5 Fakta Menarik Kemenangan Cavaliers atas Warriors pada Gim 4

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 11 Jun 2017, 14:50 WIB
Duel pemain Warriors, Shaun Livingston (34) dan pemain Cavaliers, Deron Williams (31) pada gim keempat Final NBA 2017 di Quicken Loans Arena, (9/6/2017). (AP/Ron Schwane)

Bola.com, Ohio - Ada lima fakta menarik yang didapati dari kemenangan Cleveland Cavaliers atas Golden State Warriors dengan skor 137-116 pada Gim 4 Final NBA di Quickens Loans Arena, Jumat (9.6/2017) malam waktu setempat atau Sabtu (10/6/2017) WIB:

1. Kompetisi di Wilayah Timur Tak Lemah

Tunggu, ini adalah pukulan terbaik dari Cavaliers, kontras dengan yang tersaji pada Gim 3. Saat Cavaliers terlihat bakal tereliminasi, mereka mampu mengaum dan menjaga series final masih berlanjut. NBA senang, begitu juga dengan rekan broadcaster pemegang hak siar.

Advertisement

Namun, yang terjadi pada Jumat malam bukan sekadar Cavaliers ingin mencegah Warriors berpesta di Quickens Loans Arena dan di ruang ganti. Cavs bermain di Gim 4 seperti ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bertenaga dan potensial. Mereka mampu melakukannya dan kompetisi di Wilayah Timur tak lemah. 

Tak membiarkan Warriors menang dan berpesta di kandang mereka, jelas penting. Tapi yang tak kalah penting, Cleveland Cavaliers bangkit melawan denting kematian yang sudah ada di depan mata. Membuat fans dan penggemar NBA kembali ingat bahwa mereka bisa bermain sangat baik.

2 dari 3 halaman

1

Bintang Golden State Warriors, Stephen Curry. (AP Photo/Marcio Jose Sanchez)

2. Stephen Curry Sulit Menjadi MVP Final NBA

Sepanjang tiga gim, Kevin Durant, jadi andalan Warriors. Dia berperan seperti pembeda dalam pertandingan, layaknya yang diinginkan Warriors saat merekrutnya.

Pada Gim 4, Stephen Curry, tampil buruk. Dia gagal memasukkan tembakan yang semestinya bisa dilakukan dengan mata tertutup. Dia juga tak banyak membantu dalam bertahan. Padahal di sisi lain, pemain Cleveland Cavaliers tampak nyaman memberikan kontribusi, dan bahkan Deron Williams tampak hidup. Turnovers yang dilakukan Curry juga lebih besar daripada 10 assist yang disumbangkannya.

Tapi, Curry tak sendirian. Klay Thompson tak benar-benar panas. Zaza Pachulia malah lebih tampak seperti menari ketimbang menjadi pahlawan yang tak terlihat.

Golden State memulai pertandingan dengan halus dan tentatif, bahkan tak benar-benar memberi tekanan saat Cavaliers unggul dua digit poin. Dengan hanya butuh satu kemenangan lagi bagi Warriors untuk merengkuh mahkota juara NBA, Curry tampaknya tak akan jadi MVP Final NBA yang pemenangnya berhak mendapat trofi Bill Russell.

3. Cavaliers Bermain Sangat Agresif dan Keras

Cavaliers bermain lebih mengandalkan fisik pada Gim 4 ini, Hasilnya, mereka mencatat lebih banyak foul dibanding Warriors pada kuarter pertama (12-6). Namun, jumlah lemparan bebas yang didapat Cavs lebih banyak (22 untuk Cleveland, 11 untuk Golden State).

Coba bayangkan jika Cavs tak gagal dalam delapan tembakan di kuarter tersebut. Padahal dengan delapan kegagalan itu mereka mampu mencetak 49 poin hanya dalam satu kuarter.

Setelah itu, sangat sulit bagi Warriors melakukan comeback. Draymond Green pun mengakuinya. "Anda harus memberikan kredit kepada mereka. Mereka sangat agresif. Tapi, saat setiap orang mendapat dua foul, sangat sulit menyaingi mereka secara fisik," ujar Green.

3 dari 3 halaman

2

Pemain Warriors, Andre Iguodala (9) berusaha memasukan bola dari kawalan pemain Cavaliers, JR Smith (5) pada gim keempat Final NBA 2017 di Quicken Loans Arena, Ohio (9/6). Cavaliers menghajar Golden State Warriors 137-116. (Jason Miller/Getty Images/AFP)

4. Sejarah Telah Tercipta

Ok, jadi kita tak bakal melihat rekor 16-0 pada babak playoff dalam sejarah NBA. Mungkin tak akan pernah.

Tapi, kita melihat sesuatu yang sangat jarang terjadi, tim yang tertinggal 0-3 berusaha menghentikan sapu bersih tim lawan.

Delapan dari 12 tim yang kalah tiga gim pertama, pada best of seven competition, juga kalah pada gim keempat. Namun, empat tim lainnya mampu menang di Gim 4, dan sekarang Cavaliers menjadi tim kelima. Empat tim sebelum Cavaliers tersebut adalah Chicago Stags (1947), Washington Capitols (1949), Seattle Supersonic (1990) dan New York Kicks (1951).

Sekarang Cleveland berharap mengulang comeback tahun lalu, saat mampu menjadi juara setelah tertinggal 1-3 di final, juga melawan Warriors.

Selain itu, juga ada sejarah lain: Cleveland mencetak rekor poin dalam satu kuarter di laga final (49), dan juga pada paruh pertandingan final (86), tembakan tiga angka terbanyak (24), dan melalui sembilan triple-double James di final (mengalahkan Magic Johnson yang mencetak delapan triple double).

5. Jika Berlanjut ke Gim 6, maka bakal menjadi Gim 7

Golden State Warriors tak ingin pengalaman buruk musim lalu terulang lagi. Mereka saat itu sudah unggul 3-1 atas Cavs di final, namun akhirnya kalah 3-4.

Kali ini, Warriors bertekad menyudahi laga final pada Gim 5, di kandang sendiri, Oracle Arena. Namun, itu bukan misi mudah jika Cavaliers mampu bermain agresif seperti pada Gim 4.

Yang jelas, Warriors tak akan membiarkan pertandingan berlanjut ke gim keenam, karena kemungkinan besar malah akan lanjut ke Gim 7.