Sukses


Curhat Zein Alhadad, Sedih Melihat Niac Mitra Bubar

Bola.com, Jakarta - Kompetisi Galatama pernah menjadi masa keemasan dalam perjalanan sepak bola Indonesia. Meski pada akhirnya ada klub yang masih bisa bertahan hingga sekarang dan ada yang bubar. Satu di antara yang bubar adalah Niac Mitra.

Tim Galatama yang dimiliki pengusaha bioskop, Alexander Wenas, itu memiliki pencapaian hebat. Niac Mitra tiga kali merengkuh gelar juara Galatama.

Sayangnya, klub yang memiliki atribut khas berwarna hijau itu mengalami titik nadir dan membubarkan diri pada 24 September 1990. Kabarnya, keputusan PSSI meleburkan Galatama dan Perserikatan menjadi Liga Indonesia menjadi alasan Niac Mitra memilih bubar.

Muhammad Zein Alhadad, mantan pemain Niac Mitra yang juga pernah menjadi pelatih Persija Jakarta, adalah saksi hidup bubarnya klub Galatama tersebut. Ia bersama teman-temannya begitu sedih dan kecewa ketika melihat tim yang dibelanya harus bubar.

Padahal Niac Mitra merupakan tim yang selalu diperhitungkan pada era Galatama karena prestasi dan daftar skuat yang mentereng. Zein Alhadad merupakan one man club Niac Mitra, atau pemain yang sepanjang kariernya hanya membela satu klub, yaitu Niac Mitra.

"Kalau ditanya perasaan saya saat Niac Mitra bubar, tentu sangat sedih dan kecewa. Klub ini yang membesarkan saya dan klub yang saya bela sampai pensiun. Kata teman, saya seperti Franco Baresi. Artinya mulai awal karier hingga pensiun ada di satu klub," ungkapnya dalam kanal youtube Pinggir Lapangan.

2 dari 3 halaman

Pemain Merangkap Pelatih

Setelah Niac Mitra bubar, ada klub bernama Mitra Surabaya yang disebut sebagai penerus klub Galatama tersebut. Mitra Surabaya pun kini bernama Mitra Kukar karena proses jual beli lisensi klub dalam perjalanannya. Namun, menurut Zein Alhadad, dua klub tersebut tidak ada sangkut pautnya.

Itu menjadi satu di antara beberapa alasan mengapa sosok yang karib disebut Mamak itu tidak ikut bermain di Mitra Surabaya setelah Niac Mitra bubar. Mamak justru memilih ke klub Assyabaab hingga bertransformasi menjadi Assyabaab Salim Group.

"Banyak orang yang tidak tahu. Niac Mitra bubar dan Mitra Surabaya adalah klub yang berdiri sendiri. Tidak ada hubungannya. Setelah di Niac Mitra, saya diminta bermain di Assyabaab yang belum pernah bermain di Galatama, dan sempat kesulitan finansial," ungkapnya.

Namun, Mamak mampu menjawab kepercayaan pengurus Assyabaab dengan menorehkan prestasi apik pada 1994. Ia juga pernah merangkap menjadi pemain sekaligus pelatih di sana.

"Jadi pengalaman tersendiri karena saya melatih teman-teman yang sebagian lebih tua dari saya, seperti Herry Kiswanto, Toyo Haryono, Perri Sandria. Kemudian masuk pelatih Sartono Anwar dan saya menjadi asisten pelatih," kenangnya.

"Berkesan di Ligina 1994 saat Assyabaab masuk empat besar dan menjadi satu-satunya tim tanpa pemain asing. Lagi-lagi saya di sebuah klub sampai tim itu bubar pada 1997, mirip cerita di Niac Mitra," jelas Mamak.

3 dari 3 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer