Sukses


Flashback Timnas Indonesia di Piala AFF 2010: Momentum Paling Gereget

Bola.com, Jakarta - Dalam perjalanan Timnas Indonesia di Piala Tiger atau Piala AFF, edisi di mana Tim Garuda bermain di final tentu menjadi yang tidak terlupakan. Apalagi ketika Timnas Indonesia beraksi di Piala AFF 2010, di mana tim asuhan Alfred Riedl itu kalah dari Malaysia di laga puncak.

Dalam perjalanan Timnas Indonesia di Piala Tiger 1996 hingga turnamen tersebut berubah nama menjadi Piala AFF hingga kini, tercatat lima kali Tim Garuda mencapai pertandingan final, yaitu pada 2000, 2002, 2004, 2010, dan 2016. Edisi Piala AFF 2010 menjadi yang paling menarik, paling diingat, sekaligus paling mengenaskan.

Tim Garuda saat itu ditangani oleh Alfred Riedl, pelatih asal Austria yang ditunjuk sebagai pelatih mulai 4 Mei 2010. Pelatih yang punya pengalaman menangani Timnas Vietnam dan Laos itu ditunjuk tidak hanya menangani Timnas Indonesia, tapi juga Timnas Indonesia U-23.

Mempersiapkan tim untuk Piala AFF 2010, Alfred Riedl memiliki komposisi pemain yang terbilang komplet. Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono yang merupakan deretan penyerang senior menjadi pembimbing untuk sejumlah pemain muda dan debutan.

Yongki Aribowo, Johan Juansyah, Irfan Bachdim merupakan pemain muda di skuat tersebut. Belum lagi hadirnya Cristian Gonzales, striker berpengalaman di sepak bola Indonesia yang baru saja menjadi Warga Negara Indonesia.

Begitu pun di lini tengah. Firman Utina, Tony Sucipto, Arif Suyono, Eka Ramdani, dan Ahmad Bustomi hadir dan membimbing Oktovianus Maniani yang juga tampil cemerlang di kejuaraan tersebut.

Lini pertahanan Timnas Indonesia kala itu dipenuhi oleh pemain berpengalaman, seperti Hamka Hamzah, Muhammad Roby, Muhammad Ridwan, Maman Abdurrahman, Zulkifli Syukur, dan Mohammad Nasuha.

Sementara di bawah mistar gawang, Markus Horison yang kala itu memperkuat Persib Bandung menjadi pilihan utama Riedl, dan dilapisi oleh Ferry Rotinsulu dan Kurnia Meiga, di mana nama terakhir baru berusia 20 tahun dan diprediksi menjadi kiper masa depan Indonesia.

Dengan skuat seperti itu, Alfred Riedl dinilai memiliki komposisi pemain yang sangat bagus dan Timnas Indonesia siap untuk meraih gelar pertamanya di Piala AFF.

2 dari 5 halaman

Manis dan Sempurna pada Fase Grup

Memiliki komposisi pemain yang sangat baik tentu membuat harapan publik terhadap Timnas Indonesia menjadi sangat tinggi. Apalagi Tim Garuda menjadi satu dari dua tuan rumah Piala AFF 2010, selain Vietnam.

Timnas Indonesia berada di Grup A bersama Malaysia, Thailand, dan Laos. Boleh dibilang selain Laos, Tim Garuda harus menghadapi dua pertandingan yang bakal berlangsung secara intens, di mana Thailand merupakan tim kuat Asia Tenggara sementara Malaysia merupakan rival Indonesia di kawasan ASEAN.

Satu yang menarik, duel menghadapi Malaysia menjadi pembuka kiprah Tim Garuda di Piala AFF 2010. Laga itu makin menarik karena kehadiran suporter Garuda yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, pada saat itu.

Bek Timnas Indonesia, Mohammad Nasuha, mencetak gol ke gawang Malaysia pada final Piala AFF 2010.(AFP/Bay Ismoyo)

Tim Garuda pun seakan perkasa di hadapan Malaysia. Bambang Pamungkas dkk. menang telak 5-1, di mana dua debutan Tim Garuda saat itu, Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim turut mencetak gol.

Kemenangan besar tersebut berlanjut karena Timnas Indonesia menghadapi Laos di pertandingan kedua. Tim Garuda menang telak dengan setengah lusin gol bersarang di gawang Laos yang dikawal Sengphachan Bounthisanh. Firman Utina mencetak dua gol dalam pertandingan itu, di mana Irfan Bachdim juga kembali mencetak gol.

Dalam pertandingan terakhir, Timnas Indonesia menghadapi Thailand. Tim Gajah Perang yang diprediksi tampil kuat seperti pada edisi-edisi sebelumnya tercecer dalam dua laga pertama. Mereka bermain imbang 2-2 dengan Laos dan tanpa gol dengan Malaysia.

Performa Thailand dalam dua laga tersebut membuat Timnas Indonesia mampu memberikan perlawanan yang bagus. Thailand sempat unggul lebih dulu lewat gol Suree Sukha pada menit ke-69.

Namun, Bambang Pamungkas mampu menjadi penyelamat Tim Garuda dari kekalahan. Dua gol penalti yang dicetaknya pada menit ke-82 dan 90'+1 menjadi penentu kemenangan Tim Garuda.

Para pemain Timnas Indonesia merayakan gol yang dilesakkan Bambang Pamungkas (tengah) saat bertemu Thailand dalam partai penutup Grup A Piala AFF 2010 di Jakarta, 7 Desember 2010. AFP PHOTO/Bay ISMOYO

3 dari 5 halaman

Beruntung di 4 Besar, Pahit di Final

Lolos dengan sempurna ke semifinal, peruntungan Timnas Indonesia membuat publik meyakini inilah waktunya untuk meraih gelar juara. Keuntungan yang dimaksud adalah Timnas Indonesia menghadapi Filipina di semifinal yang digelar dalam dua leg pertandingan, kandang dan tandang.

Apes bagi Filipina. Mereka dinilai tidak memiliki stadion yang representatif untuk menggelar laga internasional seperti Piala AFF. Bahkan opsi untuk memindahkan pertandingan ke negara lain pun diusahakan oleh federasi sepak bola Filipina. Namun, lobi PSSI berjalan baik, dua pertandingan semifinal akhirnya digelar di SUGBK.

Filipina lebih dulu berstatus sebagai tuan rumah di leg pertama semifinal Piala AFF 2010. Tim asuhan Simon McMenemy yang diperkuat Younghusband bersaudara itu memberikan perlawanan yang ketat kepada Timnas Indonesia. Namun, Cristian Gonzales mampu memberi keuntungan kepada Indonesia lewat golnya pada menit ke-32.

Gol sundulan striker Indonesia Cristian Gonzales (kanan) ke gawang Filipina di leg pertama semfiinal Piala AFF 2010 di Jakarta, 16 Desember 2010. Indonesia unggul 1-0. AFP PHOTO / ADEK BERRY

Kemenangan 1-0 pada leg pertama semifinal tentu menjadi keuntungan bagi Timnas Indonesia. Hasilnya, Timnas Indonesia kembali menang 1-0 lewat gol pemain yang sama, Cristian Gonzales, pada leg kedua yang juga digelar di SUGBK. Tim Garuda pun memastikan diri melangkah ke final, di mana Malaysia sudah menunggu setelah menang dengan agregat 2-0 atas Vietnam.

Duel kontra Malaysia di pertandingan final ini tentu membangkitkan asa yang begitu besar bagi penggemar Tim Garuda melihat Bambang Pamungkas dkk. untuk pertama kalinya meraih gelar juara di Piala AFF. Apalagi mereka punya pengalaman menang telak 5-1 di fase grup.

Malaysia lebih dulu menjadi tuan rumah di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, pada leg pertama pertandingan final. Tim Garuda seakan tak berdaya menghadapi Malaysia, terutama pada babak kedua.

Penyerang Malaysia, Safee Sali, berusaha melewati kapten Timnas Indonesia, Firman Utina, pada final leg pertama Piala AFF 2010. (AFP/Kamarul Akhir)

Tim asuhan Alfred Riedl itu pulang dari Kuala Lumpur dengan kekalahan telak 0-3, di mana semua gol Malaysia tercipta pada babak kedua. Tim Garuda tak hanya harus mengejar defisit tiga gol pada leg kedua yang digelar di SUGBK, tapi juga tidak memiliki satu gol tandang pun yang bisa menguntungkan.

