Sukses


CERITA BOLA : Selamat Tinggal Eropa, Selamat Datang Eropa

ADA satu kebiasaan anyar generasi yang disebut 'anak zaman now'. Yup, tren memutar sekaligus menikmati sajian karya sinematografi melalui layanan video on demand, baik berbayar atau gratis.

Sekali lagi, ini tak semua lho ya, dan mungkin masih hanya sebagian kecil saja. Web series menjadi konten original yang tengah menjamur. Cirinya simpel: paling panjang 15 episode, penuh drama dan intrik tapi dengan sajian menarik khas milenial periode sekarang.

Ciri khas juga jela: tak perlu bertele-tele, apalagi tentang cinta. Kalo menurut saya, bungkus cinta dengan varian jalan apapun, selalu menarik. Panas dan tegang, bukan karena peristiwa berantem atau adu fisik jenis apapun, melainkan pola pikir.

Terlalu egois dan absurd?, tidak juga. Mungkin kalian perlu menengok original series bertajuk "Scandal", "Socmed", "My Lecturer My Husband", "Ustad Milenial" sampai drama "Nothing But Thirty". Jika sudah menonton satu di antara sekian judul itu, dan tentu masih banyak lagi, satu di antara kesimpulannya adalah: panas, turun sebentar, lalu panas lagi.

Yup, deretan kondisi tersebut menjadi satu daya tarik yang membuat siapapun bakal terpesona. Kalaupun tak mengikuti keseluruhan, setidaknya rasa ingin tahu begitu membahana. Ingat, ada teori pasar yang selalu menjadi patron sinematografi di Tanah Air: hadirkan ending yang tak berujung.

Oleh karena itu, tuntutan terhadap skenario berlanjut ke para aktor dan aktris. Prilly Latuconsina, Reza Rahardian, Yoriko Angeline, Arbani Yasiz, Maddy Slinger sampai Tong Yao, wajib menjaga 'ketotalan' mereka dalam berlakon. Hasil akhirnya tak lain kepuasaan di tengah rasa penasaran, para penikmat.

Tren tersebut menjadi satu bagian plot penting dalam industri olahraga, terutama sepak bola. Yup, rasa penasaran terhadap ending lalu jiwa totalitas para pelakon di lapangan, membuat generasi zaman now menjadi penikmat yang terus menuntut. Setidaknya, hasil "Spectators' Experience Global Survey" dari lembaga Deloitte pada pertengahan 2020 menyebut penonton via mobile akan kembali ke sebuah tim yang menunjukkan karakter kejutan.

Pemilihan pemain dan strategi awal menjadi dua variabel yang dominan. Artinya, magnet tersebut berada di lapangan, meski sang penonton hanya sekadar di dunia maya. Kalaupun hadir di lapangan, mereka hanya berupa pajangan wajah semata.

Penelitian Deloitte yang mengambil sampel di beberapa negara Eropa, plus Jepang, memberi sinyal 'rasa ketagihan' itu datang saat para aktor berperan. Pada sisi lain, ada sebagian penonton yang tak sekadar menginginkan hasil akhir, melainkan keriuhan, panas, tegang atau hal-hal emosional.

Situasi itulah yang kini sedang dan akan dirasakan para penggila sepak bola di Indonesia. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang berstatus fans berat 'bal-balan' Eropa. Bagaimana tidak, drama terusan selalu tersaji pada beberapa episode terakhir.

 

2 dari 5 halaman

Skenario Tegang

Hal itu bisa terlihat di beberapa liga papan atas kawasan Benua Biru, seperti Liga Spanyol, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Jerman, Liga Portutal sampai Liga Prancis. Ya, masing-masing memiliki kharisma tersendiri, yang membuat orang tak ingin berhenti menikmati, serta selalu menunggu pada laga-laga berikutnya.

Bagi saya, kuota rasa panas dan tegang itu menyeruak pada dua pekan terakhir. Hal ini berlatar apa yang terjadi di Liga Spanyol, Liga Inggris dan Liga Italia. Sebenarnya ada Ligue 1, namun akibat tier yang tak setinggi tiga liga di depan, membuat 'hanya hasil akhir saja' yang terpantau.

Pentas Liga Spanyol menjadi pembuka akhir pekan yang menawan. Kalau biasanya ada nama Barcelona dalam deretan pemburu gelar La Liga, kini tak ada lagi sang raksasa. Duo klub asal kota Madrid, Atletico dan Real, menjadi kuda balap yang bersaing sampai akhir.

Hebatnya, titik hotspot alias drama pertarungan duo Madrid benar-benar mendebarkan. Saat Atletico Madrid kebobolan, nyaris bersamaan Real Madrid juga terpeleset setelah jala mereka dijebol pemain Villarreal, Yeremi Pino.

Ketika bomber Atletico Madrid, Angel Correa menyeimbangkan skor, drama dimulai. Pada saat bersamaan, Karim Benzema merobek jala Villarreal. Sayangnya, Benzema yang sudah melakukan selebrasi harus kecewa akibat keputusan VAR.

Pada akhirnya, gol Luis Suarez ke gawang Real Valladolid memastikan kekecewaan kubu Real Madrid. Suarez menangis di pengujung laga, namun tangis bahagia. Sementara, di Alfredo Di Stefano, Karim Benzema dkk menangis sedih, sama dengan fans Barcelona.

Drama pada Minggu (23/5/2021) lebih kompleks dan variatif. Tak heran jika jutaan penggemar sepak bola di Indonesia sudah berharap-harap cemas begitu hari masuk ke zona petang.

Maklum, tiga episode menentukan terjadi, meski bukan pamungkas dari Eropa. Di sana ada nasib Juventus, AC Milan dan Napoli berebut zona Liga Champions. Hal serupa menjadi incaran Liverpool, Chelsea dan Leicester City. Akhirnya, kebahagiaan menjadi milik Juventus, AC Milan, Chelsea dan Liverpool.

Juventus dan Chelsea menjadi penghias utama drama. Juventus 'beruntung' karena Napoli ditahan Verona, sedangkan The Blues selamat berkat 'hadiah' tim sekota, Tottenham Hotspur.

Terakhir, tentu saja kegilaan Lille yang sanggup menumbangkan dominasi PSG. Renato Sanches dkk. seolah muncul entah dari mana, lalu mengganggu kinerja PSG, dan akhirnya benar-benar menenggelamkan armada Mauricio Pochettino.

 

 

3 dari 5 halaman

Efek Pandemi

Masa pandemi virus corona penyebab COVID-19 memang membuat segalanya berubah. Minus penonton, sepak bola seakan tak sempurna. Namun, di balik semua itu, drama pada fase akhir sebuah kompetisi membuat semuanya berjalan lebih menarik. Sang pembeda hanyalah virtual, meski pada beberapa laga terakhir, para penonton sudah diperbolehkan masuk dengan protokol kesehatan yang ketat.

Apa yang terjadi pada pekan terakhir di Liga Spanyol, Liga Inggris Liga Italia sampai Liga Prancis, seolah menjadi penutup yang sempurna. Sayang, semua itu hanya angan belaka. Sepak bola Eropa belum berhenti, setidaknya akan terus 'gaspol' sampai 11 Juli 2021.

Pekan ini masih ada final Liga Europa dan Liga Champions, yang selalu dianggap sebagai babak terakhir episode turnamen dan kompetisi sepak bola di Eropa. Memang, tanggal 29 Mei 2021 akan berstatus laga terakhir, tapi hanya di level klub.

Artinya, bak sebuah alur skenario di karya sinematografi, sehari setelah final Liga Champions 2020/2021 hanyalah jeda iklan semata. Maklum, dua pekan berselang, sepak bola di Eropa kembali menyalak, galak, panas dan bakal penuh adegan ketegangan.

Sebelas kota akan menjadi saksi bagaimana para aktor lapangan hijau memerankan lakon mereka berdasar keinginan sang pelatih. Sama halnya dengan karya film ataupun sinetron, tak hanya artis papan atas yang beraksi, tapi juga deretan newbie yang berharap bisa memancing lirikan 'sutradara besar'.

Artinya, idiom 'yang besar tak ingin terperosok, yang baru ingin masuk' bakal terjadi. Adu strategi, adu fisik sampai perang urat syaraf, itulah yang akan terjadi pada perhelatan akbar Piala Eropa 2020 atau Euro 2020.

