Liverpool di Jalur Menjadi Juara Bertahan Terburuk Kelima dalam Sejarah Premier League, Ini Buktinya

Berdasarkan jumlah poin yang dikumpulkan tim-tim pada musim setelah menjuarai Premier League, berikut adalah lima juara bertahan dengan catatan terburuk dalam sejarah liga tersebut.

Bola.com, Jakarta - Liverpool sedang terpuruk. The Reds bahkan kini berada di jalur untuk menjadi juara bertahan terburuk kelima dalam sejarah Liga Inggris  

Tim asuhan Arne Slot awalnya difavoritkan untuk mempertahankan gelar sebelum Liga Inggris 2025/2026 dimulai. Apalagi, The Reds menghabiskan dana transfer terbesar dibandingkan klub Premier League lainnya pada musim panas 2025.

Namun, performa buruk yang ditunjukkan membuat posisi mereka anjlok jauh dari harapan. Hingga pekan kesembilan, The Reds masih tercecer di peringkat ketujuh. 

Tim besutan Arne Slot hanya mengantongi 15 poin, perinciannya dari lima kemenangan dan empat kali kalah. Jika berkaca dari tren poin per pertandingan, Liverpool tampak mengkhawatirkan. 

Berdasarkan jumlah poin yang dikumpulkan tim-tim pada musim setelah menjuarai Premier League, berikut adalah lima juara bertahan dengan catatan terburuk dalam sejarah liga tersebut.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

5. Liverpool 2025/2026

  • Total poin musim 2024/2025: 84
  • Prediksi poin 2025/2026: 63

Setelah kalah dalam empat pertandingan liga terakhir, Liverpool berada di jalur untuk menutup musim dengan hanya 63 poin.

Itu berarti 21 poin lebih sedikit dibandingkan yang mereka raih musim lalu. Bahkan lebih rendah dari jumlah poin yang dikumpulkan Manchester United pada musim 2013/2014 saat masih dilatih oleh David Moyes.

“Kalah empat kali berturut-turut bagi Brentford saja sudah menjadi bencana,” ujar Jamie Carragher di Sky Sports.

“Jadi melihat juara bertahan melakukannya, setelah pengeluaran besar di musim panas, berarti ini adalah masa krisis bagi Liverpool saat ini.”

Carragher menambahkan bahwa akan ada banyak pertanyaan serius yang diajukan di ruang ganti, baik di antara para pemain, staf pelatih, maupun pihak manajemen klub.

“Dengan jumlah uang yang sudah mereka keluarkan, tentu semua pihak akan menuntut hasil yang jauh lebih baik,” katanya.

“Liverpool harus melihat kembali fisikalitas dan tinggi badan pemain-pemain mereka, karena saat ini saya rasa mereka tidak memiliki cukup kekuatan di aspek tersebut.”

 

4. Blackburn Rovers 1995/1996

  • Total poin musim 1994/1995: 89
  • Total poin musim 1995/1996: 61

Setelah meraih gelar pada 1994/1995, Blackburn Rovers mengalami penurunan performa yang tajam pada musim berikutnya.

Kenny Dalglish meninggalkan klub setelah membawa Rovers meraih gelar juara. Penggantinya, Ray Harford, kesulitan mencapai tingkat kesuksesan yang sama.

Meskipun Alan Shearer masih mampu mencetak 31 gol liga yang mengesankan selama musim 1995/1996, secara keseluruhan Blackburn tampil mengecewakan dan harus puas finis di peringkat ketujuh.

3. Leeds United 1992/1993

  • Jumlah poin musim 1991/1992: 82
  • Jumlah poin musim 1992/1993: 51

Leeds United mengalami penurunan yang bahkan lebih tajam daripada Blackburn setelah menjuarai liga.

Leeds berubah dari sang juara menjadi tim yang berjuang menghindari degradasi hanya dalam waktu satu tahun.

Leeds sempat menghabiskan enam pekan di zona degradasi selama musim 1992/1993, namun akhirnya berhasil bangkit dan menutup musim di peringkat ke-17.   

2. Chelsea 2015/2016

  • Jumlah poin musim 2014/2015: 87
  • Jumlah poin musim 2015/2016: 50

Chelsea meraih gelar juara Premier League dengan sangat meyakinkan pada musim 2014/2015, mengumpulkan 87 poin dan unggul delapan poin atas Manchester City yang berada di posisi kedua.

Melihat betapa dominannya tim asuhan Jose Mourinho pada musim tersebut, sangat sedikit yang memprediksi penurunan drastis mereka di musim berikutnya (2015/2016), ketika Chelsea hanya mampu mengumpulkan 50 poin saja.   

Situasi dengan cepat berubah menjadi toxic di Stamford Bridge pada tahun ketiga masa kepelatihan Jose Mourinho setelah kembali ke Chelsea. Ia akhirnya dipecat pada Desember ketika Chelsea terpuruk di posisi ke-16 klasemen.

Setelah hanya mampu mengumpulkan 50 poin pada musim tersebut, Chelsea kemudian bangkit dan kembali menjuarai liga pada musim 2016/2017 di bawah asuhan Antonio Conte.

Benar-benar tiga tahun yang liar dan penuh drama bagi para penggemar Chelsea.   

1. Leicester City 2016/2017

  • Jumlah poin musim 2015/2016: 81
  • Jumlah poin musim 2016/2017: 44

Ini adalah penurunan performa terbesar yang pernah dialami oleh juara Premier League.

Setelah secara luar biasa menentang semua prediksi dan menjuarai liga pada musim 2015/2016, Leicester City kesulitan menyeimbangkan jadwal padat mereka di kompetisi Eropa. Akibatnya, performa mereka di Premier League menurun drastis.

Claudio Ranieri dipecat pada Februari 2017 karena klub khawatir terdegradasi. Ia digantikan oleh asistennya, Craig Shakespeare, yang kemudian berhasil membangkitkan tim dan membawa The Foxes finis di papan tengah klasemen.   

Sumber: Planet Football

Video Populer

Foto Populer