Pembelaan Manajer Persebaya terkait Pemecatan Djadjang Nurdjaman

oleh Aditya Wany diperbarui 13 Agu 2019, 16:10 WIB
Candra Wahyudi, manajer Persebaya. (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Surabaya - Kabar pemecatan Djadjang Nurdjaman sebagai pelatih kepala Persebaya Surabaya sempat menjadi perbincangan panas, Sabtu (10/8/2019). Bonek, suporter Persebaya, masih membicarakan hal itu lewat berbagai akun media sosial hingga hari ini. 

Satu di antara beberapa topik yang menjadi pembahasan adalah keputusan manajemen memecat Djanur, sapaan akrab Djadajng, di apartemen setelah turun dari bus, sepulang dari Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Djanur juga tidak merasa diberi teguran sebelum diberhentikan. 

Advertisement

Muncul pula anggapan bahwa manajemen Persebaya kini menuruti kemauan Bonek, mengingat muncul teriakan “Djanur Out” pada pertandingan melawan Madura United, Sabtu.

Manajer Persebaya, Candra Wahyudi, menegaskan pihaknya punya penilian terkait pengambilan keputusan. 

“Manajemen punya pertimbangan untuk menentukan status siapapun dalam tim. Entah itu pelatih, pemain, dan sebagainya. Kami punya level penilaian kapan harus mengambil keputusan. Ketika kami melakukan evaluasi kemarin, ya seperti itu,” kata Candra. 

Sebelumnya, Candra menyebut alasan pihaknya memberhentikan Djanur adalah rentetan hasil negatif Persebaya. Dalam tujuh laga terakhir, Persebaya hanya mampu menang sekali, yaitu saat unggul 1-0 atas Persipura Jayapura (2/8/2019). 

“Persebaya punya ukuran. Setelah 13 pertandingan, Persebaya menilai bahwa posisi tim belum aman juga. Berkaca dari musim lalu Persebaya di putaran pertama, kami dapat 23 poin. Sekarang memang ada beberapa pertandingan memang,” ucap Candra. 

“Tapi, ada tantangan Persebaya Surabaya meraih hasil lebih baik dari musim lalu. Kemudian selisih perolehan poin dengan tim di bawahnya juga sangat tipis. Jadi sebenarnya posisi ketujuh itu juga belum seratus persen aman,” imbuh pria asli Bojonegoro itu. 

2 dari 2 halaman

Kehilangan Banyak Poin di Kandang

Sugiantoro menjalani hari perdana sebagai pelatih caretaker Persebaya dengan memimpin latihan di Lapangan Polda Jatim (12/8/2019). (Bola.com/Aditya Wany)

Satu hal krusial yang membuat manejemen harus bergerak mengganti pelatih adalah karena Persebaya kehilangan poin dalam laga kandang.

“Yang lebih penting, manajemen menilai kinerja tim ini perlu lebih ditingkatkan lagi, karena sudah banyak kelihangan poin di kandang, lima kali kita seri. Berarti ada sepuluh point (hilang) di kandang. Jadi, ada banyak ukuran,” ujarnya. 

Musim lalu, Djanur membuat Persebaya sebagai tim yang minim hasil imbang di Liga 1 2018. Dalam 14 pertandingan, dia hanya imbang sekali. Itu terjadi saat Persebaya menahan 3-3 Sriwijaya FC.

Tapi, musim ini malah menjelma sebagai “raja imbang”. Persebaya memang belum terkalahkan di kandang, namun lima pertandingan di antaranya berakhir seri. Kehilangan 10 poin di kandang menjadi catatan penting buat manajemen persebaya.

Saat ini, Bajul Ijo berada di peringkat ketujuh dengan 18 poin dari 13 pertandingan di Liga 1 2019. Mereka memiliki selisih 11 poin dengan Tira Persikabo di puncak klasemen. Selisih poin dengan Persela Lamongan hanya tujuh saja yang menguhini peringkat ke-15, posisi satu strip di atas zona degradasi.

Berita Terkait