Bola.com, Jakarta - Norwegia menembus babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan tumpuan besar pada Erling Haaland. Ketajaman sang penyerang menjadi faktor pembeda dalam perjalanan Tim Viking di turnamen.
Dari total 10 gol yang dicetak Norwegia sejauh ini, Haaland menyumbang setengahnya. Produktivitas tersebut memperjelas perannya sebagai sumber gol utama.
Dia juga menentukan kemenangan 2-1 atas Pantai Gading pada babak 32 besar. Partai itu menegaskan kapasitasnya sebagai penentu hasil.
Kontras terlihat saat Haaland diistirahatkan pada laga terakhir Grup I melawan Prancis. Norwegia tidak berkutik dan tumbang 1-4.
Norwegia dan Jejak Laju di Piala Dunia 2026
Pencapaian ke 16 besar membuka gambaran jelas tentang pola permainan Norwegia di Piala Dunia 2026. Efektivitas di depan gawang datang terutama dari Haaland, yang telah menyumbang lima dari 10 gol tim.
Contoh paling tegas hadir di babak 32 besar. Haaland mengantar Norwegia melewati Pantai Gading lewat kemenangan 2-1, sebuah hasil yang terikat kuat dengan kontribusinya.
Di sisi lain, performa tim merosot ketika sang striker absen. Ketika dia diistirahatkan pada partai penutup Grup I kontra Prancis, Norwegia kalah 1-4 dan gagal memberi perlawanan sepadan.
Sejauh mana ketergantungan ini bisa mendorong langkah Norwegia menjadi pertanyaan berikutnya. Sejarah mencatat, ada tim yang mampu memaksimalkan satu bintang untuk menembus puncak turnamen.
Dampak Erling Haaland untuk Tim Viking
Haaland dipandang sebagai salah satu penyerang terbaik dunia. Kecepatan, kekuatan, penempatan posisi, dan penyelesaian akhir yang mematikan di kotak penalti membentuk paket lengkap di lini depan.
Kehadirannya memberi dimensi serangan berbeda. Dengan profil seperti itu, tim yang diperkuatnya mampu bersaing pada level tertinggi dan mengubah arah pertandingan dari momen kecil di kotak.
Secara statistik, produktivitasnya untuk Norwegia sudah berada di level elite: 60 gol hanya dari 52 pertandingan. Di level klub, bersama Manchester City, berbagai sejarah Liga Inggris juga telah dipecahkannya.
Dengan catatan seperti ini, tak mengherankan jika ketergantungan Norwegia pada Haaland sangat tinggi. Kemampuan mencetak gol kelas dunia kerap menjadi pembeda antara bertahan atau melaju di fase gugur.
Strategi Bertumpu pada Satu Bintang: Jejak Maradona, Messi, dan Platini
Sejarah sepak bola telah menyajikan contoh negara yang sukses mengandalkan satu figur sentral. Argentina melakukannya pada Piala Dunia 1986 dengan Diego Maradona sebagai pengarah utama di Meksiko.
Maradona bermain di setiap menit setiap pertandingan, mencetak lima gol, dan membuat lima assist. Momen ikoniknya hadir di perempat final melawan Inggris: “Tangan Tuhan” dan aksi yang diakui FIFA sebagai gol terhebat dalam sejarah Piala Dunia.
Di partai puncak, ia memberi assist untuk gol kemenangan Jorge Burruchaga saat Argentina menaklukkan Jerman Barat. Maradona pun meraih Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen.
Argentina kembali menuntaskan misi pada 2022 di Qatar bersama Lionel Messi. Ia mencetak tujuh gol dan tiga assist dalam tujuh pertandingan, termasuk dua di final melawan Prancis.
Messi juga mencetak gol di empat fase babak gugur, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya di Piala Dunia, dan kembali membawa pulang Bola Emas.
Di Eropa, Prancis menjuarai Euro 1984 dengan Michel Platini sebagai poros kreativitas dan penyelesai utama. Ia mencetak sembilan dari 14 gol Les Bleus hanya dalam lima pertandingan.
Platini selalu mencetak gol di setiap laga, termasuk dua hat-trick sempurna saat menghadapi Belgia dan Yugoslavia. Di semifinal melawan Portugal, ia memastikan kemenangan lewat gol pada menit terakhir perpanjangan waktu.
Rangkaian kisah tersebut menunjukkan, bertumpu pada satu bintang bisa menjadi jalan sah menuju prestasi puncak. Bagi Norwegia, efektivitas Erling Haaland sejauh ini sudah menggariskan pola serupa di Piala Dunia 2026.