Rodriguez Bersaudara: Legenda Motorsport Meksiko

Kisah Pedro dan Ricardo Rodriguez yang memadukan bakat luar biasa, kebanggaan nasional, dan tragedi memilukan. 

BolaCom | Edu KrisnadefaDiterbitkan 31 Oktober 2026, 14:37 WIB
Pebalap F1 dari tim Red Bull, Max Verstappen, saat menjalani latihan bebas kedua jelang F1 GP Bahrain 2026 yang digelar di Sirkuit Sepang, Malaysia, Jumat (2/10/2026). (AP Photo/Aijaz Rahi)

Bola.com, Jakarta - Akhir pekan ini, sirkus Formula 1 berpindah ke ibukota Meksiko, tepatnya di Autodromo Hermanos Rodriguez di Mexico City alias F1 GP Meksiko. Saya agak penasaran dengan nama trek yang kedengaran keren itu.

Ternyata, ada alasan kuat kenapa sirkuit tertinggi di F1 itu—sekitar 2300 meter di atas permukaan laut—dinamai Hermano Rodriguez alias Rodriguez bersaudara.

Advertisement

Nama ini rupanya diberikan untuk menghormati Pedro dan Ricardo Rodriguez, dua pembalap kondang asal Meksiko yang secara tragis tewas dalam kecelakaan balap di usia muda.

Saya akan ulas pertama-tama tentang Ricardo, yang sempat dijuluki “Anak Ajaib”. Ricardo dua tahun lebih muda dari abangnya, namun ia lebih dulu mentas di ajang Formula 1.

Baru menginjak 19 tahun, ia sudah melakukan debut dengan Ferrari di Grand Prix Italia (Monza) pada 1961 dan mencatat waktu terbaik kedua saat kualifikasi, hanya terpaut sepuluh detik dari pole-sitter.

Ketika itu ia menjadi pembalap termuda di Formula 1. Pencapaian terbaiknya di F1 adalah finis di posisi keempat pada GP Belgia 1962.

Sebelumnya, Ricardo menyabet titel runner-up di Le Mans pada 1960, ketika masih berusia 18 tahun, dan juga menjuarai Targa Florio 1962, balapan jalan raya yang menantang di Sisilia, Italia.

Prestasinya tersebut kemudian membuat banyak orang memprediksi bahwa Ricardo bakal jadi juara dunia F1. Namun, karier balap nya ternyata tak panjang. Pada GP Meksiko 1962, ia sebetulnya tidak dijadwalkan tampil lantaran timnya, Ferrari, absen.

Tapi, lantaran tak ingin melewatkan kesempatan manggung di depan publik sendiri, ia tampil dengan mobil Lotus—waktu itu tim privat masih bisa ikutan di F1.

Tak ada yang menyangka ia meninggal dunia saat mengalami kecelakaan pada sesi latihan di tikungan cepat Peraltada. Penyebab kecelakaan tersebut masih jadi perdebatan hingga saat ini.

Pembalap Inggris Tim F1 Haas, Oliver Bearman, merayakan keberhasilannya meraih posisi keempat dalam Grand Prix Formula Satu Mexico City di sirkuit Hermanos Rodriguez, Mexico City, pada 26 Oktober 2025. (Alfredo ESTRELLA/POOL/AFP)

Pedro: Sang Pemenang Sejati

Pedro mulai berkompetisi di F1 pada 1963, setahun pasca wafatnya Ricardo. Ia mencatat sejarah dengan menjadi pembalap Meksiko pertama yang menjuarai Grand Prix Formula 1, bukan hanya satu tapi dua.

Titel pertama diraih di GP Afrika Selatan (Kyalami) pada 1967 dengan mengendarai Cooper-Maserati, sementara gelar kedua di didapat di GP Belgia (Spa-Francorchamps) 1970 dengan tim BRM.

Kemenangan di Spa diraih di sirkuit lama/original dengan panjang 14,1 km. Di sana Pedro naik podium nomor satu dengan selisih waktu 1.1 detik dari runner-up Chris Amon.

Reputasi harum bukan cuma di ajang F1. Ia juga menjadi kampiun di 24 Hours Le Man 1968 bersama Lucien Bianchi (Ford GT40). Ia juga salah satu pembalap utama untuk mobil Porsche 917.

Tampil sangat impresif dalam kondisi hujan, ia memenangi Brands Hatch 1970 dan unggul lima lap atas pembalap lain.

Pedro, sayangnya, bertakdir sama dengan abangnya. Ia pun tewas di sirkuit ketika berlomba di Norisring, Jerman pada Juli 1971 saat berusia masih 31 tahun.

Ricardo dan Pedro adalah legenda, tak hanya buat warga Meksiko, tapi fans balap global waktu itu. Kakak-beradik ini membuktikan bahwa pembalap Meksiko bisa mematahkan hegemoni Eropa dan bersaing dengan para pembalap terbaik di dunia.

Mereka berandil dalam membangun identitas balap internasional di Meksiko dan menginspirasi generasi berikut, macam Sergio “Checo” Perez.

Muy bien!!

Barry B. Manembu

Kolumnis F1

Berita Terkait