Liverpool Hentikan Pendarahan, tetapi Ketajaman Lama Belum Kembali

"Pendarahan" terhenti, akan tetapi Liverpool masih tumpul di lini depan.

Bola.com, Jakarta - Liverpool akhirnya berhasil menghentikan laju kemerosotan yang sempat membuat mereka terus "berdarah", tetapi satu masalah lama belum sepenuhnya teratasi: ketajaman di lini depan.

Kendati tampil solid dan membawa pulang satu poin dari markas Arsenal, The Reds masih kehilangan daya gedor yang dulu menjadi ciri khas mereka.

Ungkapan "terus berdarah" pertama kali disampaikan Steven Gerrard setelah Liverpool dipermalukan PSV Eindhoven 1-4 di Anfield, November lalu. Kekalahan itu menjadi yang kesembilan dalam 12 pertandingan, menandai periode paling kelam bagi klub Merseyside tersebut.

Namun, sejak malam pahit itu, Liverpool perlahan bangkit dan kini mencatatkan 10 laga tanpa kekalahan.

Hasil imbang tanpa gol melawan Arsenal, Jumat dini hari WIB tadi, menjadi bukti lain kebangkitan tersebut.

Tim asuhan Arne Slot bahkan mencatatkan rekor tersendiri dengan menjadi tim tamu pertama yang mampu mencuri poin di Emirates Stadium di Liga Inggris sejak Manchester City melakukannya pada September 2025.

Peluang terbaik dalam laga itu lahir pada babak pertama ketika sepakan Conor Bradley membentur mistar gawang. Pada paruh kedua, Liverpool justru tampil lebih dominan dengan penguasaan bola mencapai 66 persen. Namun, tanpa penyerang murni di lini depan, dominasi itu tak berbuah gol.

Absennya sosok ujung tombak membuat serangan Liverpool kerap kehilangan arah. Seandainya Hugo Ekitike berada dalam kondisi fit, peluang untuk membawa pulang kemenangan mungkin terbuka.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 6 halaman

Hasil Positif, tapi...

Meski begitu, hasil ini tetap dinilai sebagai malam yang cukup positif bagi Liverpool, terutama setelah penampilan kurang meyakinkan dalam hasil imbang melawan Leeds United dan Fulham.

Di lini tengah, Alexis Mac Allister dan Ryan Gravenberch tampil solid, sementara Milos Kerkez menjalani satu di antara laga terbaiknya bersama Liverpool dengan sukses meredam ancaman Bukayo Saka.

Secara defensif, Liverpool bahkan mampu membatasi Arsenal tanpa satu pun tembakan hingga masa tambahan waktu babak kedua. Arsenal kini gagal mencetak gol ke gawang Liverpool dalam dua pertemuan musim ini.

"Pelatih pantas mendapat kredit atas rencana permainannya. Mereka mampu bertahan dari tekanan pada 20 menit pertama. Setelah itu, etos kerja dan kegigihan mereka sangat luar biasa. Ini adalah penampilan yang sangat matang dan menunjukkan mengapa mereka adalah juara," ujar Daniel Sturridge, mantan penyerang Liverpool, di Sky Sports.

3 dari 6 halaman

Catatan Minus

Sturridge menambahkan bahwa Liverpool memang masih kekurangan ketajaman di lini depan.

"Mereka kurang tajam di depan gawang, tetapi memiliki banyak momen positif. Jeremie Frimpong menjadi ancaman sepanjang laga, meski kerap gagal pada umpan akhir. Florian Wirtz tampil sangat baik, menemukan banyak ruang, dan bermain sangat rapi. Daftarnya masih panjang. Pertahanan mereka luar biasa," ulasnya.

"Mereka menghentikan serangan sepanjang pertandingan. Saya rasa manajer dan para pemain patut sangat bangga. Penampilan mereka benar-benar istimewa," lanjutnya.

Kendati "pendarahan" telah berhenti, Liverpool dinilai masih menanggung masalah secara diam-diam. Untuk pertama kalinya sejak Maret 2010 melawan Wigan Athletic, The Reds gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran dalam satu laga Liga Inggris.

