Sukses

Informasi Umum

  • Tentang PerusahaanPT Djarum adalah salah satu produsen rokok di Indonesia yang terletak di Kudus, Jawa Tengah.
  • Didirikan21 April 1951
  • PendiriOei Wie Gwan

    Melongok Pabrik Rokok Milik Orang Terkaya di Indonesia

    Mendung menggelayut di kota Kudus sejak pagi hari. Hawa dingin yang menusuk tulang tak melunturkan semangat ribuan pekerja PT Djarum melinting, merapikan, dan mengepak jutaan batang rokok demi beberapa lembar puluhan ribu agar dapur tetap ngepul.

    Sebagai kota kretek, Kudus disesaki dengan pabrik-pabrik rokok skala besar hingga industri rumah tangga. Pabrik Djarum mendominasi wilayah ini.

    Pada Selasa (19/12/2017), Liputan6.com bersama awak media lain berkesempatan mengunjungi pabrik rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Karangbener dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) di Taman Oasis, Kudus.

    Pabrik ini milik orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2017, Hartono bersaudara, yakni R. Budi dan Michael Hartono dengan nilai kekayaan mencapai US$ 32,3 miliar atau sekitar Rp 436,05 triliun (kurs Rp 13.500 per dolar Amerika Serikat).

    Memasuki ‎pabrik rokok SKT di Karangbener, Kecamatan Bae, Kudus, suara khas alat linting rokok manual yang terbuat dari kayu terdengar menggema seisi ruangan. Tangan pekerja yang seluruhnya kaum hawa ini begitu cekatan melinting tembakau dan kertas rokok satu per satu. Kemudian dirapikan setiap ujungnya. Beban kerja ini dibagi dua orang yang menjadi satu tim.

    Kebetulan hari ini Djarum sedang memproduksi rokok kretek Djarum 76. ‎Menurut salah seorang Supervisor, Rudy Triyanto, produksi rokok SKT di pabrik ini mencapai 5,4 juta batang per hari, dan dikerjakan oleh sekitar 4.500 orang pekerja yang seluruhnya wanita. Sementara laki-lakinya bertugas sebagai Supervisor.

    "Pekerja di sini seluruhnya wanita. Laki-laki menjadi pengawas. Tadinya ada laki-laki yang melinting rokok, tapi seleksi alam maka dengan sendirinya yang bertahan kaum wanita. Lebuh kuat, rajin, dan teliti," terang Rudy.

    Salah seorang pekerja pabrik rokok Djarum, Siti Aguswati (32) mengungkapkan, dirinya telah bekerja di perusahaan pemilik mayoritas saham Bank BCA itu selama 15 tahun.

    "Enak bekerja di sini, kerja dari jam 6 pagi sampai jam 1 siang, dan dapat duit lumayan," kata Siti terkekeh saat berbincang dengan Liputan6.com.

     

     

    Peredaran Rokok Elektrik Ganggu Produksi Djarum

    Perusahaan rokok milik orang terkaya di Indonesia Hartono bersaudara, PT Djarum memperkirakan terjadi penurunan produksi rokok pada tahun ini sekitar 1,2 miliar batang atau 2 persen dari produksi tahun lalu. Salah satu penyebabnya karena peredaran rokok elektrik atau vape.

    "Penurunan sekitar 2 persen dari produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) tahun lalu sekitar 60 miliar batang rokok," kata Senior Production Manager Kretek Operations Djarum, Slamet Rahardjo saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Rabu (27/12/2017).

    Jika dihitung dari asumsi tersebut, maka penurunan produksi rokok 2 persen setara dengan sekitar 1,2 miliar batang. Dengan begitu, total produksi rokok SKT dan SKM di 2017 diperkirakan sekitar 58,8 miliar batang. Sayangnya Slamet mengaku tak memiliki data dampak rokok elektrik atau vape ke penjualan Djarum.

    Slamet mengaku, penurunan produksi rokok tahun ini salah satunya dipengaruhi oleh maraknya penjualan rokok elektrik atau vape. Ada perubahan gaya hidup masyarakat yang beralih dari rokok kretek maupun rokok putih ke rokok elektrik.

    "Mestinya sih ada pengaruhnya tapi belum signifikan karena kan baru 2 tahun ini beredar. Ada yang sekedar iseng-iseng coba vape, tapi ada yang beralih ke situ," Slamet menjelaskan.

    Lebih jauh kata dia, perusahaan tidak memaksa konsumen untuk mengonsumsi rokok kretek maupun rokok putih. "Itu semua tergantung selera konsumen, suka vape atau kretek. Kami tidak bisa memaksa," paparnya.

    Slamet mendukung langkah pemerintah mengenakan cukai bagi cairan rokok elektrik yang mengandung tembakau sebesar 57 persen per 1 Juli 2017.

    "Vape dikenakan cukai tahun depan, cukup baik lah. Kami dukung kalau sama-sama memberikan tambahan penerimaan negara. Selagi peredarannya diawasi dengan cukai, itu fair," tegasnya.