Bienvenido a Madrid ...

Setelah vakum selama 45 tahun, Formula 1 kembali mentas di ibukota Spanyol.

BolaCom | Edu KrisnadefaDiterbitkan 12 September 2026, 08:00 WIB
Pembalap Mercedes asal Italia, Kimi Antonelli, ketika memacu mobilnya di Sirkuit Monza dalam F1 GP Italia, Minggu (6/9/2026). (Andrej ISAKOVIC / AFP)

Bola.com, Jakarta - Setelah Las Vegas (November 2023) banyak yang bertanya-tanya akankah ada lokasi baru untuk pagelaran F1. Jawabannya: Ya di Madrid, ibukota Spanyol. Madring namanya.

Sirkuit Madring memiliki panjang trek 5,4 km, dua terowongan pendek, dan total 22 tikungan, yang paling mencolok adalah La Monumental, sudut terpanjang dibandingkan sirkuit-sirkuit lain pada musim ini—548 meter dengan 24% banking (lekukan) dan tikungan 270 derajat. Salah sedikit, mobil bisa melayang. Wow!

Advertisement

Yang menarik, Madring ibarat tiga jenis sirkuit yang dijahit atau digabung jadi satu. Di sektor pertama karakternya mirip Sirkuit Jeddah dan Baku: sangat kencang, tembok-tembok mepet, dan 800 meter sprint dimana top speed bisa mencapai 340 km/h.

Di sektor kedua, karakternya bak Sirkuit Zandvoort dan Silverstone: tikungan mengalir nan cepat, perubahan ketinggian, dan banking di La Monumental. Sedangkan sektor ketiga berasa seperti Baku dan Miami: agak lambat, tikungan 90 derajat dimana pengereman, traksi, dan rotasi akurat haruslah pas.

Dengan karakteristik di atas, banyak yang bilang bahwa Madring termasuk sirkuit sulit. Dan ini diamini oleh para pembalap. Namun, di sisi lain, mereka senang dengan tantangan di sirkuit anyar ini.

Beberapa bulan lalu, sejumlah pembalap F3 mengetes sirkuit ini. Hasilnya cukup menyeramkan: 19 red flag selama dua hari berturut-turut.

Dengan kata lain, banyak yang nabrak, mengalami kerusakan chassis dan suspense, kemudian gagal finis sehingga beberapa pengamat berujar bahwa Madring adalah “car killer”.

Mercedes Favorit?

Sejauh ini, berdasarkan hasil sesi latihan 1 & 2, tampaknya para punggawa F1 tidak terlalu kesulitan saat menjajal Madring. Di FP1, George Russel (Mercedes) mencatat waktu tercepat (1:34.077).

Rekan setimnya Kimi Antonelli nomor dua dengan selisih 0.286 detik, dan Charles Leclerc (Ferrari) plus rekannya Lewis Hamilton di peringkat ketiga dan keempat dengan selisih 0.459 dan 0.543 detik.

Walaupun Mercedes terlihat lebih cepat, tapi harus diperhatikan bahwa mereka memakai ban soft (lebih kencang), sementara Ferrari menggunakan medium.

Bagaimana dengan FP2? Well, giliran Kimi yang menorehkan waktu tercepat dengan 1:33.662. Ia disusul oleh Leclerc (+0.113) dan Lewis Hamilton (+0.149). Arvid Lindbald, rookie yang mengendarai Racing Bulls secara mengejutkan finis keempat tercepat (+0.228) sebelum menyenggol pembatas akibat kehilangan kendali pasca tikungan La Monumental—red flag perdana di Madring.


Mirip Sirkuit Budapest?

(Dari kiri) Pembalap Mercedes Inggris urutan kedua, George Russell, pembalap Mercedes Italia pemenang, Kimi Antonelli, dan pembalap Belanda pemenang Red Bull Racing, Max Verstappen, berpose di podium Grand Prix F1 Italia di sirkuit Autodromo Nazionale Monza di Monza, Italia utara pada 6 September 2026. (Marco BERTORELLO/AFP)

Pada pertengahan minggu kemarin, Toto Wollf, Team Principal Mercedes, berkomentar bahwa Madring tak sama dengan Monza dan lebih mirip Budapest atau pun Zandvoort. Tapi, bisa saja omongan beliau itu taktik semata—membuat seolah-olah McLaren yang favorit bukan timnya. Nyatanya, sirkuit ini condong Mercedes-friendly.

Madring memang memiliki sektor pertama yang kencang, namun selanjutnya mobil harus mengerem saat di tikungan sembari rotasi, menyerang kerb (garis merah-putih pembatas pinggir jalan), akselerasi lagi, ganti arah, rem lagi, dan seterusnya.

Ini bertolak belakang dengan karakteristik Zandvoort yang memiliki tikungan panjang dan berkesinambungan. W17, mobil yang dikendarai Kimi dan George, terlihat sangat stabil di transisi-transisi Madring.

Jangan lupa, Tim Silver Arrow mengerahkan 3 perubahan aero secara spesifik di Madrid: winglet alias sayap belakang tengah dengan bukaan kecil untuk mengoptimalkan drag (hambatan udara) dan downforce, winglet baru di belakang knalpot, dan bibir drum depan yang dipermak untuk mengubah aliran udara ke bagian belakang mobil pada berbagai sudut kemudi.

Modifikasi ini sangat menarik karena Madring kabarnya memang memiliki rentang input kemudi yang sangat luas.

Kunci sukses di Formula 1, kalau mau dibikin simpel, adalah kombinasi dua faktor: kemampuan pembalap dan kecanggihan mobil. Musim ini Kimi dan Mercedes, memang paling yahud. Tapi, selalu saja ada Faktor X dan paket kejutan. Right?

Berita Terkait