Yusuf Sutan Mudo, Jebolan PSIS yang Sempat Mencicipi Pengalaman di Belanda

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 05 Jun 2020, 09:30 WIB
Kolase - Yusuf Sutan Mudo (Bola.com/Adreanus Titus/Foto: Aryo Atmaja)

Bola.com, Semarang - Semarang seperti tidak pernah kehabisan pesepak bola berbakat dalam setiap eranya. Setelah Denny Rumba yang pernah moncer dan menjadi anak didik Peter Withe di Timnas Indonesia, ada nama lain yang sempat menembus skuat muda tim Merah Putih pada 2006, yaitu Yusuf Sutan Mudo, wonderkid pembinaan PSIS Semarang yang melejit dalam program PSSI ke Belanda.

Yusuf Sutan Mudo yang lahir di Semarang, 2 April 1985, memang tak banyak memperkuat tim di Liga Indonesia. Kariernya sebagai pesepak bola bisa dibilang singkat, yakni sekitar sembilan tahun.

Advertisement

Namun, karena bakatnya yang cukup besar, pelatih Foppe de Haan memanggilnya dalam pemusatan latihan Timnas Indonesia U-23 di Belanda. Saat itu tim muda itu dipersiapkan untuk menghadapi Asian Games 2007 dan Olimpiade 2008.

Tak banyak yang mengetahui kiprah Yusuf Sutan Mudo sebagai gelandang potensial yang pernah dimiliki Indonesia. Sayangnya ia sudah memutuskan untuk gantung sepatu pada usia yang relatif masih muda.

Yusuf Sutan Mudo bercerita panjang mengenai awal berkarier hingga akhirnya memutuskan pensiun dari lapangan hijau. Termasuk kegiatan dan rutinitas yang ia lakukan dan ceritakan kepada Bola.com.

Video

2 dari 4 halaman

Produk Asli PSIS

Yusuf Sutan Mudo ketika berseragam PSIS Semarang di musim 2005-2006. (Dok pribadi Yusuf Sutan Mudo)

Yusuf Sutan Mudo adalah hasil dari pembinaan yang dilakukan oleh PSIS Semarang pada awal medio 2000an. Bakatnya mulai terlihat sejak membela PSIS junior di ajang Piala Soeratin pada 2002 dan 2003.

"Saya masih ingat dua tahun bersama PSIS junior dan selalu menjadi runner-up, yakni di Sleman dan Bandung. Saya dilatih Cornelis Sutadi saat itu," ungkap Yusuf Sutan Mudo dalam perbincangan, Kamis (4/6/2020).

Potensinya makin berkembang hingga masuk dalam seleksi Timnas Indonesia U-20, dan membuat klub mengantre untuk mendapatkannya. Ia kemudian sempat membela Persiba Bantul.

2005 menjadi momen bersejarah baginya karena dikontrak oleh klub asal kampung halamannya, yakni PSIS Semarang, klub idamannya sejak masih kecil.

Meski hanya satu musim di PSIS, Yusuf Sutan Mudo mengaku bangga bisa masuk skuat Mahesa Jenar seperti dalam awal kariernya saat masih junior. Dirinya pun banyak belajar dari pemain bintang maupun mereka yang sudah berpengalaman di PSIS.

"Sebagai anak asli Semarang, tentu senang dan bangga bisa bersaing dengan pemain lain yang berasal dari luar daerah," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Bekal dan Pengalaman di Belanda

Yusuf Sutan Mudo bersama rekan-rekannya di Timnas Indonesia U-23 saat pemusatan latihan di Belanda pada 2006. (Dok pribadi Yusuf Sutan Mudo)

Yusuf Sutan Mudo masuk dalam Timnas Indonesia U-23 pada 2006. Saat itu, Tim Garuda Muda dibesut oleh pelatih asal Belanda, Foppe de Haan.

