Bola.com, Jakarta - Kai Havertz masih mendapat kepercayaan Mikel Arteta sebagai ujung tombak Arsenal meski Viktor Gyokeres memiliki karakter penyerang tengah yang lebih konvensional. Kekalahan telak 0-3 dari Brighton membuat keputusan tersebut kembali dipertanyakan.
Sebelum pertandingan di Amex Stadium, Arsenal mampu menyapu bersih empat laga pertama Liga Inggris 2026/2027 dengan kemenangan. Havertz selalu dipercaya tampil sejak menit awal dan menyumbang dua gol dalam rangkaian tersebut.
Performa Arsenal kemudian merosot ketika mereka menghadapi Brighton. Havertz melewatkan peluang penting, sementara Gyokeres yang baru dimainkan pada menit ke-73 tidak banyak terlibat dan hanya mencatat enam sentuhan bola.
Hasil itu kembali memunculkan perdebatan mengenai siapa yang seharusnya menjadi penyerang utama Arsenal. Gyokeres punya keunggulan dalam kekuatan fisik dan pergerakan menuju kotak penalti, tetapi Arteta melihat peran Havertz dalam skema tim lebih luas daripada sekadar mencetak gol.
Mengapa Arteta Memilih Havertz?
Peran Havertz dalam sistem Arsenal tidak terbatas pada mencari ruang untuk menerima umpan di depan gawang. Ia juga diminta turun ke area tertentu, membantu sirkulasi bola, memenangkan duel udara, dan menyesuaikan posisinya ketika Arsenal melakukan tekanan.
Arteta menilai kecerdasan Havertz dalam membaca situasi pertandingan sebagai salah satu kelebihan terbesarnya. "Kai sangat cerdas; itu kualitas terbesarnya," kata Arteta.
"Ia memahami permainan. Ia tahu apa yang terjadi, tidak perlu memikirkannya, dia langsung bertindak, dan itu membuat pemain di sekitarnya menjadi lebih baik," lanjut Arteta. Pergerakan tersebut memungkinkan Havertz menciptakan ruang yang kemudian dapat dimanfaatkan Bukayo Saka, Martin Odegaard, maupun pemain Arsenal lainnya.
Gyokeres Punya Senjata Berbeda
Gyokeres menawarkan profil yang berbeda dari Havertz sebagai penyerang. Pemain asal Swedia itu memiliki kekuatan, kemampuan bergerak di kotak penalti, dan kecepatan dalam menyerang ruang yang dapat membantu Arsenal bermain lebih langsung.
Catatan 21 gol dari 55 pertandingan di semua kompetisi pada musim pertamanya menunjukkan kemampuan Gyokeres dalam mencetak gol. Meski demikian, Havertz tetap berada di depan dalam pilihan Arteta ketika keduanya sama-sama tersedia.
Perbedaan karakter tersebut membuat keduanya tidak sepenuhnya dapat dibandingkan hanya berdasarkan jumlah gol. Havertz mampu keluar dari garis pertahanan lawan dan menciptakan ruang bagi rekan setim, sedangkan Gyokeres memberikan ancaman lebih langsung di area penalti.
Brighton Jadi Pengingat untuk Arteta
Kegagalan Arsenal mencetak gol di markas Brighton menjadi ujian terhadap keputusan Arteta mempertahankan Havertz sebagai starter. Sang penyerang tidak mampu memanfaatkan peluang penting yang didapatnya ketika Arsenal kesulitan membongkar pertahanan tuan rumah.
Arteta kemudian memasukkan Gyokeres pada fase akhir pertandingan. Namun, minimnya keterlibatan Gyokeres terlihat dari hanya enam sentuhan bola dalam lebih dari 15 menit berada di lapangan.
Situasi tersebut belum otomatis membuat posisi Havertz tergeser. Di sisi lain, pertandingan melawan Brighton dapat menjadi pertimbangan bagi Arteta untuk memainkan Gyokeres sejak awal ketika Arsenal membutuhkan penyerang dengan pendekatan yang lebih langsung.
Sumber: Sports Mole