Dari Eva Duarte ke El Clasico Beruntun: Evolusi Panjang Piala Super Spanyol

Piala Super Spanyol mungkin kerap dipandang sebagai trofi pelengkap, namun perjalanan sejarah kompetisi ini justru menyimpan cerita panjang dan penuh perubahan.

Bola.com, Jakarta - Piala Super Spanyol mungkin kerap dipandang sebagai trofi pelengkap, namun perjalanan sejarah kompetisi ini justru menyimpan cerita panjang dan penuh perubahan. Dari ajang eksperimental pada era 1940-an hingga kini menjadi turnamen prestisius dengan nuansa El Clasico yang berulang, Supercopa de España telah berevolusi jauh dari bentuk awalnya.

Dalam format modernnya, Piala Super Spanyol resmi digelar sejak 1982. Namun, gagasan mempertemukan juara liga dan juara Copa del Rey sejatinya sudah muncul beberapa dekade sebelumnya. Sepak bola Spanyol pernah mencoba konsep serupa lewat Copa de los Campeones de España dan Copa Eva Duarte, dua turnamen yang menjadi cikal bakal Supercopa.

Meski idenya sederhana, perjalanan kompetisi ini tidak selalu mulus. Beberapa edisi bahkan tak pernah dimainkan, sebelum akhirnya menemukan bentuk yang kini dikenal publik global.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 5 halaman

Lahir, Hilang, Lalu Bangkit Kembali

Eksperimen awal pada 1940-an dan awal 1950-an berumur pendek. Pada 1952 dan 1953, Barcelona menyapu bersih gelar La Liga dan Copa del Rey. Alih-alih memainkan laga penentuan, Blaugrana langsung dianugerahi Copa Eva Duarte tanpa pertandingan.

Tak lama setelah itu, format tersebut ditinggalkan dan menghilang hampir tiga dekade. Baru pada 1982, Piala Super Spanyol kembali digelar secara resmi. Real Sociedad tercatat sebagai juara edisi perdana setelah menaklukkan Real Madrid dengan agregat 4-1.

Pada periode awal kebangkitannya, Supercopa tetap setia pada konsep dasar. Dua laga kandang-tandang mempertemukan juara La Liga dan juara Copa del Rey. Atmosfernya cenderung sederhana dan sering diperlakukan sebagai bagian dari pramusim, bukan target utama klub-klub besar.

 

3 dari 5 halaman

Perubahan Aturan dan Akhir Era Stabil

Meski relatif stabil, beberapa pengecualian sempat terjadi. Pada 1984 dan 1989, trofi ini kembali tidak diperebutkan setelah Athletic Club dan Real Madrid meraih gelar ganda domestik.

Untuk mencegah pembatalan serupa, federasi kemudian mengubah aturan. Jika satu tim memenangi La Liga dan Copa del Rey, maka finalis Copa del Rey berhak tampil di Piala Super.

Format tersebut bertahan lama hingga akhirnya perubahan besar datang pada 2018. Barcelona dan Sevilla memainkan Supercopa dalam satu laga di Tangier, Maroko. Setahun berselang, federasi Spanyol memperluas kompetisi menjadi empat tim.

 

4 dari 5 halaman

Era Arab Saudi dan Dominasi El Clasico

Mulai 2020, Piala Super Spanyol berubah menjadi turnamen mini. Dua semifinal dan satu final digelar pada Januari, seluruhnya di Arab Saudi. Hanya satu pengecualian terjadi pada musim 2020/2021, ketika pandemi COVID-19 memaksa ajang ini tetap berlangsung di Spanyol.

Sejak format empat tim diterapkan, Real Madrid menjadi kekuatan dominan dengan menembus enam dari tujuh final. Final edisi terbaru bahkan menandai El Clasico keempat secara beruntun sejak 2023, mempertegas daya tarik global turnamen ini.

 

5 dari 5 halaman

Catatan Juara, Legenda, dan Makna Baru

Barcelona masih menjadi klub tersukses dengan koleksi 15 gelar, disusul Real Madrid dengan 13 trofi. Athletic Club dan Deportivo de La Coruña masing-masing mengoleksi tiga gelar.

Lionel Messi tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Supercopa dengan 14 gol dari 20 pertandingan. Karim Benzema dan Raúl González menyusul dengan tujuh gol. Di antara pemain aktif, Robert Lewandowski memimpin dengan lima gol, diikuti Antoine Griezmann, Rodrygo, Raphinha, dan Vinicius Junior dengan empat gol.

Di kursi pelatih, Pep Guardiola dan Johan Cruyff menjadi yang paling sukses dengan tiga gelar. Zinedine Zidane dan Carlo Ancelotti menyusul dengan dua trofi bersama Real Madrid.

Secara hierarki, Piala Super Spanyol memang belum bisa menyaingi La Liga, Copa del Rey, atau Liga Champions. Namun, perubahan format dan momentum kompetisi yang kini digelar di tengah musim telah memberi makna baru. Supercopa tak lagi sekadar pemanasan, melainkan panggung prestisius yang sarat gengsi dan sorotan dunia.

Sumber: Managing Madrid

Video Populer

Foto Populer