Berharap bisa mengandalkan dukungan penuh suporter Garuda di pertandingan leg kedua di SUGBK, Timnas Indonesia justru kebobolan lebih dulu oleh Safee Sali pada menit ke-54. Defisit empat gol jelas bukan lagi sesuatu yang mudah dikejar, apalagi laga hanya menyisakan 35 menit saja.

Pada akhirnya, Tim Garuda menang 2-1 dalam pertandingan tersebut. Muhammad Nasuha dan Muhammad Ridwan menjadi pencetak gol bagi Timnas Indonesia. Sayang, gelar juara Piala AFF harus lepas dari tangan Tim Garuda dan menyerahkannya kepada Timnas Malaysia di depan pendukung Timnas Indonesia di SUGBK.

Pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedle (kedua kiri) berdiri di samping pemain Indonesia (kanan) usai menghadapi Malaysia pada final Suzuki Cup 2010 di Jakarta, Indonesia, 29 Desember 2010. Alfred Riedl tutup usia di umur 70 tahun. (AFP PHOTO/ADEK BERRY)

4 dari 5 halaman

Diwarnai Rumor Tak Sedap

Berawal dari sebuah surat seorang pegawai pajak di Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, perihal permintaan penyelidikan terhadap adanya dugaan skandal suap saat Piala AFF di Malaysia, kekalahan 0-3 yang dialami Timnas Indonesia kala itu menjadi sorotan.

Dalam surat tersebut, diungkapkan bahwa ada dua oknum petinggi PSSI yang memasuki ruang ganti Timnas Indonesia di Stadion Nasional Bukit Jalil. Hal tersebut yang disangkakan sebagai adanya instruksi kepada beberapa pemain yang memicu adanya dugaan match fixing.

Rumor tersebut menjadi bola panas bagi PSSI dan Timnas Indonesia, terutama beberapa pemain yang dituduh ikut terlibat dalam skandal tersebut.

Namun, melalui tulisan dalam blog maupun ketika menjadi pembicara Battle of Life, kapten Timnas Indonesia di Piala AFF 2010, Bambang Pamungkas, menegaskan bahwa tidak ada satu pun pengurus PSSI yang masuk ke ruang ganti.

"Bagaimana mungkin Ketua Umum PSSI tersebut dapat memasuki ruang ganti dan memberi instruksi jika beliau tidak memiliki ID card?Dan memang pada kenyataannya, beliau memang tidak pernah sekalipun memasuki ruang ganti," ujar Bepe dalam laman blog miliknya.

Bahkan isu tersebut sempat muncul kembali pada 2018, ketika sepak bola Indonesia tengah ramai-ramainya membahas mafia bola, di mana kepolisian sampai membentuk satgas antimafia bola. Masalah dugaan skandal di Piala AFF 2010 diseret kembali dan sejumlah pemain pun menyampaikan keberatannya melalui sebuah konferensi pers.

Mantan Pemain Timnas Indonesia, M Nasuha, memberikan keterangan saat jumpa pers di Jakarta, kamis (20/12). Para pemain tersebut membantah terlibat pengaturan skor di Piala AFF 2010. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Satu di antaranya diungkapkan oleh Nasuha. Pemain yang sempat mengalami cedera di kepalanya pada Piala AFF 2010, bahkan masih bermain dengan kepala dibebat, memberikan penegaskan mengenai tak adanya orang lain yang masuk ke dalam ruang ganti kecuali anggota tim.

"Ruang ganti tidak ada orang lain yang masuk. Alfred Riedl sangat ketat. Jangan asal menuduh. Saya juga kasihan, mereka ada keluarga, mungkin sampai seumur hidup mereka terus terbayang soal tuduhan itu. Ini soal nama baik," tegas Nasuha.

"Saya sangat sedih mendengar apa yang sekarang tengah berkembang. Saya sangat kecewa dengan hasil 0-3 di Malaysia. Secara teknis kami kebobolan setelah pertandingan berhenti 15 menit. Itu sangat berpengaruh, kami sedang berkonsentrasi, lalu pertandingan berhenti, kemudian untuk kembali ke performa awal sangat sulit sehingga tuan rumah lebih diuntungkan. Mereka bermain di kandang dan dukungan suporter luar biasa di sana."

Ngapain saya bermain di tim nasional kalau saya harus mengalah dari negara lain. Bagi saya harap. Ini opini saja. Kalau memang ada bukti, silakan. Usut sampai tuntas. Siapa sih yang tidak mau jadi juara?" tegasnya.

5 dari 5 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer