Akhirnya Gianni Infantino Punya Penantang, Mantan Bek Tottenham Maju di Pemilihan Presiden FIFA

Ramon Vega, mantan bek Swiss dan Tottenham Hotspur, mengumumkan ia akan mencalonkan diri melawan Gianni Infantino dalam pemilihan presiden FIFA tahun depan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 08 Oktober 2026, 12:30 WIB
Ilustrasi Gianni Infantino, Presiden FIFA. (Bola.com/AI)

Bola.com, Jakarta - Mantan bek Timnas Swiss dan Tottenham, Ramon Vega, menyatakan siap menantang Gianni Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2027.

Pria berusia 55 tahun itu menjadi kandidat pertama yang secara terbuka mengumumkan niatnya menghadapi sang petahana.

Advertisement

Vega bukan kali pertama mencoba masuk persaingan perebutan kursi tertinggi FIFA. Ia sempat mempertimbangkan pencalonan pada 2015 setelah Sepp Blatter mundur, kemudian kembali mencoba maju pada 2022.

Namun, ketika itu ia tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk masuk daftar kandidat.

Kini, Vega membutuhkan dukungan minimal lima dari 211 federasi anggota FIFA agar pencalonannya dapat diproses.


Alasan Mencalonkan Diri

Jordi Cruyff dari Manchester United (depan) dan Ramon Vega dari Tottenham Hotspur berebut bola dalam pertandingan di White Hart Lane, London, pada 10 Agustus. Manchester United memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 2-0, yang menempatkan mereka di puncak klasemen Premier League setelah pekan pembuka musim kompetisi. (ADRIAN DENNIS/AFP)

Mantan pemain Grasshoppers, Cagliari, Watford, dan Celtic tersebut menyebut keputusan maju tidak terlepas dari perjalanan hidupnya. Setelah pensiun sebagai pesepak bola, Vega berkarier di bidang keuangan.

"Saya mencalonkan diri karena perjalanan hidup saya telah mempersiapkan saya untuk mengabdi kepada sepak bola. Saya percaya memiliki tugas dan tanggung jawab sosial untuk melindungi serta membela sepak bola, integritasnya, orang-orang di dalamnya, dan masa depannya," tulis Vega dalam dokumen pencalonannya.

Ia juga menyoroti rusaknya kepercayaan terhadap FIFA dan hubungan di antara keluarga sepak bola dunia. Vega ingin mengembalikan kredibilitas organisasi tersebut sekaligus mengakhiri perpecahan yang terjadi.

"Kepercayaan dan keyakinan di seluruh keluarga sepak bola telah rusak parah. Kita harus membangun kembali keduanya, memulihkan kredibilitas FIFA, dan menyatukan kembali keluarga sepak bola dunia," lanjutnya.


Sorotan Vega

Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Pernyataan tersebut muncul ketika posisi Infantino sedang mendapat tekanan. Presiden Italia-Swiss itu tetap berencana mencalonkan diri untuk periode ketiga, meski UEFA secara terbuka menginginkan dirinya mundur.

Infantino juga menghadapi sorotan setelah membatalkan FIFA Forward Enterprise (FFE), proyek yang sebelumnya dirancang untuk menjual sebagian kecil kepemilikan bisnis komersial dan operasional acara FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri, kepada investor swasta.

Dalam dokumen yang sama, Vega menilai persoalan FIFA tidak berhenti pada perbedaan kepentingan.

Ia menyebut tata kelola yang lemah telah mengikis kepercayaan terhadap organisasi tersebut.

"Kepemimpinan saat ini telah membuat sepak bola kehilangan semangat. Tata kelola yang lemah merusak kredibilitas FIFA dan mengikis kepercayaan di seluruh keluarga sepak bola dunia. Kita harus menghentikan konflik ini agar tidak makin besar," tulisnya.


Vega Inginkan Perubahan

Ilustrasi FIFA. (AFP/Sebastien Bozon)

Vega menegaskan konflik di level administrasi tidak semestinya berdampak kepada pemain, pelatih, wasit, dan suporter yang tidak terlibat dalam perselisihan tersebut.

"Sepak bola berada di ruang gawat darurat, dalam kondisi kritis. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. FIFA membutuhkan arah baru dan reformasi mendasar," tegas Vega.

Ia menginginkan perubahan yang menurutnya tidak sekadar bersifat kosmetik, melainkan mencakup reformasi tata kelola, stabilitas, pemulihan kepercayaan, serta upaya menyatukan kembali keluarga sepak bola dunia.

Infantino telah menjadi Presiden FIFA sejak 2016 setelah menggantikan Sepp Blatter.

Ia kemudian terpilih kembali tanpa lawan pada 2019 dan 2023, sebelum menyatakan keinginannya untuk kembali maju dalam pemilihan 2027.


Peluang Ramon Vega Dinilai Sangat Tipis

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara selama resepsi FIFA di Trump Tower di New York pada 17 Juli 2026. (Mandel NGAN/AFP)

Jurnalis The Athletic, Matt Slater, menilai Vega memiliki sejumlah modal untuk mencalonkan diri, tetapi hampir tidak memiliki basis kekuatan yang dibutuhkan untuk mengalahkan Infantino.

Vega pernah bermain di klub-klub besar dan liga utama, menguasai sekitar enam bahasa, serta memiliki pengalaman di dunia bisnis sepak bola dan keuangan.

Menurut Slater, latar belakang tersebut juga tidak jauh berbeda dengan profil yang dimiliki Blatter dan Infantino sebelum mereka memimpin FIFA.

Namun, Slater menilai persoalan Vega terletak pada minimnya jaringan kekuasaan di antara konfederasi.

Ia tidak menghabiskan bertahun-tahun membangun pengaruh di salah satu konfederasi, tidak memiliki basis dukungan yang kuat, dan tidak cukup terkenal untuk melewati hambatan tersebut.

Itulah mengapa, Slater menilai peluang Vega untuk memenangkan pemilihan sangat kecil.

Menurutnya, jika posisi Infantino benar-benar terancam, kemungkinan besar akan ada lebih banyak tokoh yang berani maju untuk menantangnya.

 

Sumber: The Athletic via NY Times