3 Masalah Liverpool setelah Pesta 6 Gol di Liga Champions, Iraola Harus Segera Berbenah

3 Masalah Liverpool Meski Pesta 6 Gol di Liga Champions, Iraola Harus Segera Berbenah

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 18 Oktober 2026, 05:00 WIB
Manajer Liverpool, Andoni Iraola, memberikan instruksi dari pinggir lapangan saat laga Premier League antara Newcastle United dan Liverpool di St James' Park, Newcastle, 23 Agustus 2026. (Paul Ellis / AFP)

Bola.com, Jakarta - Liverpool meraih kemenangan meyakinkan 6-3 atas LASK pada lanjutan Liga Champions. Namun, hasil tersebut belum sepenuhnya menutupi dua persoalan yang masih menghantui tim asuhan Andoni Iraola, yakni efektivitas serangan menghadapi pertahanan rapat dan rapuhnya lini belakang.

Kemenangan di Austria itu menjadi respons positif setelah Liverpool kalah 0-3 dari Manchester City pada pekan sebelumnya. Bradley Barcola mencetak hattrick pertamanya bersama The Reds, sementara Florian Wirtz juga menunjukkan kontribusi penting.

Advertisement

Liverpool mencatatkan 26 tembakan dengan nilai expected goals (xG) sebesar 3,34. Namun, dominasi tersebut belum menjamin mereka mampu tampil sama tajamnya saat menghadapi lawan yang bertahan lebih disiplin di Premier League.


1. Serangan Liverpool Masih Bergantung pada Ruang

Bek asal Belanda yang bermain untuk Liverpool, #30 Jeremie Frimpong, merayakan gol keempat (0-4) bersama rekan-rekan setimnya—termasuk gelandang asal Belanda #38 Ryan Gravenberch, gelandang asal Jerman #07 Florian Wirtz, dan gelandang asal Prancis #29 Bradley Barcola—dalam pertandingan Liga Champions UEFA antara LASK dan Liverpool FC di Linz, Austria, pada 14 Oktober 2026. (Branislav Racko/AFP)

Gaya bermain Iraola mengandalkan pressing tinggi dan perebutan bola secepat mungkin. Strategi tersebut efektif ketika lawan meninggalkan ruang, tetapi Liverpool masih perlu meningkatkan kreativitas saat menghadapi pertahanan yang rapat.

Florian Wirtz menjadi salah satu pemain kunci untuk mengatasi persoalan tersebut. Gelandang asal Jerman itu memperlihatkan kualitasnya ketika memberikan umpan terukur kepada Barcola untuk mencetak gol keduanya ke gawang LASK.

Namun, Liverpool membutuhkan pergerakan pemain yang lebih terkoordinasi agar Wirtz tidak terisolasi di antara lini tengah lawan. Absennya Alexander Isak akibat cedera paha juga memengaruhi pilihan Iraola di lini depan.

Lewis Koumas tampil menjanjikan, tetapi Liverpool tetap membutuhkan variasi serangan agar tidak bergantung pada ruang yang diberikan lawan.


Lini Belakang Mudah Ditembus

Pemain Liverpool, Virgil van Dijk (tengah), memasuki lapangan dalam pertandingan babak awal Liga Champions antara LASK dan Liverpool di Linz, Austria, Rabu, 14 Oktober 2026. (Foto AP/Denes Erdos)

Persoalan lainnya adalah pertahanan. Liverpool sudah kebobolan 12 gol dalam sembilan pertandingan Premier League. Bahkan, LASK mampu mencetak tiga gol meski sempat tertinggal 0-4 pada awal babak kedua.

Liverpool kerap mengambil risiko dengan mendorong bek sayap ke depan dan menekan lawan secara agresif. Ketika tekanan pertama berhasil dilewati, ruang di antara lini tengah dan pertahanan terbuka sehingga lawan memiliki kesempatan untuk menyerang.

Iraola perlu menemukan keseimbangan antara pressing dan perlindungan terhadap lini belakang. Salah satu opsi ialah menempatkan gelandang lebih dalam ketika kedua bek sayap maju, sekaligus sesekali menggunakan blok pertahanan yang lebih rapat.

 


Masalah Kebugaran

Striker Liverpool asal Inggris #67, Lewis Koumas (kanan), merayakan gol 1-6 bersama rekan setimnya gelandang Prancis Liverpool #29, Bradley Barcola, selama pertandingan Liga Champions UEFA antara LASK dan Liverpool FC di Linz, Austria pada 14 Oktober 2026. (Branislav Racko/AFP)

Liverpool juga menghadapi persoalan kebugaran sejumlah pemain. Conor Bradley belum tersedia, Dominik Szoboszlai mengalami masalah hamstring, sedangkan Ryan Gravenberch harus menjalani hukuman setelah mendapat kartu merah saat menghadapi Manchester City.

Tantangan berikutnya datang dari Brentford dalam lanjutan Premier League. Laga tersebut akan menjadi ujian bagi Liverpool untuk membuktikan bahwa ketajaman di Liga Champions bisa berlanjut ke kompetisi domestik, sekaligus memperbaiki kelemahan pertahanan mereka.

Sumber: Sportsmole

Berita Terkait