Sukses


Analisis Per Lini Setelah Timnas Indonesia U-19 Mengalahkan Qatar

Bola.com, Makassar - Timnas Indonesia U-19 meraih kemenangan perdana pada laga uji coba di Qatar dengan mengalahkan timnas Qatar U-19, 2-1 di Stadion SRC Mladost, Cakovec, Kamis (17/9) malam WIB.

Di mata Pelatih Persipura U-20, Tony Ho, hasil ini memang pantas diraih skuad asuhan Shin Tae-yong. Tony punya dua alasan terkait hal itu. Pertama, secara umum penampilan Timnas Indonesia U-19 menunjukkan progres membaik.

Kedua, kualitas Qatar U-19 tidak sebaik tiga lawan yang sudah dihadapi sebelumnya yakni Bulgaria U-19, Kroasia U-19 dan Arab Saudi U-19. Itulah mengapa penampilan David Maulana dan kawan-kawan bisa tampil lepas.

"Saya berharap Timnas U-19 jangan cepat berpuas diri. Karena, sejatinya kita masih menyimpan banyak kelemahan. Terutama koordinasi lini belakang. Beruntung striker yang dimiliki Qatar tidak sebaik lawan sebelumnya," kata Tony Ho kepada Bola.com, Jumat (18/9/2020).

Tony menunjuk striker Qatar, Mohammed Ali Surag yang berpostur kecil dan gampang kehilangan bola. Alhasil, serangan Qatar U-19 yang mengandalkan umpan silang dari sisi sayap tidak optimal.

"Situasi ini menguntungkan timnas U-19. Kalau striker Qatar jeli, mereka bisa memanfaatkan kelemahan koordinasi lini belakang Indonesia yang masih sering terlihat pada pertandingan tadi malam," jelas Tony.

Menurut Tony, selain postur yang nyaris berimbang, Timnas U-19 memiliki keunggulan dari sisi fisik, stamina dan kecepatan dari Qatar. Apalagi dengan formasi 4-4-2 ala Shin Tae-yong, faktor fisik dan stamina adalah hal yang utama. Karena kalau ada lini yang bermasalah bisa berpengaruh pada penampilan tim secara keseluruhan.

"Kalau ditunjang stamina yang baik, formasi 4-4-2 bisa berjalan efektif. Tapi, harus konsisten sepanjang pertandingan," tegas Tony.Tony pun membuat sejumlah catatan terkait penampilan setiap lini timnas U-19 saat mengalahkan Qatar.

Berikut analisis per lini Timnas Indonesia U-19 versi Tony Ho setelah mengandaskan Qatar: 

2 dari 5 halaman

Lini Belakang

Koordinasi di lini belakang Timnas Indonesia U-19 masih perlu pembenahan. Selalu kebobolan dalam empat partai bisa jadi indikatornya. Duet stoper Rizky Ridho Ramadhani dan Komang Tri belum optimal menjalankan peran sebagai leader di lini ini. Saat menguasai bola, keduanya harus lebih berani bergerak ke depan sehingga jarak mereka dengan lini tengah tidak terlalu jauh.

Tujuannya agar tidak ada ruang kosong yang terjadi ketika lawan merebut bola dan melakukan serangan balik. Hal ini terlihat ketika lini tengah Qatar memotong serangan Indonesia dan kemudian melepaskan umpan mendatar ke lini depan. Beruntung gelandang serang dan striker Qatar agak lemah dalam menerima bola hasil umpan terobosan.

Sementara di sisi dua bek sayap, Bagas Kaffa dinilai sudah menunjukkan permainan yang baik. Khususnya dalam membantu serangan. Tapi, ia harus lebih melihat momen kapan harus bertahan atau menyerang. Gol yang dicetak gelandang Qatar, Jassem Muhammad Al-Sharshni pada menit ke-12 berasal dari daerah kawalan Bagas. Sementara Pratama Arhan tidak segaresif Bagas.

3 dari 5 halaman

Lini Tengah

Formasi 4-4-2 butuh dua gelandang tengah yang kuat dalam bertahan dan menyerang. Ketika menghadapi Qatar, David Maulana dan Brylian Aldama sudah menunjukkannya meski belum optimal betul. Terutama dalam menjaga keseimbangan permainan. Terbukti dengan gol Qatar yang tercipta oleh Al-Sharshni.

Di antara mereka, sebaiknya ada yang berani melakukan penetrasi ke depan. Khususnya menopang agresifitas kedua penyerang sayap, Witan Sulaiman dan Supriadi.Witan dan Supriadi memang memiliki kecepatan yang baik.

Tapi, kelebihan ini bisa mentah kalau tak ditunjang support yang baik. Apalagi, kalau lawan sudah menyiapkan stategi untuk mematikan mereka. Artinya, lini tengah dituntut lebih variatif.

4 dari 5 halaman

Lini Depan

Duet Irfan Jauhari dan Braif Fatari sudah menunjukkan progres yang membaik. Tapi, Irfan masih bermasalah pada penyelesaian akhir. Kalau lebih tenang, ia bisa mencetak gol ke gawang Qatar. Hal ini bisa dibenahi sejalan dengan jam terbang yang ia dapatkan.

Sementara Braif mulai bisa beradptasi dengan peran barunya sebagai striker pendamping Irfan di lini depan. Braif memiliki skill yang baik serta ditunjang oleh postur ideal. Ia harus memanfaatkan kelebihan itu untuk bisa menjadi 'pelayan' Irfan atau menjadi eksekutor bila mendapat peluang emas.

Saat melawan Qatar, naluri Braif sebagai gelandang masih sering terlihat. Di mana, ia justru kerap bergerak melebar saat penyerang sayap menguasai bola. Alhasil, ruang buat Supriadi dan Witan jadi sempit.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Kami:

Video Populer

Foto Populer