Kiprah Timnas Indonesia di Piala Asia, Kandang Kita 2007 dan Gol Salto Legendaris 1996

oleh Benediktus Gerendo Pradigdo diperbarui 12 Mei 2023, 18:38 WIB
Logo Piala Asia 2007 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Sejak pertama kali Piala Asia digelar pada 1956, Timnas Indonesia tercatat baru empat kali mengikuti kejuaraan tertinggi di bawah konfederasi AFC itu. Satu di antaranya sebagai tuan rumah bersama Piala Asia 2007 dengan Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Edisi 2007 menjadi momen terakhir Timnas Indonesia berkiprah di Piala Asia, setidaknya hingga saat ini. 11 tahun sebelumnya jadi momen untuk pertama kalinya Tim Garuda lolos dalam kejuaraan itu, yaitu Piala Asia 1996 di Uni Emirat Arab.

Advertisement

Setelah tiga kali beruntun tampil di Piala Asia, Indonesia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah kejuaraan AFC tersebut. Bersama Malaysia, Vietnam, dan Thailand, Indonesia menggelar Piala AFC 2007.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Asia digelar dengan empat negara tuan rumah, di mana itu juga untuk pertama kalinya dalam sejarah lebih dari dua negara bergabung menjadi tuan rumah dalam sebuah kejuaraan yang digelar oleh konfederasi besar hingga akhirnya UEFA bakal melakukannya di Piala Eropa 2020.

Dalam turnamen kali ini juga, untuk pertama kalinya AFC menggelar turnamen tersebut di tahun ganjil, di mana sebelumnya AFC selalu menggelarnya di tahun genap, mulai dari 1956 hingga 2004. Australia juga untuk pertama kalinya mengikuti kejuaraan yang digelar AFC di Piala Asia 2007.

Empat tim tuan rumah terpisah dalam setiap grup, di mana Timnas Indonesia tergabung dalam Grup D bersama Bahrain, Arab Saudi, dan Korea Selatan.

 

Video

2 dari 4 halaman

Ini Kandang Kita!

Suporter Indonesia mengibarkan bendera raksasa sebagai bentuk dukungan buat tim nasional sepakbola pada even Piala Asia 2007 di SUGBK, Jakarta, AFP PHOTO/Jewel SAMAD

Sebagai tim tuan rumah, Timnas Indonesia mempersiapkan turnamen ini dengan sangat baik. Jelang turnamen digelar, atribut dukungan untuk Timnas Indonesia terpampang di jalan-jalan ibu kota.

Penampakan Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, dan Elie Aiboy hadir dengan tagline "Ini Kandang Kita". Ketiga pemain tersebut masing-masing diibaratkan seperti tokoh pewayangan. Ponaryo di lini tengah laksana Krisna, Bambang Pamungkas sebagai ujung tombak diibaratkan sebagai Arjuna. Sementara Elie Aiboy yang memiliki stamina kuat dilukiskan sebagai Gatot Kaca.

Semangat tersebut ternyata tidak tidak terlalu mampu membuat Stadion Utama Gelora Bung Karno penuh di pertandingan pertama yang digelar pada 10 Juli 2007. Dari catatan yang ada di AFC, sekitar 60 ribu penonton yang hadir di Senayan. Padahal dalam laga itu, Tim Garuda meraih kesuksesan.

Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas membawa Indonesia menang 2-1 atas Bahrain di laga pertama. Kemenangan ini menjadi sebuah pembalasan yang sangat manis terhadap Bahrain. Pasalnya, kedua tim bertemu di laga terakhir Grup A Piala Asia 2004 di China, di mana Indonesia takluk 1-3 dalam laga itu.

Kemenangan itu langsung menarik minat besar masyarakat untuk mendukung langsung ke SUGBK, di mana dalam dua laga selanjutnya yang dijalani Tim Garuda, SUGBK menampung sampai 88 ribu penonton.

Sayang, Timnas Indonesia harus mengalami kekalahan dalam dua laga berikutnya. Timnas Indonesia kalah 1-2 dari Arab Saudi di laga kedua. Satu gol Elie Aiboy tidak bisa menyelamatkan Tim Garuda dari kekalahan.

Namun, kekalahan tersebut dianggap tidak terlalu buruk sehingga masyarakat masih begitu antusias memberikan dukungan saat laga kontra Korea Selatan. Sayang, Tim Garuda kalah tipis 0-1 dalam laga tersebut.

Timnas Indonesia bukan satu-satunya tim tuan rumah yang gagal melangkah ke babak selanjutnya. Malaysia dan Thailand pun juga mengalami hal yang sama. Hanya Vietnam yang berhasil melangkah ke perempat final dan kandas di tangan Irak yang pada akhirnya menjadi juara Piala Asia 2007.

3 dari 4 halaman

Edisi Perdana di Piala Asia dan Gol Salto Fantastis Widodo C Putro

Widodo C. Putro berfoto di depan replika dirinya yang legendaris saat mencetak gol salto di Piala Asia 1996. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Piala Asia 1996 jadi momen perdana Timnas Indonesia berkiprah di Piala Asia. Tim Garuda yang diasuh Danurwindo itu masuk dalam Grup A Piala Asia 1996 yang diikuti oleh 12 tim yang lolos.

