Piala Dunia 2026: Inggris Desak FIFA Selidiki Aksi Spanduk Malvinas Pemain Timnas Argentina

Inggris mendesak FIFA menyelidiki aksi spanduk 'Las Malvinas son Argentinas' oleh pemain Argentina usai semifinal Piala Dunia 2026; komite disiplin menilai kasu

BolaCom | Harley IkhsanDiterbitkan 17 Juli 2026, 16:50 WIB
Para suporter Argentina di tribune merayakan kemenangan tim mereka atas Swiss dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City, Missouri, Sabtu, 11 Juli 2026. (AP Photo/Charlie Riedel)

Bola.com, Jakarta - Inggris mendesak FIFA menyelidiki Argentina setelah para pemain membentangkan spanduk politik bertuliskan klaim atas Kepulauan Falkland seusai menyingkirkan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. Spanduk yang diserahkan oleh penggemar itu bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Malvinas adalah milik Argentina".

FIFA menyatakan Komite Disiplin independennya tengah mengevaluasi laporan pertandingan dan mempertimbangkan langkah selanjutnya berdasarkan Kode Disipliner FIFA.

Advertisement

Argentina menang 2-1 atas Inggris, dengan gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martínez membalikkan keunggulan awal Anthony Gordon. Hasil tersebut membawa tim Amerika Selatan itu ke final.

Partai puncak Argentina vs Spanyol digelar di MetLife Stadium, Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB.


Desakan Inggris dan Respons FIFA

Gelandang Argentina Giovani Lo Celso menunjukkan spanduk bernuansa politik usai semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris. (AFP/Thomas Coex)

Juru bicara Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan, "Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami." Starmer secara pribadi mendukung seruan agar FIFA melakukan penyelidikan.

Ia menambahkan, "Penentuan nasib sendiri ada pada penduduk pulau dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah."

Sekretaris Bisnis Inggris, Peter Kyle, menyebut perilaku para pemain "sama sekali tidak pantas." Kepada BBC, ia menekankan bahwa "politik harus dipisahkan dari sepak bola," mengingat salah satu prinsip utama Piala Dunia adalah memisahkan politik dari olahraga. Pemimpin Liberal Demokrat Ed Davey bahkan menyerukan agar para pemain Argentina yang terlihat memegang spanduk itu diskors dari final melawan Spanyol.


Potensi Sanksi dan Proses Kode Disipliner FIFA

FIFA dapat menuntut pemain dan federasi sepak bola Argentina karena kode disiplin melarang "pesan yang tidak pantas untuk acara olahraga," termasuk yang bersifat "politik, ideologis, agama, atau ofensif" di stadion.

Denda yang diterapkan FIFA untuk pesan politik berkisar antara US$ 5.000–20.000 dolar Amerika Serikat.

Menurut sumber yang dekat dengan ESPN, Pedro Ivo Almeida, FIFA kemungkinan tidak akan membuat keputusan sebelum final. Secara paralel, komite disiplin independen tetap menelaah laporan pertandingan dan opsi tindak lanjut sesuai Kode Disipliner FIFA.


Sikap Pemerintah Argentina

Presiden Argentina Javier Milei menggambarkan perayaan para pemain dengan spanduk tersebut sebagai "sangat valid" dan menyatakan pesan itu "mencerminkan sentimen yang dibagikan oleh semua orang Argentina."

Milei memperkirakan FIFA akan menjatuhkan sanksi denda kepada tim. "Apa yang dilakukan para pemain dapat dimengerti; mereka terbawa emosi, mereka bertindak impulsif, dan itu kemungkinan akan mengarah pada diskusi tentang denda," kata Milei.

Wakil Presiden Victoria Villarruel menunjukkan dukungan lebih vokal dengan mengunggah foto para pemain yang mengangkat spanduk di media sosial, disertai keterangan, "Malvinas adalah milik Argentina! Mereka melarang kami membawa [tanda] ke stadion, lupa bahwa kami membawanya dalam darah dan hati kami."


Latar Sengketa Falkland dan Preseden di Olahraga

Kepulauan Falkland, yang disebut Argentina sebagai Islas Malvinas, adalah wilayah seberang laut Inggris dengan populasi sekitar 3.500 orang. Letaknya sekitar 13.000 kilometer dari Inggris dan 480 kilometer dari Argentina.

Argentina berpendapat pulau-pulau itu diambil secara ilegal pada tahun 1833. Inggris mengklaim hak teritorialnya berasal dari tahun 1765 dan pada 1833 mengirim kapal perang untuk mengusir pasukan Argentina yang mencoba menegakkan kedaulatan.

Ketegangan memuncak pada 1982 ketika kediktatoran militer Argentina menginvasi, memicu perang 10 minggu yang dimenangkan Inggris. Konflik menewaskan 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, dan tiga penduduk pulau, berakhir selama Piala Dunia 1982 di Spanyol, saat jaringan televisi Inggris menolak menyiarkan laga pembuka Argentina.

Insiden serupa dalam olahraga pernah terjadi. Pada 2014, Argentina didenda FIFA setelah mengangkat spanduk dengan slogan yang sama usai uji coba melawan Slovenia. FIFA juga melarang seorang pemain Korea Selatan dalam dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014 karena memegang spanduk klaim teritorial terhadap Jepang pada Olimpiade London 2012. Baru-baru ini, Rodri dan Álvaro Morata dilarang bermain satu pertandingan oleh UEFA setelah menyanyikan tentang klaim negara mereka atas Gibraltar usai menjuarai Euro 2024.

Berita Terkait