Ketenangan Carrick, Obat Tepat untuk Kekacauan di MU

Ketenangan Carrick di tengah kekacauan memang dibutuhkan MU.

Bola.com, Jakarta - Ketegangan dan kekacauan mungkin tak akan pernah benar-benar hilang dari Manchester United. Namun, di tengah situasi yang kerap berantakan, Michael Carrick menghadirkan satu hal yang selama ini hilang: kesederhanaan.

Dan, justru lewat perpaduan antara ketenangan dan kekacauan itulah MU menemukan kemenangan dramatis atas Fulham.

Old Trafford sempat terasa tenang ketika MU unggul dua gol lebih dulu lewat Casemiro dan Matheus Cunha. Tiga poin seolah sudah di tangan. Namun, semua berubah di menit-menit akhir.

Penalti Raul Jimenez pada menit ke-85, disusul gol penyeimbang Kevin di menit pertama masa tambahan waktu, membuat Fulham tampak siap mencuri satu angka dan menghentikan momentum awal era Carrick.

Di tengah situasi kacau itu, Benjamin Sesko muncul sebagai pembeda. Golnya pada menit ke-94, berawal dari umpan silang Bruno Fernandes yang diselesaikan dengan putaran badan dan tembakan klinis, membalikkan keadaan dan memastikan kemenangan 3-2 untuk Setan Merah.

Gol itu mengingatkan publik pada "Fergie Time", terlebih karena tercipta di hadapan Sir Alex Ferguson. Lebih dari sekadar nostalgia, gol tersebut lahir dari keberanian MU untuk terus mengejar kemenangan, bukan bermain aman demi satu poin.

Kendati kekacauan dimanfaatkan dengan sempurna, fondasi kemenangan itu dibangun dari keputusan-keputusan Carrick yang tenang, terukur, dan sederhana.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Hidupkan DNA MU

Tiga laga pertama Carrick sebagai pelatih kepala, sebuah jabatan yang diproyeksikan berlangsung hingga akhir musim dan sengaja tidak disebut sebagai pengganti sementara Ruben Amorim, berujung tiga kemenangan beruntun.

Manchester City, Arsenal, dan Fulham tumbang, membawa MU secara tak terduga kembali ke persaingan tiket Liga Champions.

Banyak yang menyebut Carrick menghidupkan kembali "DNA" MU dengan sepak bola menyerang penuh risiko. Namun, kebangkitan ini sejatinya bukan soal romantisme masa lalu, melainkan tentang menghapus kerumitan dan kebingungan yang ditinggalkan Amorim, lalu menyederhanakan segalanya.

Gol penentu Sesko menjadi contoh nyata. Carrick melakukan hal yang jarang dilakukan pendahulunya: mengganti penyerang dengan penyerang.

Cunha ditarik, Sesko masuk. Sederhana, tetapi efektif. Sesko sebelumnya sempat membentur tiang lewat sundulan, sebelum akhirnya menjadi pahlawan.

Pola serupa terjadi saat kemenangan 3-2 atas Arsenal pekan lalu. Kali ini Cunha yang menjadi penentu setelah masuk sebagai pengganti Bryan Mbeumo. Lagi-lagi, Carrick menerapkan pergantian pemain "like-for-like" yang mendasar, tanpa eksperimen berlebihan.

Susunan Pemain

Pendekatan itu juga tecermin dalam susunan pemain awal. Di laga ketiganya, Carrick baru melakukan perubahan karena faktor cedera, ketika Cunha masuk menggantikan Patrick Dorgu.

Namun, alih-alih mengutak-atik taktik atau formasi, Carrick cukup menempatkan Cunha di sisi kiri dari tiga penyerang, mengisi celah yang ditinggalkan Dorgu, yang diperkirakan absen sekitar 10 pekan akibat cedera hamstring.

Carrick tetap setia pada empat bek, berbeda dengan Amorim yang hampir selalu memakai tiga bek dalam 63 pertandingan kepemimpinannya. Duet Casemiro dan Kobbie Mainoo di lini tengah pun dipertahankan.

Mainoo menjadi satu di antara pemain paling menonjol di era singkat Carrick. Ironisnya, gelandang berusia 20 tahun itu tak pernah menjadi starter di Premier League musim ini di bawah Amorim.

Dengan menempatkan Mainoo sebagai gelandang bertahan, Carrick memberi ruang bagi Bruno Fernandes untuk kembali ke peran favoritnya sebagai nomor 10, lebih dekat ke area serang.

Di bawah Amorim, Fernandes kerap dimainkan terlalu dalam atau terlalu jauh ke depan dalam skema 3-4-3 yang tak kunjung menemukan keseimbangan. Keraguan, atau mungkin keras kepala, itu akhirnya merugikan sang kapten, tim, dan pada akhirnya Amorim sendiri.

Di sektor sayap dan lini depan, Carrick juga diuntungkan dengan kembalinya Mbeumo dan Amad usai tugas Piala Afrika 2025. Keduanya tampil krusial, sekaligus menikmati pendekatan pelatih baru yang menempatkan pemain di posisi terbaik mereka.

Menyederhanakan Segalanya

Terlalu lama MU bertahan dengan Amorim, meski pendekatannya dipenuhi perubahan konstan, ketidakfleksibelan taktik, dan kebiasaan mengganti bek saat tim berada di bawah tekanan. Akibatnya, para pemain tampil dalam ketidakpastian, dan hasil buruk pun menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Carrick memilih jalan sebaliknya. Pendekatannya terkesan sederhana, bahkan mungkin kuno di era sepak bola modern yang dikuasai data dan tim medis. Namun, sejauh ini, cara itu justru membuahkan hasil.

Setan Merah kini bermain lebih lepas, penuh percaya diri, dan meraih hasil yang nyaris tak terbayangkan sebelumnya. Carrick juga menunjukkan keberanian dengan terus mengambil risiko demi menang.

Pergantian pemain yang tampak "biasa" itu sejatinya mencerminkan kepercayaan besar pada skuadnya, kepercayaan untuk menyerang dan bertahan dengan porsi seimbang, sesuatu yang nyaris tak terlihat selama 14 bulan Amorim memimpin.

Apakah Amorim kini menyesali pilihannya dan berharap lebih fleksibel saat masih di Old Trafford, tak ada yang tahu. Yang jelas, menonton MU saat ini mungkin hanya akan mengingatkannya pada peluang yang terlewat.

Sementara itu, Carrick tak menoleh ke belakang. Ia melangkah maju dengan satu prinsip sederhana: menyederhanakan segalanya, berani mengambil risiko, dan itulah alasan mengapa MU kembali menemukan performa terbaiknya.

 

Sumber: ESPN

Video Populer

Foto Populer