Modal Rp 100 Ribu, Suporter Semen Padang Tur Maraton Bali-Solo

oleh Gatot Susetyo diperbarui 18 Des 2015, 18:59 WIB
Suporter Semen Padang, The Kmers tergolong militan dalam mendukung tim kesayangan mereka di Piala Jenderal Sudirman, baik saat main di Bali maupun Solo. (Bola.com/Robby Firly)

Bola.com, Solo - Jumlah The Kmer's tak terlalu banyak saat mendukung kiprah Semen Padang di Piala Jenderal Sudirman (PJS) sejak babak penyisihan di Bali dan babak 8 besar di Solo. Faktor lokasi pertandingan yang sangat jauh dari Padang jadi alasan mereka tak bisa mengerahkan anggotanya.

"Waktu penyisihan di Bali ada 20 orang yang berangkat. Jumlah itu menyusut ketika Semen Padang lolos ke babak delapan besar di Solo. Jumlah kami tinggal sepuluh orang, sisanya balik ke Padang karena ada urusan pribadi," ungkap Yumami, Korlap The Kmer's.

Kendati hanya belasan suporter, namun loyalitas dan militansi mereka patut diacungi jempol. Perjuangan berat harus dilakukan Yumami dkk. sejak keberangkatan mereka dari Padang hingga tempat tujuan, baik Bali maupun Solo.

Advertisement

"Saya dan sembilan anggota The Khmers yang sekarang ada di Solo sudah 1,5 bulan meninggalkan keluarga. Kami berangkat 6 September dan kami butuh waktu lima hari untuk ke Bali. Sejak dari Padang, kami hanya menumpang truk, baik bak terbuka maupun pengangkut kiriman motor yang pulang ke Jawa," tutur Yumami.

Yumami cs. mengaku hanya berbekal uang Rp 100 ribu untuk tur maraton kali ini. Soal makan sehari-hari, mereka mengandalkan antarwarga Minang yang mayoritas membuka warung makan Padang di sepanjang perjalanan yang ditempuh.

"Kami punya IKM yang mewadahi warga Minang di perantauan. Sudah jadi perjanjian tak tertulis bila di antara kami harus saling menolong bagi sesama warga Minang. Biasanya kami minta makan sekadar untuk mengisi perut. Tapi, alhamdulillah ada saja saudara Minang yang memberi lebih, misalnya rokok atau uang jajan," kata Yumami.

Lain cerita lagi yang diungkapkan David dan Randes Piamban. Dua orang ini boleh dibilang kategori suporter bermodal. David yang orangtuanya punya peternakan sapi di Padang mengaku ke Solo dengan naik pesawat. Sementara Randes yang tinggal di Bintaro Jakarta punya usaha jasa servis barang-barang elektronik.

"Saya datang ke Solo sejak pertandingan pertama Semen Padang lawan PS TNI. Setelah lolos semifinal, saya balik lagi ke Jakarta. Kalau tur seperti ini, toko terpaksa saya tutup. Meski teman-teman telah berkorban materi dan tenaga, tapi kami puas bisa jadi saksi keberhasilan Semen Padang di turnamen ini. Seakan semua perjuangan kami telah terobati," ujar Randes.