Timnas Indonesia tergabung bersama Kuwait, Korea Selatan, dan tuan rumah Uni Emirat Arab. Skuad Garuda diisi oleh pemain-pemain yang cukup menjanjikan saat itu.

Kurnia Sandy menjadi andalan di bawah mistar gawang, dengan Yeyen Tumena, Aples Tecuari, Sudirman, Marzuki Bardiawan, dan Agung Setyobudi mengawal lini pertahanan di pertandingan pertama menghadapi Kuwait.

Bima Sakti, Chris Yarangga dan Supriyono berada di lini tengah, di mana duet lini depan diisi oleh Ronny Wabia dan Widodo Cahyono Putro. Dalam laga inilah gol salto legendaris Widodo tercipta.

Pada menit ke-20 memanfaatkan umpan silang Ronny Wabia dari sisi kanan, Widodo yang berada di dalam kotak penalti bereaksi dengan melompat dan membalikkan badannya untuk melakukan tendangan salto. Bola dengan deras masuk ke dalam gawang Kuwait.

Gol tersebut mengundang decak kagum. Bahkan pelatih dan kiper Kuwait, sama-sama melontarkan pujian terhadap gol yang dicetak oleh Widodo itu. “Kungfu gol! Saya tiga kali memimpikan gol tersebut,” ucap pelatih Kuwait, Milan Macala, saat itu

"Jika saya berhenti bermain sepak bola, mungkin saya akan kembali melihat gol tersebut lewat rekaman video," ujar kiper Kuwait, Khaled Al Fadhli.

Gol tersebut memang menjadi legendaris. Bahkan saking legendarisnya, gol-gol bintang dunia yang dicetak dengan cara yang sama kerap dikaitkan dengan nama Widodo, seperti yang dilakukan Wayne Rooney untuk Manchester United dalam laga derby menghadapi Manchester City pada Februari 2011.

 "Ah, itu sih Rooney ngikutin saya. Dia pasti buka Youtube dulu dan melihat gol saya," canda Widodo.

Sayang, Indonesia gagal mengamankan kemenangan dalam pertandingan itu. Meski sempat unggul 2-0 lewat gol Ronny Wabia pada menit ke-40, Kuwait mampu bangkit di babak kedua dan mencetak gol lewat Hani Al Saqer dan penalti Badr Haji Al Halabeej.

Poin yang diraih dalam laga kontra Kuwait itu menjadi satu-satunya poin Tim Garuda di Piala Asia 1996. Timnas Indonesia kemudian kalah 2-4 dari Korea Selatan dan 0-2 dari Uni Emirat Arab dalam dua laga selanjutnya, sehingga tersingkir sebagai juru kunci Grup A.

4 dari 4 halaman

Kiprah Timnas Indonesia di Piala Asia

Ilustrasi Timnas Indonesia. (Bola.com/Adreanus Titus)

Piala Asia 1996 (Uni Emirat Arab)

Timnas Indonesia 2-2 Kuwait

(Widodo C Putro 20', Ronny Wabia 40' | Hani Al Saqer 73', Badr Haji Al Halabeej 84'-pen)

Korea Selatan 4-2 Timnas Indonesia

(Kim Do-hoon 5', Hwang Sun-hong 7', 15', Ko Jeong-woon 55' | Ronny Wabia 58', Widodo C Putro 65')

Uni Emirat Arab 2-0 Timnas Indonesia

(Hassan Saeed Ahmed 15', Adnan Al Talyani 64')

Piala Asia 2000 (Lebanon)

Kuwait 0-0 Timnas Indonesia

China 4-0 Timnas Indonesia

(Li Ming 2, Shen Si 7'-pen, Yang Chen 10', Qi Hong 90')

Korea Selatan 3-0 Timnas Indonesia

(Lee Dong-gook 30', 76', 90'+1)

Piala Asia 2004 (China)

Qatar 1-2 Timnas Indonesia

(Magid Mohamed 83' | Budi Sudarsono 26', Ponaryo Astaman 48')

Timnas Indonesia 0-5 China

(Shao Jiayi 25', 66', Hao Haidong 40', Li Ming 51', Li Yi 80')

Bahrain 3-1 Timnas Indonesia

(Husain Ali 43', A'ala Hubail 57', Talal Yousef Mohammed 82' | Elie Aiboy 75')

Piala Asia 2007 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam)

Timnas Indonesia 2-1 Bahrain

(Budi Sudarsono 14', Bambang Pamungkas 64' | Sayed Mahmood Jalal 27')

Arab Saudi 2-1 Timnas Indonesia

(Yasser Saeed Al Qahtani 12', Saad Al Harthi 90' | Elie Aiboy 17')

Timnas Indonesia 0-1 Korea Selatan

(Kim Jung-woo 34')

Berita Terkait