia menilai banyak pelatih Jerman mengagumi Guardiola, namun tidak semua mampu menerapkan pendekatan yang sama secara sempurna.

Dengan tren negatif yang berlanjut, Jerman dituntut meracik ulang keseimbangan antara kualitas teknik dan ketangguhan mental, sekaligus menajamkan opsi taktik saat rencana awal tidak berjalan. Beban evaluasi kembali mengarah ke Nagelsmann dan skuadnya.

Sumber: The Independent

Berita Terkait