6 Kutukan yang Tidak Bisa Diterima Akal Sehat di Dunia Sepak Bola Dunia

oleh Ario Yosia diperbarui 27 Mar 2019, 10:01 WIB
Mesut Ozil dengan tatapan kosong melihat setelah timnya kalah 0-2 dari Korea Selatan pada laga grup F Piala Dunia 2018 di Kazan Arena, Kazan, Rusia, (27/6/2018). Kekalahan tersebut membuat Jerman gagal melju ke babak 16 besar. (AP/Frank Augstein)

Bola.com, Jakarta - Sepak bola adalah olahraga yang terus mengalami perkembangan seiring dengan berjalannya waktu, sesuatu yang terjadi berkat adanya berbagai inovasi teknologi dan ide lainnya yang memungkinkan perkembangan tersebut.

Tetapi berbagai perkembangan tersebut kadang tidak membuat adanya perubahan mengenai keyakinan atau kepercayaan yang sudah berlangsung dalam waktu yang lama.

Advertisement

Kadang terdapat berbagai hal buruk yang terjadi dalam waktu yang lama, yang membuat munculnya keyakinan bahwa sebuah klub, negara, atau pemain mengalami kutukan yang sulit untuk dihentikan. Faktor mistis jadi bumbu dunia sepak bola.

Berikut adalah tujuh kutukan dalam dunia sepak bola.

Saksikan siaran langsung pertandingan-pertandingan Premier League, La Liga, Ligue 1, dan Liga Europa di sini.

2 dari 7 halaman

Kutukan Gipsi Birmingham City

Striker Obafemi Martins memastikan kemenangan Birmingham City atas Arsenal pada final Piala Liga Inggris 2011. (Telegraph)

Kehadiran sebuah klub sepak bola dapat memberikan dampak positif maupun dampak negatif dalam sebuah lingkungan dan penduduk yang menempatinya, terutama ketika ada proyek yang menyebabkan perlunya relokasi dari penduduk tersebut.

Hal ini dirasakan oleh Birmingham City ketika mereka pindah ke St. Andrew’s pada 1906. Gipsi yang berada di daerah tersebut memberikan kutukan selama 100 tahun akibat terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Selama periode tersebut Birmingham beberapa kali merasakan degradasi dan tidak dapat bertahan di divisi teratas sepak bola Inggris. Baru pada 2006 kutukan itu bisa dikatakan berakhir karena Birmingham mendapatkan piala pertama dalam sejarah mereka setelah mengalahkan Arsenal dengan skor 2-1 dalam final League Cup.

3 dari 7 halaman

Karma Timnas Australia

Timnas Australia. (Bola.com/Dok. AFC)

Mendapatkan dukungan dari faktor mistis juga merupakan sesuatu yang kadang terjadi dalam dunia sepak bola, dan hal ini dicoba oleh Tim Nasional Australia ketika mereka dalam kualifikasi menuju Piala Dunia 1970.

Mendapatkan dukungan yang membuat mereka menang atas Rhodesia (kini menjadi Zimbabwe) dari dukun pada tahap kualifikasi pertama, dukun tersebut meminta pembayaran atas jasanya.

 Setelah tidak mendapatkan pembayaran atas jasanya, dukun tersebut membalikkan dukungannya menjadi kutukan kepada Australia yang membuat mereka gagal lolos. Pada 1974 mereka lolos ke fase grup namun langsung tersingkir tanpa mencetak satupun gol.

 Seorang dokumenter dari Australia pada akhirnya merasa tertarik dengan kutukan tersebut dan berkunjung ke Afrika untuk berusaha mengakhirinya, dan pada 2006 akhirnya The Socceroos berhasil mencapai Piala Dunia dan lolos ke babak 16 besar.

4 dari 7 halaman

Kutukan Juara Bertahan Piala Dunia

Gelandang timnas Jerman, Mesut Ozil bereaksi setelah kalah dari Korea Selatan pada pertandingan Grup F di Kazan Arena, Rusia, Rabu (27/6). Jerman selaku juara bertahan Piala Dunia gagal lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2018. (Luis Acosta / AFP)

Masih berkaitan dengan Piala Dunia, kutukan kali ini datang kepada tim yang berhasil menjadi juara dalam turnamen yang diselenggarakan setiap empat tahun tersebut, yang dimulai sejak 2002 ketika Brasil mendapatkan gelar juara di Jepang-Korea Selatan.