Tim tersebut dibentuk dengan diawali kiprah Timnas Indonesia U-20 yang ikut dalam kompetisi Divisi I dengan bermarkas di Bantul.

Rekan Yusuf saat itu antara lain Ahmad Bustomi, Tony Sucipto, Denny Rumba, Fandi Mochtar, Ferry Rotinsulu, Wahyu Wijiastanto, dan Imam Rochmawan. Tim ini akhirnya menjalani pemusatan latihan di Heerenveen, Belanda, selama enam bulan.

Banyak ilmu sekaligus pengalaman yang didapatkan Yusuf Sutan Mudo selama di Belanda. Ia menjadi makin memahami bahwa kesuksesan pesepak bola dmulai dari hal dasar dan bukan dengan cara yang instan.

"Kata coach Foppe saat itu adalah bahwa secara kualitas individu anak-anak Indonesia bagus, bahkan lebih baik dari yang ada di Belanda. Hanya yang kurang dari anak-anak Indonesia adalah pola pikirnya, mindset yang berbeda dengan anak-anak di Belanda," kenangnya.

"Kapan harus passing, kontrol sekali sentuh, sampai menyelesaikan peluang, itu yang berbeda dari anak-anak Eropa. Dalam waktu enam bulan di Belanda, satu sampai empat bulan fokus memperbaiki dasar. Setelah itu diberikan taktikal dan pematangan formasi permainan," lanjutnya.

4 dari 4 halaman

Pensiun di Usia Muda, Melatih Anak-Anak, dan Hobi Kicau Burung

Yusuf Sutan Mudo (kanan) bersama Denny Rumba dalam pemusatan latihan Timnas Indonesia U-23 pada 2006. (Dok pribadi Yusuf Sutan Mudo)

Karier Yusuf Sutan Mudo sebagai pemain sepak bola relatif singkat, hanya sekitar sembilan tahun. Ia memulai karier profesional di PSIS pada 2005 dan menyatakan pensiun pada 2013.

Setelah dari PSIS, ia sempat berkostum Persita Tangerang, Persikaba Blora, dan terakhir di Persitema Temanggung. Cedera lutut serius membuatnya harus menyudahi karier sebagai pemain.

Kedua lututnya mengalami cedera yang parah, hingga naik ke meja operasi. Cedera lututnya kerap kambuh hingga membuatnya trauma. Alhasil Yusuf memutuskan gantung sepatu pada usia yang masih sangat muda, yakni 28 tahun.

"Ada cedera kambuhan, hingga akhirnya saya pensiun di Persitema Temanggung. Cedera lutut saya sering kambuh. lutut kanan dan kiri saya cedera. Sejak itu sulit kembali ke performa seperti dulu," tuturnya.

Setelah pensiun pada 2013, Yusuf lebih banyak menghabiskan waktunya di Semarang dan menyalurkan hobinya sebagai kicaumania. Namun, sepak bola tetap sulit ditinggalkan, Yusuf pernah menjadi pelatih sepak bola usia muda selama dua tahun. Ia membantu eks pelatih Perserang Serang, Zaenal Abidin, melatih pemain di bawah usia 17 tahun di Demak pada 2015 hingga 2017.

"Awalnya tidak kepikiran mau melatih anak-anak. Kemudian ditawari coach Zaenal Abidin untuk melatih akademi sepak bola Yaifa di Demak. Setelah itu tidak lanjut lagi sampai sekarang," katanya.

Kini Yusuf Sutan fokus memelihara burung yang memang sudah menjadi hobinya sejak dulu. Ia rutin mengikuti perlombaan kicau burung, dan memiliki sejumlah koleksi burung, seperti Kenari, Lovebird, dan Blackthroat.

"Mungkin cocoknya sama burung. Meski sepak bola tetap saya gemari, dan sesekali berbagi ilmu dengan anak-anak muda," jelas Yusuf Sutan Mudo menutup obrolan.

Berita Terkait