Flashback Timnas Indonesia Vs Belanda: Momen Plesiran Arjen Robben Cs dan Polemik Jersey

oleh Gregah Nurikhsani diperbarui 14 Apr 2020, 10:45 WIB
Logo PSSI dan KNVB. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Jakarta - Tim Nasional Belanda menyambangi Indonesia pada 2013 silam. Saat itu, dari 21 pemain yang masuk skuat Timnas Indonesia, tiga di antaranya merupakan pemain dari Indonesian Premier League (IPL), sisanya dari Indonesia Super League (ISL).

Pada periode tersebut, sepak bola Indonesia memang tengah kusut lantaran dualisme kepemimpinan yang kelak membuat FIFA menjatuhi sanksi kepada PSSI. Namun, hadirnya tamu spesial dari Negeri Kincir Angin membuat semua orang mengendurkan otot.

Advertisement

Ada pun tiga pemain dari IPL yang ditunjuk pelatih Jacksen F. Tiago kala itu adalah Andik Vermansyah (Persebaya 1927), Hengki Ardiles dan Vendri Mofu yang menjadi memperkuat Semen Padang.

Ketua badan Tim Nasional (BTN), La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengungkapkan jika para pemain tersebut merupakan pilihan dari pelatih Jacksen Ferreira Tiago. Jacksen menyerahkan daftar nama tersebut ke BTN, pada Minggu (26/5/2013).

Langkah selanjutnya, BTN segera menyerahkan daftar 21 pemain tersebut, kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk dilakukan proses pemanggilan melalui Sekretaris Jenderal (Sekjen), Hadiyandra.

"Para pemain, dijadwalkan bergabung dalam pemusatan latihan/training centre (TC) pada 3 dan 4 Juni. Namun, langsung dipulangkan satu hari setelah pertandingan usai," tutupnya.

Selain itu, empat pemain di antaranya merupakan pemain naturalisasi, di mana dua di antaranya berasal dari Belanda, yakni Sergio van Dijk dan Raphael Maitimo.

Berikut susunan pemain Timnas Indonesia:

Penjaga Gawang: Kurnia Meiga (Arema Indonesia), Andritany Ardiyasa (Persija Jakarta), I Made Wirawan (Persib Bandung)

Bek: Hengki Ardiles (Semen Padang), Zulkifli Sukur (Mitra Kukar), Ricardo Salampesy (Persipura Jayapura), M. Roby (Persisam Samarinda), Victor Igbonefo (Arema), Raphael Maitimo (Mitra Kukar), Toni Sucipto (Persib), Ruben Sanadi (Persipura)

Gelandang: Imanuel Wanggai (Persipura), Hendro Siswanto (Arema), Ahmad Bustomi (Mitra Kukar), Vendri Mofu (Semen Padang), Ahmad Jupriyanto (Sriwijaya FC), Greg Nwokolo (Arema)

Striker: Boaz Sslossa (Persipura), Ian Louis Kabes (Persipura), Andik Vermansyah (Persebaya 1927), Sergio Van Dijk (Persib).

 

 

Video

2 dari 4 halaman

Tumbang 0-3

Timnas Indonesia vs Timnas Belanda. (Merdeka.com/imam buhori)

Pertandingan persahabatan Indonesia dengan Belanda pada 7 Juni 2013 dipastikan jadi salah satu yang paling dikenang. Seperti diketahui, Belanda merupakan kekuatan besar sepak bola dunia.

Ketika datang ke Indonesia, pelatih kelas dunia, Louis van Gaal, turut membawa sejumlah pemain bintang yang kerap disaksikan aksinya lewat layar kaca oleh pencinta sepak bola di Tanah Air.

Wesley Sneijder, Siem De Jong, John Heitinga, Arjen Robben, Robin van Persie jadi sebagian nama yang diboyong ke Indonesia. Tak pelak, duel ini menyedot atensi besar dari penggemar sepak bola negeri ini karena belakangan Indonesia jarang kedatangan tamu spesial. Kendati faktanya di masa lalu, uji coba dengan negara-negara di Benua Biru bukanlah hal besar bagi Tim Garuda.

Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi bagaimana Belanda memberikan hiburan sekaligus pelajaran bagi Indonesia. Skor 3-0 yang jadi keunggulan tim tamu bisa jadi tidak menggambarkan kekuatan mereka yang sebenarnya, karena harus diakui, kelas Robin van Persie dkk. di atas Ricardo Salampessy dkk.

Tiga gol Belanda di laga ini dicetak Siem de Jong menit ke-57 dan ke-68 serta Arjen Robben menit ke-89.

Jeremain Lens cs. sangat mendominasi di duel persahabatan ini dan Indonesia hanya sesekali melakukan serangan balik. Meski begitu, penonton terhibur dengan aksi-aksi kedua kesebelasan.

 

 

3 dari 4 halaman

Kunjungi Warisan Belanda

Robin van Persie dan skuat Timnas Belanda ketika mengunjungi Indonesia. (Dok. Merdeka.com/AFP PHOTO/Bay ISMOYO)

Buat Arjen Robben dkk., kunjungannya ke Indonesia dimanfaatkan dengan mendatangi sejumlah area bekas peninggalan masa penjajahan di Jakarta. Tentu menarik buat mereka melihat kembali 'kejayaan' kolonial di negeri orang.

