Bola.com, Jakarta - Sejak 1 Oktober 2017, warga Negeri Jiran tak pernah lagi mendengar deru mesin garang mobil-mobil F1. Tapi, akhir pekan ini, dahaga panjang mereka bakal terpuaskan.
Fans Formula 1 di Malaysia tentu tak menyangka bakal ketiban untung. Titel resminya sih bukan Grand Prix Malaysia, tapi “Formula 1 Gulf Air Bahrain Grand Prix in Malaysia”.
Tapi, kalau saya orang Malaysia, it doesn’t matter. Yang penting adalah, setelah absen nyaris satu dekade, balapan paling yahud sejagat balik ke Sepang International Circuit.
Bahrain Grand Prix sebetulnya dijadwalkan pada April 10-12. Namun eskalasi konflik dan situasi di Timur Tengah membuat race tersebut dibatalkan. Yang menarik, gantinya meniadakan seri tersebut di musim ini, FIA, panpel Bahrain, dan Malaysia menjajaki alternatif yang memang akhirnya menjadi win-win solution buat semua pihak: Bahrain tetap menggelar Grand Prix, Malaysia menyediakan sirkuit, kendati tanggalnya berubah menjadi 2-4 Oktober.
Secara logistik, pengorbitan kembali Sepang memang masuk akal. Sirkuit ini masih tergolong Grade 1 di mata FIA dan bisa mengakomodasi balapan F1 tanpa perlu perombakan signifikan ataupun persiapan lama.
Dan, terlebih lagi, Sepang teramat pas dari sisi geografis terkait dengan kalender paruh kedua musim. Baku, Azerbaijan pekan silam, kemudian terus ke sedikit ke Timur di Malaysia saat ini, lantas beranjak ke Singapura di minggu berikutnya. Ini pastinya memangkas dana, lantaran tim-tim tak perlu mengirim personil dan kontainer bolak balik ke Eropa.
Yang menarik lagi, Bahrain tetap menanggung mayoritas biaya untuk menjadi host. Perdana Menteri Anwar Ibrahim, berujar bahwa Malaysia hanya merogoh kocek sekitar 16 juta ringgit untuk perbaikan kecil-kecilan di seputaran sirkuit. Ini tak terlalu banyak dibanding total fee untuk menjadi tuan rumah yang kalau ditotal konon mencapai sedikitnya 300 juta ringgit (sekitar 1.35 triliun rupiah).
Ini tentu menjadi dream scenario bagi Malaysia: mereka bisa meraup keuntungan ekonomi dan promosi F1, tanpa harus membayar biaya selangit untuk menjadi penyelenggara.
Tidak Hambar
Para pembalap sendiri menyambut gembira kabar tentang kembalinya Sepang, biarpun cuma sebagai sirkuit pengganti. Belakangan ini banyak gonjang-ganjing mengenai sirkuit mana saja yang pas dan tidak pas. Madring, misalnya, dihujani kritik lantaran dianggap kurang mengasyikkan bahkan membosankan: nyaris tak ada salip-menyalip, minimal aksi, dan hambar.
Sepang, sebaliknya, termasuk sirkuit modern dengan pelbagai karakter unik. Memiliki panjang 5,543 km, 15 tikungan (sangat lebar di beberapa sudut), dan trek lurus yang panjang, zona pengereman yang besar, high-speed corners, dan sejumlah layout tikungan kontras, sirkuit yang didisain oleh Hermann Tilke ini dijamin bakal menyuguhkan drama.
Tilke adalah designer sirkuit kondang asal Jerman yang, selain Sepang, membidani sirkuit-sirkuit modern macam Sakhir (Bahrain), Shanghai (Cina), Yas Marina (Abu Dhabi), Circuit of the Americas/COTA (Austin, AS), Sochi (Russia), Istanbul Park (Turki).
Ia juga merancang sirkuit jalan raya dan hybrid seperti Baku (Azerbaijan), Marina Bay (Singapura), Valencia (Spanyol), dan Hanoi (Vietnam). Tilke merancang Sepang—terinspirasi oleh “Bunga Raya” alias kembang Hibiscus Merah yang merupakan bunga nasional Malaysia—dari nol, dan kabarnya menjadi blue print bagi sirkuit-sirkuit di atas).
Salah satu ciri khas Sepang adalah sirkuit ini menuntut setelan mobil yang pas untuk kondisi-kondisi kontradiktif. Ada dua trek lurus panjang, jadi mobil harus efisien ketika si pembalap tancap gas. Namun, ada tikungan nomor 5 dan 6 dengan karakter medium/high speed dimana stabilitas aero dan downforce juga harus dijaga.
Plus, ada tikungan pengereman tajam di tikungan 1, 9 dan 15. So, para engineers tak bisa hanya sekedar mencopot wing, misalnya, guna menggeber kecepatan di trek lurus karena mobil akan kelabakan di sektor-sektor medium. Sebaliknya, kalau downforce ditambah, mobil akan lambat dan kurang bersaing di trek-trek lurus.
Antusias Para Pembalap
Tak heran para pembalap sangat antusias untuk berlomba di Sepang. Mayoritas dari mereke memang belum pernah mentas di sana, termasuk pimpinan klasemen Kimi Antonelli. Namun, buat mereka yang pernah, rata-rata berkomentar positif. “Trek di sini mantap sekali. Awesome!” ucap Lewis Hamilton.
“Ini sirkuit yang memang betul-betul untuk good racing. Fisik bakal terkuras dan secara mental pun harus prima.” Jangan lupa, Lewis punya rekor bagus disini. Ia 11 kali berlaga di Sepang, juara pada 2014, dan memiliki rekor pole position paling sering (5 kali), menyamai pembalap legendari Ferrari, Michael Schumacher.
Fernando Alonso, sosok paling veteran, juga kabarnya tak sabar untuk melaju di sini. Ia menyebut kesempatan untuk kembali mentas di Sepang sebagai “a golden ticket.” Max Verstappen, jawara terakhir di sana (2017), menandaskan bahwa bahwa Sepang adalah salah satu trek yahud di kalender, dan secara khusus menggarisbawahi faktor-faktor seperti cuaca panas dan degradasi ban sebagai kondisi khas yang mesti diatasi.
Faktor X: Cuaca
Nah, ini dia. Terus terang saya agak risih untuk memprediksi kandidat juara lantaran faktor cuaca, terlebih hujan, bisa saja membuat strategi tim, setelan mobil, dan kehebatan pembalap menjadi tak menentu. Kombinasi dari suhu udara sekitar 30 derajat Celcius, kelembaban tinggi, permukaan sirkuit yang abrasive, dan hujan deras akan berimbas pada mesin, ban, dan terlebih sang pembalap.
Pirelli sendiri, selaku penyedia ban, sudah memprediksi degradasi. Oscar Piastri mengeluhkan aspal sirkuit yang bak “kertas pasir”. Artinya, manajemen ban alias pit beberapa kali bakal tak terelakkan dan tim harus fleksibel dalam hal gonta-ganti strategi.
Saya sempat menelpon sepupu saya yang memang bekerja dan menetap di Kuala Lumpur dan beliau mengkonfirmasi bahwa belakangan ini hujun turun hampir saban sore. Ia juga menginformasikan bahwa ramalan cuaca untuk race day, Ahad ini, adalah 75 persen ihujan.
Anyways, hujan deras, semisal yang terjadi pada Malaysian Grand Prix 2012 ataupun 2009—yang memaksa lomba dihentikan lebih awal gara-gara banjir—membuat Sepang kerap unpredictable. Yang sudah bisa diprediksi, saya rasa, cuma satu: banjir rejeki bagi bisnis parawisata, mulai dari maskapai penerbangan, bandara KLIA, restaurant, taxi/Grab, ritel, mall, objek wisata, local business, dll.
Beberapa minggu lalu kantor berita Bernama merilis proyeksi bahwa pemasukan dari wisatawan pekan ini bakal mencapai 500 juta ringgit, dan secara keseluruhan event F1 Sepang bakal meraup setidaknya 1 juta milyar ringgit dari seluruh kegiatan ekonomi terkait. Wow! Ini baru prediksi, tapi luar biasa andaikan angka-angka tersebut memang bisa dicapai, terlebih mengingat persiapa mereka cuma dua bulan.
Malaysia boleh!