Eka Ramdani, Si Gaek yang Kembali Bersinar di Persela

oleh Zaidan Nazarul diperbarui 17 Jul 2017, 08:15 WIB
Wawancara eksklusif Bola.com dengan Eka Ramdani. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Lamongan - Usia Eka Ramdani saat ini sudah kepala tiga (33 tahun). Untuk ukuran pemain, gelandang yang mengawali karier profesionalnya bersama Persib Bandung pada musim 2002-2003 itu sudah melewati masa emasnya.

Tak sedikit yang memprediksi Eka bakal sulit bersinar ketika memutuskan bergabung dengan Persela Lamongan pada pramusim lalu. Namun tebakan itu meleset. Eka membuktikan usianya yang tidak lagi muda bukan halangan baginya.

Eka memang sempat menjadi penghangat bangku cadangan hingga pekan ke-6 Liga 1 2017. Ia baru terpilih menjadi starter pada pekan ke-7 kala Persela menghajar Arema FC. Ini menjadi debut mengesankan bagi pemain mungil sebagai starter, sebab Eka turut mengantarkan timnya menang telak 4-0.

Advertisement

Pada pertandingan tersebut, pemain kelahiran Purwakarta, 18 Juni 1984 menjadi salah satu pemain kunci dalam menaklukkan Arema. Eka menjadi motor serangan Persela Umpan-umpan akurat serta kemampuannya mendistribusikan bola membuat aliran bola Persela berjalan lancar.

Sejak saat itu, Eka menjadi pilihan utama sang pelatih Heri Kiswanto. Pilihan yang tepat, sebab penampilan ayah empat anak ini kian bersinar. Salah satu penampilan terbaiknya ketika Persela melumat Pusamania Borneo FC 3-1 di Lamongan. Ia mencetak gol melalui proses yang sangat apik.

Lantas, apa yang membuat Eka tetap tampil bagus di usianya yang sudah tergolong gaek? berikut wawancara Bola.com dengan Eka Ramdani.

Apa resepnya bisa bermain stabil di usia yang tak lagi muda?

Komitmen pada diri sendiri. Wujudnya bisa bermacam-macam. Mulai jaga kondisi, latihan keras, jaga asupan gizi, dan terus memupuk motivasi agar tak kalah dengan pemain muda.

Bukan berarti tidak memberikan kesempatan pada pemain muda, tapi ingin jadi contoh yang baik bagi junior di Persela. Selain itu, tanggung jawab terhadap profesi, dan ingin memberikan yang terbaik bagi tim, suporter, serta keluarga.

Bagaimana perasaan Anda ketika menjadi cadangan di awal musim?

Pasti tidak ada satu pun pemain yang senang dicadangkan, begitu pula saya. Tapi saya bukan tipikal pemain yang marah-marah kalau dicadangkan. Saya sudah tergolong senior, harus menunjukkan bahwa saat itulah profesionalisme seorang pemain diuji. Semua pemain harus mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan dialami nanti. Maka itulah, sejak awal saya sudah mempersiapkan diri jadi pemain cadangan.

Sabar menunggu saat yang tepat, saya yakin tidak ada usaha yang sia-sia. Saya tetap berlatih keras, dan berusaha maksimal memberikan yang terbaik di setiap latihan, maupun ketika diberi kesempatan main. Syukur akhirnya kesempatan itu datang juga.

Apa yang Anda rasakan ketika kali pertama menjadi starter di Persela? Apakah ada motivasi tersendiri agar terus menjadi pemain starter?

Pasti senang, tapi tidak berlebihan karena saya sudah merasakan jatuh-bangun, dan suka duka selama berkarier. Seperti halnya hidup, terkadang di atas, kadang di bawah. Tergantung manusianya menyikapinya.

Motivasi besar tetap ada, tapi yang menjadi prioritas adalah memberikan kontribusi sebesar-besarnya pada tim setiap turun lapangan. Soal dipilih atau tidak, semua ada di tangan pelatih.

2 dari 2 halaman

Siapkan Usaha

Eka Ramdani tetap menjaga stamina dan komitmen meski usianya sudah memasuki 33 tahun. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Apa yang membuat Persela bisa meraih prestasi apik seperti sekarang?

Mungkin karena tidak ada bintang, atau yang merasa jadi bintang di tim ini, semua sama. Semua pemain merasa senasib, bekerja keras, mengutamakan kerjasama, dan memiliki tujuan yang sama, yakni membawa Persela memenangi setiap pertandingan.

Selain itu, dukungan suporter yang melimpah di setiap pertandingan. Jadi, meski Persela dianggap sebagai tim kecil, kami memiliki kekuatan yang sangat besar.

Soal bisnis pribadi, Apakah Anda masih usaha beras?

Saya jalankan usaha beras ketika absen di turnamen Piala Jenderal Sudirman dan TSC 2016. Musim ini saya main lagi di kompetisi resmi, usaha saya stop dulu. Alasannya, tidak ada yang mengelola kalau saya tinggal jauh seperti sekarang.

Saya tidak bisa pasrahkan ke orang lain karena usaha ini masih merintis. Mungkin nanti setelah saya gantung sepatu, baru saya buka usaha lagi.

Kabarnya sempat punya beberapa usaha lain?

Benar, saya sempat usaha distro pakaian jadi, tapi sekarang tutup. Saya juga sempat usaha kedai mie hijau. Bahkan sebelum buka, saya ikut pelatihan usaha mie di Bandung waktu itu. Sebetulnya hasilnya lumayan, tapi karena kesibukan saya sebagai pemain, usaha itu tidak jalan juga.

Ada rencana kapan gantung sepatu? Apakah bakal buka usaha lagi?

Saya sudah memasuki usia tak lagi produktif untuk seorang atlet. Mungkin beberapa tahun ke depan saya sudah tidak main bola lagi. Saat itulah saya ingin buka usaha. Hasilnya untuk menafkahi keluarga setelah pensiun dari bola.

Sudahkah ada gambaran usaha apa yang akan Anda tekuni?

Gambaran sudah ada, tapi lebih baik saya matangkan dulu, menguasai ilmunya, baru buka usaha. Kalau tidak menguasai ilmunya, sangat berisiko. Karena untuk usaha, banyak uang yang akan digunakan. Jangan sampai baru buka sudah gulung tikar.