Sukses


Zein Alhadad dan Lika-liku Jadi One Man Club Bersama Niac Mitra

Bola.com, Jakarta - Bagi publik sepak bola Indonesia di era Galatama atau medio 1980-an, nama Niac Mitra Surabaya sangat mudah diingat. Sebuah klub besar asal kota Pahlawan yang menorehkan prestasi mentereng selama satu dasawarsa.

Tim satu kota dengan Persebaya Surabaya ini adalah jagoan di kompetisi Galatama dengan torehan tiga kali juara dan sekali runner-up. Niac Mitra dimiliki oleh Alexander Wenas, seorang pengusaha bioskop dan menjadikan timnya merajai Galatama ketika itu.

Satu di antara pemain besar yang pernah ada di Niac Mitra adalah Muhammad Zein Alhadad atau yang begitu familiar disapa Mamak. Pria berdarah Arab yang kemudian menjadi ikon bagi Niac Mitra.

Betapa tidak, ia menjadi one man club bagi Niac Mitra karena hanya membela timnya sepanjang klub tersebut berdiri hingga bubar. Ia mampu bertahan di satu klub dengan waktu yang begitu lama, layaknya legenda AS Roma, Francesco Totti.

Belum lama ini, Mamak bercerita panjang lebar mengenai perjalanan kariernya bersama Niac Mitra. Tim yang selalu ada di hatinya dan begitu berkesan, diceritakannya dalam kanal YouTube Pinggir Lapangan beberapa hari lalu.

Ia menceritakan kariernya sejak saat masih muda bergabung dengan Niac Mitra, sampai tim yang dibelanya itu harus memutuskan bubar pada 1990. Banyak hal menarik ia dapatkan, tentunya adalah deretan prestasi baik klub maupun individu yang diraihnya.

"Saat Niac Mitra juara pertama kali kompetisi Galatama pada 1980 sampai 1983 secara beruntun, saya sudah ada di tim itu," terang Mamak membuka ceritanya.

Prestasi hebat Niac Mitra tidak lepas dari skuat mentereng yang dimiliki, sebut saja nama seperti Djoko Malis, Rudi Keltjes, Yudi Suryata, Syamsul Arifin, hingga duo Singapura, yakni Fandi Ahmad dan David Lee. Mamak yang kala itu masih muda, mendapat banyak bekal ilmu dan pengalaman bersama pemain-pemain tersebut.

"Ketika keran pemain asing ditutup, banyak pemain pindah ke Yanita Utama, seperti Djoko Malis, Yudi Suryata, Rudi Keltjes. Alhasil Niac Mitra memunculkan banyak pemain muda termasuk saya dan ditunjuk sebagai kapten. Banyak anak-anak muda muncul seperti Jaya Hartono dan Hanafing," terangnya.

2 dari 3 halaman

Sulit Berpaling

Setelah timnya banyak ditinggal para pemain senior dan bintangnya, membuat Mamak seperti menjadi leader di Niac Mitra. Sebagai kapten tim, ia harus memimpin rekan-rekannya untuk tetap tampil konsisten.

Nama besar Mamak tetap paling menonjol di Niac Mitra. Seperti mengantarkan timnya menduduki posisi runner-up di kompetisi Galatama 1989. Musim yang sebenarnya bagi Niac Mitra adalah juara tanpa mahkota.

"Bisa dibilang empat kali kita juara, karena ada sesuatu hal sempat ramai status juara tanpa mahkota pada 1989. Kemudian juara turnamen Piala Tugu Muda Semarang 1981 dan 1982. Serta berbagai turnamen lainnya," ujar Mamak.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah Mamak selalu menolak tawaran klub lain yang berusaha mendatangkannya. Alasannya adalah ia merasa bangga menjadi bagian dari Niac Mitra sebagai klub tanah kelahiran, serta profesionalisme manajemen timnya yang luar biasa.

"Saya sangat berkesan di Niac Mitra meski ada tawaran datang ke saya. Saya kapten tim, top scorer juga, seperti one man club, sejak tim sebelum berdiri sampai tim ini sampai perombakan berulangkali," kenangnya.

"Bukannya menyombongkan diri, mungkin bisa jadi motivasi pemain muda. Seorang pemain bagus itu harus punya motivasi dan tanggung jawab besar, disiplin, dan fanatisme kepada klub yang dibelanya," beber pria yang juga pernah membesut tim Persija Jakarta.

Niac Mitra adalah klub hebat karena sering juara. Bisa disebut tim Galatama terbaik, punya latihan sendiri di Panjang Jiwo, punya mes sendiri, dan ditangani manajemen profesional. Saya merasa betah, kenapa harus membela klub lain, meski ada tawaran gaji lebih besar," jelas Mamak.

3 dari 3 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer