Bola.com, Jakarta - Kylian Mbappe makin terbuka membicarakan peluangnya memenangkan Ballon d'Or untuk pertama kalinya.
Namun, langkah penyerang Real Madrid itu justru mendapat sorotan tajam dari sejumlah pundit sepak bola di Prancis.
Mantan pemain Timnas Prancis, Jerome Rothen, menjadi satu di antara yang paling keras mengkritik cara Mbappe mempromosikan pencalonannya.
Menurutnya, pemain berusia 27 tahun tersebut terlalu agresif dalam membangun kampanye menuju penghargaan individu bergengsi itu.
Mbappe memang tidak pernah menyembunyikan keinginannya meraih Ballon d'Or.
Dalam beberapa pekan terakhir, ia tampil dalam sejumlah wawancara dan secara terbuka menjelaskan pandangannya mengenai kriteria penilaian penghargaan tersebut.
Penekanan Mbappe
Ia berulang kali menekankan pentingnya performa individu dalam menentukan pemenang.
Pandangan itu terus disampaikannya, meski Real Madrid sedang menghadapi sejumlah persoalan dan mengakhiri musim lalu tanpa trofi utama.
Sikap tersebut kemudian ikut menjadi bagian dari perdebatan mengenai pencalonan Mbappe.
Rothen dan komentator RMC, Daniel Riolo, mempertanyakan frekuensi serta waktu kemunculan Mbappe di berbagai media, terutama setelah performanya kurang memuaskan ketika Real Madrid kalah 1-2 dari Atletico Madrid dalam derbi.
Bagi keduanya, persoalannya bukan semata-mata apakah Mbappe pantas memenangkan Ballon d'Or. Cara Mbappe dan tim di sekelilingnya mengampanyekan pencalonannya juga menjadi sorotan.
Kritik Cara Mbappe Berkampanye
Rothen menyampaikan kritik tersebut dalam program "Rothen S'enflamme". Ia menilai kemunculan Mbappe di berbagai media belakangan ini merupakan bagian dari upaya yang sengaja dilakukan untuk memengaruhi pemilih Ballon d'Or.
"Apakah Anda menyadari bahwa saat ini dia mencoba 'membeli suara' untuk Ballon d'Or?" kata Rothen, dikutip dari Sports Mole.
Rothen juga memberikan penilaian keras ketika membahas kemungkinan Mbappe memenangkan penghargaan tersebut.
Ia menilai pemain Real Madrid itu terlihat jauh lebih aktif dalam mempromosikan pencalonannya dibandingkan kandidat tahun-tahun sebelumnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, Mbappe memang muncul di sejumlah media internasional.
Ia juga terus mempertahankan pandangannya bahwa Ballon d'Or semestinya diberikan kepada pemain dengan performa individu terbaik, bukan otomatis kepada pemain yang memperkuat klub dengan kesuksesan kolektif terbesar.
Argumen tersebut menjadi relevan bagi Mbappe karena Real Madrid tidak meraih trofi utama pada musim lalu. Di sisi lain, performa individunya tetap membuatnya berada dalam persaingan Ballon d'Or tahun ini.
Karena itu, kritik Rothen tidak hanya menyasar kelayakan Mbappe sebagai kandidat. Cara sang pemain menyampaikan dan membangun pencalonannya juga menjadi bagian dari perdebatan.
Soroti Wawancara Mbappe
Riolo memiliki pandangan serupa. Ia secara khusus menyoroti wawancara Mbappe dengan stasiun penyiaran Prancis, RFI.
Menurut Riolo, pemilihan RFI menarik perhatian karena media tersebut memiliki jangkauan luas, termasuk di sejumlah negara Afrika.
Ia turut menyoroti proses pengaturan wawancara tersebut. Menurut Riolo, dibutuhkan waktu 17 hari untuk mengaturnya dan wawancara direkam hanya dua hari sebelum derbi Madrid.
Rangkaian tersebut membuat Riolo melihat adanya perencanaan yang lebih terstruktur daripada sekadar aktivitas media biasa.
"Ada strategi besar di baliknya," ujar Riolo, yang menilai terdapat organisasi berskala internasional di balik rangkaian tersebut.
Kritiknya makin tajam setelah Mbappe tampil buruk ketika menghadapi Atletico Madrid.
Dalam pertandingan yang berakhir dengan kekalahan Real Madrid 1-2 itu, Mbappe hanya mencatat 0,02 expected goals (xG) dan satu tembakan yang diblok.
Riolo kemudian menyebut Ballon d'Or sebagai "obsesi" Mbappe saat ini. Ia juga menilai sang pemain terlalu memperhitungkan cara dirinya membangun pencalonan untuk penghargaan tersebut.
Berhasil Memengaruhi?
Meski begitu, rangkaian wawancara Mbappe tidak serta-merta membuktikan seluruh penampilannya di media memang secara khusus ditujukan untuk kelompok pemilih tertentu.
Yang terlihat jelas, aktivitas media Mbappe kini mendapat perhatian lebih besar di Prancis.
Perdebatan mengenai Ballon d'Or memang sedang menyoroti bagaimana pemilih seharusnya menimbang performa individu dan kesuksesan tim.
Lamine Yamal menjadi satu di antara pemain yang sebelumnya ikut membahas kriteria tersebut.
Sementara itu, Mbappe sudah beberapa kali masuk jajaran kandidat teratas Ballon d'Or, tetapi belum pernah memenangkan penghargaan tersebut.
Apakah rangkaian wawancara itu akan memengaruhi pilihan para pemilih masih belum dapat diketahui.
Namun, kampanye Mbappe menuju Ballon d'Or kini telah menjadi perdebatan tersendiri di Prancis, selain performa yang menjadi dasar pencalonannya.
Sumber: Sportsmole