Cerita Cak Irul: 8 Tahun Melatih Perseru, 2 Kali Menyabung Nyawa di Lautan Lepas

oleh Gatot Susetyo diperbarui 15 Jan 2019, 09:45 WIB
Choirul Huda atau yang akrab disapa Cak Irul, tujuh tahun berjuang bersama Perseru. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Bola.com, Malang - Loyalitas dan keseriusan asisten pelatih Perseru, Choirul Huda, terhadap profesinya di dunia sepak bola sulit ditandingi pelatih mana pun yang beredar di sepak bola Indonesia. Betapa tidak, hampir 10 tahun beruntun dia bertualang di klub-klub Papua.

Kariernya diawali sebagai asisten pelatih Djoko Susilo di Persiwa Wamena. Kemudian pria asal Lamongan yang akrab disapa Cak Irul ini diminta membidani kelahiran Perseru Serui, yang saat itu berkiprah di Divisi Dua musim 2010.

Advertisement

"Sebenarnya melatih di Persiwa atau Perseru sama saja. Dua klub itu milik keluarga besar marga Banua. Persiwa didanai John Banua, yang saat ini jadi Bupati Wamena. Sedangkan Perseru dibiayai Yance Banua, kakak kandung John Banua. Jadi, intinya saya ini mengabdi di keluarga Banua," ungkap Cak Irul.

Tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus menafkahi istri dan anakyang tinggal di Kepanjen, Kabupaten Malang, membuat Cak Irul semakin total menggeluti profesinya.

Meski, untuk itu dia harus menempuh perjalanan panjang Malang-Serui dengan penerbangan yang bisa memakan waktu rata-rata 15 jam.

Bahkan Cak Irul dua kali sempat menyabung nyawa di lautan dalam perjalanan menggunakan perahu motor menyeberangi Selat Saireri dari Biak ke Serui, atau sebaliknya.

"Peristiwa pertama pada 2013, ketika Perseru main di Divisi Utama. Kedua, 2016, saat saya membawa tim U-21 ke Makasar. Dua kejadian itu sama, karena cuaca buruk di laut. Kondisi saat itu langit gelap disertai hujan badai besar. Gelombang laut pun sangat tinggi. Saking tingginya, ombak itu seolah mau menelan speed boat yang kami tumpangi," tuturnya.

2 dari 3 halaman

Kadang Menyenangkan

Tetapi, sekarang perjalanan Biak-Serui lebih nyaman dan tak berisiko karena telah ada penerbangan reguler, meski hanya tiga hari sekali dengan pesawat Trigana.

"Soal cuaca buruk di laut, tim Sriwijaya FC yang saat itu dilatih Widodo C. Putro untuk melawan Perseru, sempat terdampar di sebuah pulau. Mereka dipecah dua rombongan dengan naik dua speed boat. Perahu yang satu sudah merapat di Saubeba Serui, satunya terdampar dan sempat dicari tim penyelamat," ungkapnya.

Cak Irul menceritakan bila cuaca laut bagus, dia bisa menyaksikan koloni ikan terbang atau lumba-lumba yang meloncat-loncat di atas permukaan air. "Rombongan ikan-ikan itu bisa dalam jumlah besar. Kalau cuaca bagus, perjalanan laut sangat menyenangkan," katanya.

choirul huda asisten pelatih Perseru Serui
3 dari 3 halaman

Salut dengan Talenta Papua

Selama 10 tahun di Tanah Papua, Cak Irul punya banyak kenangan lucu saat melatih, terutama ketika menangani tim Persiwa U-21.

"Geografis Wamena pegunungan. Banyak pemain berasal dari keluarga biasa saja. Seperti Stefanus 'Hanoman' Alua yang saat ini di Persija. Dia dulu kalau berangkat latihan harus jalan kaki sejauh tiga kilometer naik turun gunung dengan kaki telanjang. Pemain lain juga banyak yang seperti Hanoman itu. Karena gaji pemain U-21 kecil, daripada naik ojek ongkosnya mahal, mereka memilih jalan kaki," cerita Cak Irul.

Cak Irul benar-benar salut dengan perjuangan serta talenta alami yang dimiliki anak-anak Papua, terutama pemain asal Serui, tempat dia mengabdi saat ini bersama Perseru.

"Kalau di Serui, saya tak pusing cari pemain. Banyak anak-anak berbakat. Biasanya seleksi kami lakukan di Alun-Alun Trikora dengan permukaan lapangan berbatu. Setelah seleksi selesai, baru kami latihan di Stadion Marora," ujarnya.

Banyak mantan pemain atau yang saat ini beredar di klub-klub Indonesia berasal dari Serui. Kebanyakan mereka berasal dari marga Bonai, Imbiri, atau Wanggai. Dari marga Bonai seperti Titus Bonai dan Arthur Bonai. Marga Wanggai ada Emanuel Wanggai, Patrich Wanggai, dan Issac Wanggai.

"Saat ini marga Imbiri seperti Steven dan Fandri Imbiri yang naik daun. Marga Wanggai dan Imbiri ini kebanyakan tinggal di Kampung Laut Ambai. Rumah mereka berbentuk panggung di atas laut," kata Cak Irul.