Bola.com, Denpasar - Ada kenangan yang tak lekang oleh waktu. Bagi Sami Hyypia, salah satu kenangan tersebut adalah malam di Istanbul pada 2005.
Lebih dari dua dekade berselang, kisah itu masih terus dibicarakan. Bahkan ketika Hyypia datang ke Bali dan bertemu para suporter Liverpool, cerita tentang malam legendaris tersebut kembali mengemuka.
Hyypia hadir dalam agenda meet & greet bersama Natasha Dowie di Kuta, Bali, Sabtu (19/9/2026). Di hadapan para penggemar Liverpool, mantan bek tengah asal Finlandia itu kembali mengenang perjalanan panjangnya bersama The Reds.
Bagi sebagian suporter yang hadir, sosok Hyypia bukan sekadar mantan pemain. Ia adalah bagian dari generasi Liverpool yang pernah menghadirkan banyak cerita, termasuk salah satu final Liga Champions paling dramatis sepanjang sejarah.
"Yang pertama terlintas jika mendengar kata Liverpool FC adalah sejarah klub yang sangat sukses di masa lalu," ujar Hyypia.
Namun, ada satu pertandingan yang selalu memiliki tempat khusus dalam ingatannya.
Malam yang Tak Terlupakan di Istanbul
Final Liga Champions 2004/2005 mempertemukan Liverpool dengan AC Milan di Istanbul. Liverpool berada dalam posisi sulit setelah tertinggal 0-3 pada babak pertama.
Namun, pertandingan kemudian berubah menjadi salah satu comeback paling ikonik dalam sejarah sepak bola Eropa.
Liverpool asuhan Rafael Benitez bangkit dan mencetak tiga gol untuk menyamakan kedudukan. Setelah skor 3-3 bertahan hingga akhir, The Reds akhirnya keluar sebagai juara melalui drama adu penalti.
Hyypia menjadi bagian dari kisah tersebut. Ia berduet dengan Jamie Carragher di jantung pertahanan Liverpool dalam pertandingan yang hingga kini masih dikenang.
Bertahun-tahun kemudian, kenangan itu ternyata tidak hanya melekat di benak Hyypia.
Saat bertemu suporter di Bali, ia menyadari bahwa para penggemar masih mengingat detail pertandingan tersebut.
"Tentu sangat luar biasa bahwa bertahun-tahun setelah pensiun, suporter dan banyak orang lainnya masih mengingat Anda di lapangan atau mengingat pertandingan tertentu," kata Hyypia.
"Seperti saat final Istanbul, bagi saya itu adalah final yang luar biasa dari sudut pandang sepak bola. Kami tertinggal 3-0 di babak pertama, lalu menyamakannya menjadi 3-3 dan akhirnya menang lewat adu penalti."
"Itu adalah pertandingan yang luar biasa dan saya rasa tidak akan ada lagi final seperti itu," tambahnya.
Dari Willem II ke Liverpool
Kisah Sami Hyypia bersama Liverpool dimulai pada musim 1999/2000 ketika The Reds mendatangkannya dari Willem II dengan biaya sekitar 2,5 juta poundsterling atau Rp67,79 miliar.
Transfer tersebut terbukti menjadi salah satu keputusan penting Liverpool. Semusim kemudian, Hyypia menjadi bagian dari tim yang meraih tiga trofi, yakni Piala Liga Inggris, Piala FA, dan Piala UEFA.
Ia tampil dalam 58 dari 63 pertandingan Liverpool musim itu. Salah satu periode paling berkesan terjadi ketika The Reds mengalahkan Arsenal 2-1 di final Piala FA, lalu empat hari kemudian menundukkan Alavés 5-4 lewat golden goal di final Piala UEFA.
"Pada saat itu, menjadi pekan yang sangat luar biasa. Sampai-sampai kami harus menunda pesta perayaan karena masih ada laga krusial di Premier League," kenang Hyypia.
Hyypia kemudian dipercaya menjadi kapten Liverpool sebelum menyerahkan ban tersebut kepada Steven Gerrard pada 2003. Selama 10 musim, ia mencatatkan 464 penampilan, mencetak 35 gol, dan meraih delapan trofi.
Bali dan You'll Never Walk Alone
Cerita Hyypia semakin menarik ketika ia bertemu para penggemar Liverpool di Kuta, Bali. Di Pulau Dewata, kecintaan terhadap The Reds menjadi bukti bahwa identitas klub tersebut telah mendunia.
Salah satu simbol terkuatnya adalah lagu "You'll Never Walk Alone", yang kemudian menjadi anthem Liverpool setelah dipopulerkan Gerry and the Pacemakers pada 1963.
Bagi Hyypia, lagu tersebut memiliki kekuatan untuk menghubungkan klub dengan para suporternya.
"Yang pertama terlintas jika mendengar kata Liverpool FC adalah sejarah klub yang sangat sukses di masa lalu. Namun selain itu, anthem 'You'll Never Walk Alone' yang dinyanyikan sebelum pertandingan sangat familiar bagi banyak orang," ujarnya.
Menurutnya, lagu tersebut membuat suporter merasakan hubungan yang kuat dengan klub.
Di Bali, Hyypia kembali merasakan hubungan itu. Ia mungkin sudah lama meninggalkan lapangan, tetapi kenangan tentang Liverpool, Istanbul, tiga trofi dalam satu musim, dan "You'll Never Walk Alone" masih hidup di tengah para penggemar.