Bola.com, Jakarta - F1 akan menggelar GP Singapura 2026 dalam kondisi panas ekstrem. FIA resmi menetapkan balapan di Marina Bay Street Circuit berstatus heat hazard, mengingat potensi cuaca yang dinilai berisiko bagi pembalap.
Prakiraan menunjukkan indeks panas diperkirakan menembus lebih dari 31 derajat Celsius sepanjang akhir pekan lomba, dengan suhu yang berpotensi mencapai 33 derajat Celsius. Penetapan ini ditujukan untuk mengurangi risiko heat stress di dalam kokpit.
Keputusan tersebut menjadikan GP Singapura 2026 sebagai balapan keenam dalam sejarah F1 yang menerima deklarasi heat hazard. Sebelumnya, status serupa berlaku di GP Singapura dan GP Amerika Serikat pada 2025, serta GP Austria, GP Italia, dan GP Bahrain pada 2026.
Kewajiban Driver Cooling System di Mobil
Salah satu konsekuensi utama dari status heat hazard adalah kewajiban tim memasang perangkat Driver Cooling System pada mobil. Aturan ini dirancang untuk memastikan ketersediaan pendinginan yang memadai bagi pembalap saat berlomba.
Sistem bekerja melalui rompi pendingin yang terhubung ke sirkulasi cairan. Cairan dialirkan ke bagian dalam pakaian balap tahan api, membantu menurunkan suhu tubuh pembalap selama stint panjang dan periode suhu kokpit yang tinggi.
Meski demikian, pemakaian rompi pendingin bersifat opsional. Pembalap yang memilih tidak mengenakannya tetap wajib membawa perangkat sistem pendingin di mobil dan mendapatkan kompensasi berupa ballast tambahan agar tidak memperoleh keuntungan dari sisi bobot kendaraan.
Untuk mengakomodasi perangkat tersebut, regulasi F1 juga menaikkan batas minimum bobot mobil sebesar lima kilogram.
Keterbatasan dan Respons Pembalap
Meski berorientasi pada keselamatan, sistem pendingin ini belum sepenuhnya sempurna. Sejumlah aspek teknis dan ergonomi menjadi perhatian dalam penerapannya.
Rompi pendingin dapat memengaruhi kenyamanan pembalap. Sistem menggunakan cairan seperti glikol yang dialirkan melalui tangki berisi es kering sebelum dialirkan ke pakaian balap, sehingga kualitas pendinginan sangat bergantung pada ketersediaan media pendingin tersebut.
Jika persediaan es kering habis, efektivitas pendinginan bisa menurun karena cairan yang bersirkulasi berpotensi mencapai suhu lebih tinggi. Kondisi ini dapat berdampak pada konsistensi performa pendinginan sepanjang lomba.
Respons pembalap pun beragam. George Russell memberikan penilaian positif setelah memakainya pada GP Singapura 2025, menyebut sistem sangat membantu saat menghadapi kelembapan tinggi dan suhu kokpit yang panas. Sebaliknya, Max Verstappen sebelumnya menilai rompi pendingin kurang nyaman dan memiliki sejumlah masalah dalam penggunaannya.
Pelajaran Qatar 2023 dan Aturan 2026
Penerapan heat hazard tak lepas dari pengalaman di GP Qatar 2023. Saat itu, kombinasi panas dan kelembapan ekstrem membuat banyak pembalap mengalami kesulitan sepanjang balapan.
Esteban Ocon sempat mengalami masalah fisik di dalam kokpit, sementara Logan Sargeant tidak mampu menyelesaikan lomba karena kondisi yang dihadapinya. Peristiwa tersebut memicu evaluasi menyeluruh tentang mitigasi risiko panas di F1.
Hasilnya, FIA memperkenalkan aturan heat hazard sebagai langkah untuk meningkatkan perlindungan terhadap pembalap ketika balapan dihelat dalam kondisi cuaca ekstrem. Kerangka regulasi ini terus disempurnakan untuk menjawab tantangan operasional tim di lintasan panas.
Pada regulasi 2026, FIA memberikan fleksibilitas lebih besar: status heat hazard dapat diberlakukan terpisah untuk sesi sprint dan balapan utama bila kondisi cuaca mengharuskannya. Deklarasi bisa ditetapkan 24 jam sebelum kompetisi dimulai.
Dengan panas yang diperkirakan menyelimuti Singapura, kebugaran pembalap bakal menjadi fokus utama sepanjang akhir pekan GP Singapura 2026, berdampingan dengan kesiapan teknis sistem pendingin yang wajib tersedia.