Okto Tegaskan Keselamatan di Atas Segalanya, KOI Ucap Duka atas Wafatnya Dua Atlet di Porprov Jawa Tengah 2026

KOI berduka atas wafatnya dua atlet di Porprov XVII Jateng 2026. Okto menegaskan: "Tidak ada medali yang sebanding dengan nyawa."

BolaCom | ThomasDiterbitkan 03 November 2026, 16:39 WIB
Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Okto Hari (Dok NOC)

Bola.com, Jakarta - Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya dua atlet muda dalam rangkaian penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan dan perlindungan atlet harus selalu menjadi prioritas di setiap kompetisi.

Dua atlet yang meninggal dunia adalah Syabilla Rizkia Putri Raharja, atlet selam asal Kabupaten Jepara, dan Ayudiah Rivana Tridiandinita, atlet pencak silat asal Kota Semarang. Keduanya tercatat dalam rangkaian penyelenggaraan ajang provinsi tersebut.

Advertisement

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Atas nama keluarga besar NOC Indonesia, saya menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya atas berpulangnya Syabilla dan Ayudiah. Kita kehilangan dua atlet muda yang memiliki harapan dan masa depan besar di dunia olahraga," ujar Okto dalam keterangan resminya, Selasa (3/11/2026).

Lebih dari sekadar menyampaikan belasungkawa, NOC Indonesia menegaskan peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional; menurut Okto, keselamatan, perlindungan, dan kesejahteraan atlet harus menjadi fondasi utama dan tidak boleh dikesampingkan demi mengejar prestasi maupun keberhasilan penyelenggaraan kompetisi. "Duka ini harus menjadi momentum evaluasi dan perbaikan nyata. Keselamatan atlet tidak boleh hanya menjadi komitmen di atas kertas," tegasnya.


NOC Indonesia Perkuat Komitmen Perlindungan Atlet

Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Okto Hari. (NOC Indonesia/Naif Al’as)

Komitmen terhadap keselamatan atlet juga menjadi bagian dari kebijakan NOC Indonesia melalui pendekatan Safeguarding. Langkah ini bertujuan menciptakan lingkungan olahraga yang aman, inklusif, dan bermartabat.

Melalui pendekatan tersebut, NOC Indonesia mendorong perlindungan atlet dari berbagai bentuk kekerasan, pelecehan, eksploitasi, hingga diskriminasi. Upaya itu diwujudkan melalui edukasi dan pendampingan sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi dalam menjaga nilai-nilai Olimpiade, menjunjung tinggi prinsip fair play, serta membangun ekosistem olahraga yang aman dan nyaman bagi seluruh atlet.

Okto menegaskan, keberhasilan sebuah kompetisi tidak semestinya hanya dinilai dari jumlah medali atau prestasi semata. "Tidak ada medali yang sebanding dengan hilangnya nyawa seorang atlet. Keberhasilan kompetisi bukan hanya diukur dari prestasi, tetapi juga dari kemampuan kita memastikan setiap atlet bertanding dalam lingkungan yang aman, nyaman, terlindungi, dan menjunjung tinggi nilai sportivitas," lanjut Okto.

Dia pun berharap kepergian Syabilla dan Ayudiah menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk lebih serius memperhatikan aspek keselamatan dalam dunia olahraga Indonesia.

"Jangan biarkan kepergian Syabilla dan Ayudiah berlalu tanpa makna. Kita harus memastikan keselamatan dan perlindungan atlet menjadi komitmen bersama yang tidak dapat ditawar. Tugas olahraga bukan semata-mata mencetak juara, tetapi juga menjaga, melindungi, dan menghargai setiap kehidupan atlet," tutup Okto.

Berita Terkait