Laga kontra Arsenal itu menjadi pertandingan ke-600 Liverpool di Premier League sejak catatan tersebut terakhir kali terjadi.

4 dari 6 halaman

Penurunan Ketajaman

Statistik musim ini menegaskan penurunan ketajaman The Reds. Rata-rata gol Liverpool turun menjadi 1,5 gol per laga, dibandingkan 2,3 gol per pertandingan musim lalu dan 2,3 gol pada 2023/24 di era Jurgen Klopp.

Nilai expected goals (xG) juga merosot dari 2,4 pada musim terakhir Klopp, menjadi 2,2 di musim pertama Slot, dan kini hanya 1,5.

Jumlah tembakan per laga juga terus menurun, dari 20,8 menjadi 17,1, lalu turun lagi ke angka 14,7 musim ini. Tembakan tepat sasaran bahkan merosot dari 7,3 per laga pada 2023-2024 menjadi 6,1 musim lalu, dan kini hanya 4.

Di luar angka-angka tersebut, pengamatan langsung di lapangan sudah cukup menggambarkan situasi Liverpool. Slot tak menampik bahwa timnya kerap kesulitan menghadapi lawan yang bermain dengan blok rendah.

"Saya sudah mengatakan berkali-kali bahwa melawan gaya bermain tertentu, kami sangat bagus, tetapi melawan gaya tertentu lainnya kami kesulitan," kata Slot.

"Bahkan ketika menghadapi pertahanan rendah Arsenal, kami tetap kesulitan menciptakan peluang. Itu adalah sesuatu yang ingin kami perbaiki. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa kami tertinggal cukup jauh dari mereka di klasemen," aku pelatih asal Belanda itu.

5 dari 6 halaman

Masalah Liverpool

Musim lalu, laga ini menyajikan duel sengit yang berakhir 2-2. Gol penyeimbang Mohamed Salah pada menit ke-81 kala itu lahir dari umpan terobosan brilian Trent Alexander-Arnold dari wilayah sendiri kepada Darwin Nunez, sebelum bola disodorkan kepada Salah.

Namun, ketiganya tak ada pada pertemuan kali ini. Salah sedang membela negaranya di Piala Afrika 2025, sementara Nunez dan Alexander-Arnold telah hengkang pada musim panas lalu.

Tanpa Salah, Alexander Isak, maupun Ekitike, Liverpool memang menghadapi tantangan berat melawan lini pertahanan terbaik di liga secara statistik.

Struktur permainan The Reds  rapi dan disiplin, tetapi fakta bahwa David Raya hampir tidak mendapat ujian sepanjang laga menjadi cerminan jelas masalah Liverpool di sepertiga akhir lapangan.

6 dari 6 halaman

Target Realistis

Musim ini sejatinya diharapkan menjadi periode di mana Liverpool bisa bersaing di semua kompetisi, terlebih setelah menghabiskan lebih dari 400 juta paun pada bursa transfer musim panas 2025.

Peluang juara liga kini tertutup. Slot menegaskan target realistis timnya adalah finis di empat atau lima besar, meski potensi untuk menutup musim dengan catatan positif masih terbuka.

Liverpool masih bertahan di Liga Champions dan akan menghadapi Barnsley pada putaran ketiga Piala FA, Selasa (13-1-2026) dini hari WIB.

Setidaknya, rangkaian hasil tanpa kekalahan ini telah memberi stabilitas, sekaligus menunjukkan bahwa Liverpool masih mampu menandingi tim terbaik liga pada hari yang tepat, meski jalan yang harus ditempuh masih panjang.

"Kami menghadapi tim yang luar biasa. Kami kembali menunjukkan mengapa kami menjadi juara musim lalu," ujar Dominik Szoboszlai.

"Ini adalah langkah maju setelah beberapa pekan terakhir. Kami menunjukkan lagi, melawan pemuncak klasemen, bahwa kami bisa bersaing. Kami harus membawa ini ke pertandingan-pertandingan berikutnya," tambah pemain asal Hungaria tersebut.

 

Sumber: BBC

Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer