Kabar dari Prancis: Prostitusi di Balik Gempita Piala Eropa (2)

oleh Ary Wibowo diperbarui 09 Jul 2016, 17:08 WIB
Suasana malam di Jalan Rue St Dennis, Paris, Prancis, Kamis (7/7/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

 

Laporan langsung jurnalis Bola.com, Ary Wibowo dan Vitalis Yogi Trisna, dari Paris, Prancis .... Kini, hanya wanita malam, "makelar", dan tunawisma yang tersisa di Rue Saint-Denis. Meski malam kian larut, Rue Saint-Denis pun tetap berdenyut, laiknya detak jantung para suporter sepak bola di Menara Eiffel yang hanya berjarak tujuh kilometer dari jalan tersebut.

JASHIMA (28), terlihat gelisah. Rokok di tangannya sesekali dihisap, lalu diletakan di asbak alumunium. Dia berdiri di samping hotel berbintang di sudut kota Paris. Kegelisahan Jashima, entah nama sebenarnya atau nama samaran, disebabkan salah satu "rekannya" berjanji akan bertemu.

Advertisement

Sudah hampir satu jam wanita asal Maroko itu berdiri. Selama penantian, beberapa batang rokok seharga 7 euro pun habis dihisap. Rok pendek, baju dengan model sebagian bahu terbuka, serta bibir bergincu merah, membuat daya pikat Jashima cukup menggoda bagi mata para pria.

Kedatangan Jashima ke hotel itu juga tidak gratis. Agar dapat masuk, dia harus menyisipkan uang 10 euro (sekitar Rp 144 ribu) kepada petugas. Maklum, dari penampilan saja, aura "wanita malam" Jashima sudah terasa. Biasanya, Jashima memiliki hotel-hotel langganan agar aman dari razia. 

"Kalau tidak mau dan hanya ingin mengobrol, Anda harus tetap membayar 100 euro. Jika mau, Anda juga harus membayar 260 euro untuk biaya petugas hotel, di luar sewa kamar," ujar dia. 

Subur
Meski secara resmi tidak diakui pemerintah Prancis, pelacuran tumbuh subur, seiring dengan perkembangan negara berpenduduk 66 juta jiwa tersebut sebagai daerah pariwisata. Belum lagi dengan status "negara imigran" yang membuat pertumbuhan manusia tak terkendali.

Pariwisata memang sektor penting bagi Prancis. Pada 2015, menurut laporan Cabot Wealth Management, kontribusi sektor itu mencapai 7,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebesar 398,54 juta euro. Salah satu daya tarik, selain tempat wisata, Prancis juga terkenal dengan sejarahnya.

Demi pariwisata itu, pemerintah Prancis pun terkesan seperti "menutup mata" terhadap praktik prostitusi. The Guardian edisi 24 September 2012 mencatat, terdapat lebih dari 20.000 pekerja seks komersial di Prancis, dengan 5.000 hingga 8.000 di antaranya berada di Paris.

Aktivitas para pekerja seks komersial saat di Rue Saint-Denis Paris, Prancis. (Bola.com/Ary Wibowo).

Pada 2013, parlemen Prancis sempat mengaji ulang legalisasi prostitusi. Namun, hal tersebut menuai pro dan kontra karena berpotensi memunculkan prostitusi terselubung. Contoh nyata, bisa dilihat dari berbagai aktivitas di Rue Saint-Denis, yang bagi masyarakat setempat berstatus "Red Distric".

Pada 7 April lalu, parlemen Prancis menyetujui UU baru yang membuat berbagai praktik prostitusi terselubung menjadi kegiatan ilegal. Dalam UU tersebut disebutkan, setiap pelanggan yang tertangkap menggunakan jasa PSK akan dikenai denda sebesar 1.500 euro. 

Namun, nyatanya, praktik prostitusi punya banyak cara. Meski sudah menjadi kegiatan ilegal, model-model wanita seperti Jashima mudah ditemui di jalan umum dan hotel dari bintang. Sasaran mereka pun beragam, mulai dari wisatawan, pebisnis, dan para pesepak bola.

Bersambung...

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Prancis dengan kualitas HD di sini