Tim yang menjadi juara seringkali tersingkir pada fase grup, hal ini dirasakan oleh Prancis pada 2002 (setelah menjadi juara pada 1998) Italia pada 2010 (setelah menjadi juara pada 2006), Spanyol pada 2014 (setelah menjadi juara pada 2010), dan terakhir kali oleh Jerman pada 2018 (setelah menjadi juara pada 2014).

Walau berbagai faktor dapat dianggap sebagai penyebab terjadinya kegagalan bagi negara-negara tersebut, tetapi hal ini menyebabkan kutukan tersebut seakan membayangi seluruh tim yang menjadi juara Piala Dunia

5 dari 7 halaman

Bayer Leverkusen dan Cap Neverkusen

Bek Bayern Munchen, Jerome Boateng, berebut bola dengan gelandang Bayer Leverkusen, Julian Brandt, pada laga DFB Pokal di Stadion BayArena, Selasa (17/4/2018). Bayern Munchen menang 6-2 atas Bayer Leverkusen. (AP/Martin Meissner)

Era kesuksesan sebuah tim umumnya diwarnai dengan berbagai gelar atau momen yang membuat pendukung mereka merasakan kebanggaan yang luar biasa, namun hal ini tidak dapat dialami oleh Bayer Leverkusen, yang merasakan periode tersebut pada 1990 hingga saat ini.

Tim tersebut finis di peringkat kedua Bundesliga dalam tiga tahun beruntun pada 1999 hingga 2002. Pada musim 2001-2002 mereka juga finis di peringkat kedua dalam ajang DFB Pokal dan Champions League. Kutukan tersebut juga terlihat memberikan pengaruh kepada Timnas Jerman, yang kalah di final Piala Dunia 2002 ketika skuat mereka diisi oleh lima pemain Leverkusen.

6 dari 7 halaman

Meksiko di Babak 16 Besar Piala Dunia

Timnas Meksiko menang 2-1 atas Korea Selatan pada laga lanjutan Grup F Piala Dunia 2018, di Rostov Arena, Sabtu (23/6/2018) malam WIB. (AFP/Khaled Desouki)

Quinto Partido adalah dua kata yang selalu membayangi Timnas Meskiko setiap kali mereka berpartisipasi dalam Piala Dunia. Kedua kata itu menggambarkan kegagalan mereka untuk melewati babak 16 besar setelah Piala Dunia 1994.

Kekalahan pada babak 16 besar dari Jerman (1998), Amerika Serikat (2002), Argentina (2006 dan 2010), Belanda (2014), dan Brasil (2018) membuat Meksiko masih belum dapat mengakhiri kutukan tersebut hingga saat ini.

7 dari 7 halaman

Kutukan Bela Gutmann untuk Benfica

Gelandang Benfica asal Portugal, Joao Felix. (AFP/Patricia de Melo Moreira)

Menghargai setiap karyawan adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan di dunia, tak terkecuali bagi sebuah klub sepak bola dengan pemain dan pelatih mereka.

Hal ini tidak dilakukan oleh Benfica ketika mereka menolak permintaan dari sang pelatih, Bela Guttmann, untuk menaikkan gajinya setelah memberikan dua gelar juara Liga Portugal, satu Piala Portugal, dan dua Piala Eropa.

Pada 1962, ketika Guttmann membawa tim tersebut meraih titel tingkat Eropa untuk kedua kalinya, sang pelatih meminta klub Portugal itu untuk menaikkan gajinya, tetapi ditolak dan kontraknya justru diputus oleh pihak klub. Guttmann kemudian mengatakan bahwa Benfica tidak akan menjadi juara Eropa selama 100 tahun berikutnya.

Setelah kutukan tersebut diberikan, Benfica sudah tampil dalam lima final Champions League dan tiga UEFA Cup / Europa League, dan selalu kalah dalam delapan kesempatan tersebut.

Sumber: 90min

Berita Terkait