CEO Ninesport, Arif Putra Wicaksono mengatakan, yakni untuk menambah kemeriahan menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta, ke-486, yang jatuh pada 22 Juni mendatang.

"Ide awalnya, memang datang dari kami selaku pihak promotor. Namun sayangnya, sudan ada EO lain yang mengatur HUT tersebut. Sehingga, mereka memiliki kegiatan berbeda," ujarnya.

"Berhubung Timnas Belanda memiliki minat tinggi mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Indonesia, karena itu acara ke Kota Tua tetap kami realisasikan," sambungnya.

Timnas Belanda mengunjungi beberapa obyek wisata di Jakarta, salah satunya adalah Kota Jayakarta atau yang lebih dikenal dengan julukan Kota Tua. Kawasan yang memiliki luas tidak lebih dari 139 hektar tersebut pernah di kuasai VOC Belanda pada tahun 1526.

Kemudian di tahun 1619, Gubernur Jendral VOC yang bernama Jenderal Jan Pieterszoon Coen, membumi hanguskan Kota Jakarta. Di tahun berikutnya, 1621, di atas reruntuhan Jakarta dibangun lagi kota baru dengan nama Batavia.

Lingkungan Kota Tua, meliputi Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Luar Batang, Kali Besar, Taman Fatahillah dan Glodok. Sebagai Kota Tua, Jakarta telah meninggalkan warisan dari sejarah masa lalu, mengambil bentuk bangunan dengan arsitektur Eropa dan China dari abad ke-17 sampai awal abad ke-20.

"Saya sarankan mereka untuk datang, fantastis, mereka perlu belajar tentang sejarah Indonesia. Mie buatan Indonesia terkenal di Belanda. Kami masih menikmati hal itu hingga saat ini. Jadi kami masih terhubung dengan Indonesia," ucap Van Gaal

Selain itu, Belanda sengaja megunjungi Indonesia agar bisa mudah beradaptasi dengan iklim di Brasil. Pelatih Oranje kala itu, Louis van Gaal, menilai cuaca di Jakarta mirip dengan tuan rumah Piala Dunia 2014 tersebut.

Dilansir Voetball International, Van Gaal ingin anak asuhnya tetap serius menjalani laga tersebut. Karena menurutnya, tur Asia kali ini akan membuat para pemain terbiasa dengan cuaca panas dan lembab di Brasil selain juga untuk meningkatkan interaksi antar pemain.

Menariknya, Van Gaal jutsru mengeluhkan iklim di Jakarta yang menurutnya sangat panas dan lembab. "Bukan hanya Indonesia yang menjadi lawan kami di sini. Keadaan juga tidak berpihak pada kami," ujar Louis van Gaal, pada konferensi pers.

"Panas dan lembabnya suasana di sini bisa jadi masalah bagi kami. Saya harus bisa mengatur agar ini semua bisa kami taklukkan," sambungnya.

4 dari 4 halaman

Timnas Indonesia Tidak Kenakan Jersey Merah-Putih

Jersey Timnas Indonesia apparel Nike. (Dok. Nike)

Hal mengejutkan diterima Timnas Indonesia kala menjamu Belanda. Skuad Garuda tak bisa mengenakan kostum Merah Putih.

"Mereka sudah ada deal dengan sponsor. Kami juga tadi ngotot dalam manager meeting. Bagaimanapun juga, ini merupakan kebanggaan kami," ujar Jacksen.

"Namun, karena kedua pihak tidak ada kesepakatan, akhirnya match commisioner menelepon AFC. Alhasil, mereka memutuskan kami memakai kostum kedua," sambung pelatih Persipura Jayapura ini.

Sementara itu, PSSI sendiri mengaku tidak mengetahui adanya perjanjian antara Timnas Belanda dengan sponsor dan promotor terkait masalah kostum ini. Menurut salah seorang anggota tim media PSSI, Fuad Mubarok, ada kesepakatan antara promotor dengan Timnas Belanda yang tidak dikomunikasikan ke PSSI.

Ketua badan Tim Nasional (BTN), La Nyalla Mattalitti pun berang atas keputusan yang mengharuskan Indonesia mengenakan jersey away.

"Itu sama saja tidak ada gunanya kata respect yang dipasang di lengan jersey pemain, kalau tim tamu sudah tak mengakui eksistensi tim tuan rumah," kata La Nyalla.

"Ini semua kesalahan EO atau promotor. Mereka terlalu murah menjual semangat kebangsaan," ujarnya tegas.

Di tempat lain, Andik juga heran. Menurutnya, Timnas tak seharusnya mengalah pada tim tamu.

"Lha ya itu, kita kan aslinya merah. Kok kita jadinya yang ngalah?" keluh Andik saat ditanya Bola.net.

"Tapi apapun jerseynya, meski jersey away, kita tetap tuan rumah, kan? Jadi, nggak masalah," sambungnya tegas.

Mengetahui adanya polemik tersebut, Presiden KNVB kala itu, Michael van Praag, meminta maaf. Sama seperti Jacksen dan La Nyalla, ia mengatakan ada miskomunikasi dengan promotor.

"Warna merah dan oranye dianggap kurang kontras. Kami hanya menjalankan kesepakatan yang telah disampaikan oleh promotor bahwa kami akan memakai jersey oranye," ujarnya.

"Bukan maksud kami menghina Indonesia. Tapi promotor telah melakukan kesepakatan dan kami hanya menyetujuinya," tutur Van Praag.

Berita Terkait