Momen bersejarah itu akan terjadi pada 11 Juni - 11 Juli 2021. Seharusnya, ajang ini berlangsung setahun lalu, tapi harus rela mundur akibat pandemi. Jika terealisasi, laku ini akan menjadi sejarah besar bagi sepak bola.

 

4 dari 5 halaman

Para Pelakon

Latarnya tak lain sebelas kota yang akan menjadi zona pertempuran adu skenario para timnas. Saint Petersburg, Baku, Munchen, Roma, Amsterdam, Bucharest, Budapest, Copenhagen, Glasgow, Seville sampai berpuncak di London. Itulah deretan kota-kota yang punya nilai tinggi di Eropa.

Enam grup dengan 24 tim menjadi sajian original content yang tak boleh terlewatkan begitu saja. Memang, selalu ada nada miring, karena beranggapan eksploitasi para pemain.

Namun, semua itu menjadi bagian dari rasa ketegangan. Apalagi ingat, pada saat bersamaan juga ada penyelenggaraan Copa America 2021. Jika di Euro 2020 ada Cristiano Ronaldo, di Copa America ada Lionel Messi. Alhasil, para penonton bakal mendapatkan sajian lengkap, apalagi laga-laga Copa America biasanya terjadi pada pagi hari.

Kembali ke urusan Euro 2020, sajian tanpa jeda sebulan penuh menjadikan semua orang tak punya momen istirahat. Ada jedal dua pekan, tapi belum tentu cukup. Apalagi, bintang-bintang papan atas para partisipan tak ingin kehilangan muka.

Momen menarik sudah terlihat sebelum turnamen. Satu di antaranya adalah ketiadaan pemain asal Real Madrid di skuat Timnas Spanyol. Setidaknya, informasi tersebut berseliweran pada Senin (24/5/2021) waktu Indonesia.

Bagi kalian para penikmat sepak bola, sajian di Euro 2020 sudah memiliki level khusus. Perseteruan Italia dan Turki di Grup A, Belgia dan Denmark (Grup B) atau Spanyol dan Swedia, bakal menjadi penegang urat syaraf.

Belum lagi keberadaan grup maut yang berisi Inggris, Kroasia, Skotlandia dan Ceska (Grup D) serta Portugal, Prancis, juga Jerman (Grup F). Fase ini saja sudah mendapat gambaran bakal serunya fase knock-out.

Kini, setelah fase liga selesai, para pemain memang bakal istirahat. Tapi seperti kisah dalam sinetron atau alur di web series konten original, sifatnya hanya sementara alias pemanis.

Kemunculan konflik dan beragam suasana menarik akan terlihat lagi, dan waktunya sudah pasti :11 Juni 2021. Nah, bagi kalian yang ingin mendapatkan sajian utama dan cerita lain dari serangkaian momen di Euro 2020, Bola.com sudah menyiapkan amunisi yang tak kalah menarik.

Kami sudah menciptakan wadah khusus bagi kalian, yakni laman atau channel Pesta Bola Eropa. Kategori ini bisa kalian klik di laman 'home' Bola.com versi dekstop, dan klik menu di Bola.com versi mobile.

Ragam sajian sudah dan akan kami sajikan. Tak sekadar alur cerita normal, seperti prediksi dan hasil pertandingan serta beragam komentar turunan, kami bakal hadir dengan nuansa lain.

Yup, satu di antaranya adalah zona interaktif, baik itu kuis atau permainan yang bisa mengajak kalian ikut serta. Selain itu, konten-konten berkualitas berat, ringan, unik dan menarik bakal menjadi produk yang disajikan para awak andalan Bola.com.

Secara khusus, produk konten Pesta Bola Eropa di Bola.com bakal hadir dalam tiga bentuk, yakni teks, foto dan video. Di sela-sela trio tersebut, bakal ada varian lain seperti grafis.

So, tak ada kata selamat tinggal bagi sepak bola Eropa. Oleh karena itu, sepertinya frase ini cocok: Selamat tinggal Eropa, Selamat datang Eropa.

Salam

5 dari 5 halaman

Video Euro 2020

Video Populer

Foto Populer