Imran Nahumarury Kenang Kesuksesan Persija Juara 2000-2001, Pesan Bang Yos, dan Militansi Jakmania

oleh Abdi Satria diperbarui 15 Agu 2020, 19:00 WIB
Imran Nahumarury. (Bola.com/Peksi Cahyo)

Bola.com, Jakarta - Aksi Imran Nahumarury kental mewarnai sepak terjang Persija Jakarta ketika meraih trofi juara Liga Indonesia 2000-2001. Duetnya bersama Luciano Leandro sebagai gelandang serang jadi senjata utama Macan Kemayoran.

Keduanya bukan hanya pengatur irama permainan tim tapi juga pencetak gol dari lini kedua. Dalam channel youtube Persija TV, Imran Nahumarury mengungkapkan sejak awal musim bersama seluruh elemen tim yakin Persija meraih juara musim 2000-2001.

Advertisement

Kegagalan pada musim sebelumnya jadi motivasi tersendiri. Saat itu, langkah Persija dihentikan oleh PSM Makassar di semifinal dengan skor 0-1. Seperti diketahui, Juku Eja yang meraih trofi juara setelah mengalahkan PKT Bontang 3-2 di Stadion Gelora Bung Karno, 23 Juli 2000.

Menurut Imran, sejatinya pada musim itu, peluang Persija meraih gelar terbilang besar. Di penyisihan wilayah, Persija bertengger di peringkat pertama Wilayah Barat.

Mereka unggul lima poin atas peringkat kedua, Persijatim, yang mengoleksi 46 angka.Itulah mengapa jelang musim 2000-2001, seluruh elemen tim dan Jakmania mengusung misi sama yakni tak ingin gagal untuk kali kedua.

Selain materi pemain yang merata, manajemen Persija sangat total. Dukungan dari pembina Persija, Sutiyoso yang juga Gubernur DKI Jakarta juga berperan besar.

"Setiap menemui tim, beliau selalu pesan bahwa musim itu adalah kesempatan terbaik jadi juara. Bang Yos mengingatkan sekaligus memberi motivasi ke pemain bahwa kami bisa mencetak sejarah bersama Persija Jakarta yang 22 tahun tak pernah juara," kenang Imran Nahumarury.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

2 dari 3 halaman

Militansi Jakmania

Mantan pesepak bola Persija, Imran Nahumarury memandangi kenangan bersama Stadion Lebak Bulus sesaat sebelum dibongkar, Sabtu (25/7/2015). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Selain materi pemain dan manajemen yang baik, dukungan dari Jakmania di mata Imran juga berperan besar mendongkrak penampilan tim. Mereka selalu berada di tribune penonton saat tim kesayangannya bertanding. Termasuk saat Persija melakoni babak 8 Besar di Makassar.

"Saat itu, Jakmania berkemah di Lapangan Karebosi yang berada di tengah kota Makassar. Meski mendapat intimidasi dan teror mereka tetap tegar. Kehadiran mereka di Makassar membuat kami lebih termotivasi untuk memenangkan pertandingan," tutur Imran.

Secara pribadi, Imran bertekad tampil total bersama Persija. Ia membuktikan tekadnya itu dengan tetap turun di lapangan meski hidungnya patah karena kena sikut gelandang Arema Malang, I Putu Gede pada laga perdana Grup 2 di Stadion Andi Mattalatta Mattoangin.

"Sebenarnya tim dokter meminta saya agar keluar, tapi saya bilang tetap ingin bermain di lapangan," tegas Imran.

Pada laga itu, Persija menang 2-1.Pada laga kedua, Persija memastikan lolos ke semifinal setelah mengalahkan tuan rumah PSM 1-0. "Kemenangan itu membuat saya dan seluruh tim makin yakin bisa juara musim itu."

Keyakinan dan motivasi yang kuat membuat Imran tak peduli dengan kondisinya. Selain hidung yang masih bermasalah, ia juga didera cedera hamstring. Tapi, ia memaksakan diri tampil saat Persija mengalahkan Persebaya 2-1.

"Jelang final, dokter tim tak merekomendasi saya tampil. Tapi, saya kembali memaksa. Akhirnya saya bisa bermain setelah mendapat suntikan pada lima titik. Itu pun, dokter tim bilang saya bisa bermain paling lama 20 menit," kata Imran.

Ia menjadi starter menghadapi juara bertahan, PSM, pada laga puncak yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, 7 Oktober 2001. Prediksi dokter Persija ternyata benar. Imran hanya bertahan selama 20 menit, perannya pun digantikan oleh Dedi Umarella. Tapi, sebelum ditarik keluar, Imran mencetak gol pembuka pada menit ke-3 sekaligus menambah keyakinan pemain. Seperti diketahui Persija akhirnya memenangkan laga final dengan skor 3-2.

 

3 dari 3 halaman

Tim Impian

Mantan pesepak bola Persija, Imran Nahumarury memandangi Stadion Lebak Bulus sesaat sebelum dibongkar, Sabtu (25/7/2015). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Juara bersama Persija jadi momen berkesan buat Imran sepanjang kariernya di sepak bola. "Seluruh elemen tim saling mendukung. Tak ada istilah pemain cadangan atau inti karena secara teknis, kualitas pemain merata. Tinggal kesempatan tampil saja," kata Imran.

Ia mengambil contoh di posisi striker yang dihuni empat nama mentereng yakni Widodo C Putro, Budi Sudarsono, Gendut Doni dan Bambang Pamungkas.

Tapi, ketika diminta mengungkap tim impiannya, Imran menunjuk 11 nama yang tampil sebagai starter Persija di laga final. Posisi kiper ada Mbeng Jean Mambalou (Kamerun) yang dinilai pantas jadi kiper terbaik musim itu karena aksi dan jiwa pemimpinnya di lapangan.

Tiga stopper, Imran menyebut trio Warsidi, Nuralim dan Joko Puspito sebagai kombinasi yang pas karena dua bek sayap Persija, Budiman dan Anang Ma'ruf sangat agresif membantu serangan. Peran penting Agus Supriyanto sebagai gelandang jangkar diakui Imran sangat vital di lini tengah tim.

"Agus memang tidak menonjol. Tapi, ia melakukan tugasnya denngan baik saat tampil. Itulah mengapa saya dan Luciano Leandro bisa lebih fokus membantu serangan," papar Imran.

Duet Bambang-Gendut di lini depan dengan formasi 3-5-2 di mata Imran merupakan paduan yang pas. Bambang memiliki dua kaki yang sama baik plus jumping header di atas rata-rata striker Indonesia. Sementara Gendut memiliki kecepatan dan insting gol yang tinggi.

Setelah gantung sepatu, Imran meneruskan kariernya sebagai pelatih. Ia kini menjadi asisten pelatih di PSIS Semarang pada Liga 1 2020. Sebagai pemain besar di Persija, eks PSSI Baretti ini menyimpan keinginan melatih di Persija pada masa mendatang.

"Persija adalah bagian penting dalam hidup saya. Berkat Persija saya bisa meraih trofi dan dikenal oleh publik sepak bola Tanah Air. Saya pun masuk ke timnas karena Persija," pungkas Imran.

Berita Terkait