Dele Alli dan Cerita 5 Pemain yang Jadi Sasaran Kritik Jose Mourinho: The Special One Tidak Selalu Benar Menilai Kualitas Pemain

oleh Ario Yosia diperbarui 19 Apr 2021, 18:11 WIB
Ilustrasi - Jose Mourinho, Dele Alli, Mohamed Salah, Anthony Martial (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Jose Mourinho mulai kesal dengan pertanyaan soal masa depan Dele Alli di Tottenham Hotspur. Ia menegaskan bahwa tidak ada konflik antara dirinya dengan sang gelandang serang.

Dele Alli terlempar dari skuat inti Spurs di dua pertandingan terakhir, setelah main jelek dalam laga pembuka Premier League melawan Everton. Mencuat rumor Jose Mourinho bersitegang dengan pemain berusia 24 tahun itu, terutama saat sang manajer menariknya keluar pada babak pertama pertandingan.

Advertisement

Karier Alli disebut sudah habis di Tottenham Hotspur. Jose tak ingin lagi ia menjadi bagian dari klub. Serupa dengan Danny Rose, yang tak kebagian nomor punggung karena pernah berlaku tak sopan ke The Special One akhir musim lalu, mempertanyakan kenapa ia kerap dicadangkan.

 Jelang laga kualifikasi Liga Europa melawan Shkendija, Mou buka suara:

"Saya mulai bosan mendengar pertanyaan soal Dele Alli. Terutama berkaitan dengan dokumenter Amazon. Ia anak yang baik dan saya tidak punya masalah dengan dirinya," kata Jose dalam sesi konferensi pers menjelang pertandingan.

Dalam film dokumenter tentang Tottenham Hotspur yang tayang di Amazon, Jose sempat melontarkan kritik terbuka pada sang anak asuh. Pelatih asal Portugal itu menyebut Dele Alli pemain yang malas dalam sesi latihan.

Berkaitan dengan keputusannya tak menurunkan Dele Alli di dua laga terakhir, Jose Mourinho menanggapnya sebagai sebuah kewajaran.

"Dalam dunia sepak bola hal ini normal terjadi. Ada seorang pemain yang performanya sedang menurun kemudian ia tak terpilih masuk skuat digantikan pemain lain yang lebih pantas, sebagai bentuk apresiasi atas kerja kerasnya. Saya memiliki banyak pemain. Tak semua pemain terus menerus bermain. Sepak bola ibarat sebuah puzzle, saya harus menyatukannya menyesuaikan dengan kebutuhan," kata Jose.

Mantan nakhoda Manchester United terang-terangan menyebut Dele Alli punya persoalan menjaga konsistensi permainan.

"Semua orang tahu bagaimana kualitasnya, namun dalam beberapa tahun terakhir permainannya selalu turun naik. Hal itu pun terjadi di era saya. Persoalan ini hanya bisa diselesaikan oleh sang pemain," terang Jose Mourinho.

"Ada tendensi kalau seorang pemain yang tiba-tiba tak bermain atau dicadangkan, kemudian pelatih yang dipersalahkan. Padahal hal itu normal terjadi di sepak bola. Saya dan staf hanya bisa membantu. Kami hanya punya tanggung jawab satu persen saja, sementara sisanya sebanyak 99 persen bergantung pada pemain itu sendiri."

Mourinho memastikan Dele Alli akan menjadi bagian dari tim saat Tottenham menjalani laga Liga Europa. "Ia masuk tim, tapi apakah saya akan memainkannya selama 90 menit atau ia menjadi cadangan kita lihat saja nanti," ucap manajer kelahiran 26 Januari 1963 itu.

Delle Ali sedang dikait-kaitkan dengan kepindahan ke PSG. Sejumlah sumber di lingkar dalam klub menyebut berat baginya untuk bisa masuk skuat inti Jose Mourinho. Apalagi Tottenham baru saja mendatangkan Gareth Bale yang membuat persaingan di lini depan akan semakin berat. Jose disebut lebih nyaman memainkan Giovani Lo Celso di posisi penyerang lubang.

Apa yang dialami Dele Alli sejatinya tak mengherankan. Jose Mourinho dikenal sebagai arsitek yang kurang sabaran menanti momen terbaik dari seorang pemain. Banyak pemain, yang sejatinya berkualitas, tapi dilepas sebelum sempat membuktikan diri. Beberapa di antaranya bahkan terlibat percekcokan dengan nakhoda yang dikenal doyan ngomong ceplas-ceplos itu.

Berikut ini deretan pemain bagus yang gagal menjalin kolaborasi menawan dengan Jose Mourinho. Uniknya setelah berpisah mereka justru menjelma menjadi bintang yang bersinar terang.

 

 

2 dari 7 halaman

Mohamed Salah

Mantan gelandang Chelsea, Mohamed Salah. (AFP/Glyn Kirk)

Mohamed Salah mengalami periode tak mengenakkan saat berkostum Chelsea. Jose Mourinho jarang memberinya kesempatan bermain. Ia kemudian memutuskan pergi ke Fiorentina sebelum akhirnya kini membela Liverpool dan sukses di sana.

Mourinho kerap disalahkan dengan keputusan The Blues melego Salah.  Walau sang manajer membantah kepergian penyerang asal Mersir dari Chelsea adalah keinginannya. Dia justru jatuh cinta pada Salah, yang mendorongnya membeli dari Basel.

Di tahun 2014 Mohamed Salah dibeli Chelea dari Basel. The Blues ketika itu dilatih oleh Jose Mourinho.

Datang ke Stamford Bridge, Salah gagal menunjukkan potensi terbaiknya setelah hanya tampil 19 kali dengan capaian dua gol dan empat assists. Pemain asal Mesir itu kalah bersaing dengan Oscar, Willian, Andre Schurrle, dan Eden Hazard.

Minimnya menit bermain membuat Chelsea melepasnya ke Fiorentina dengan status pinjam. Salah kemudian membela AS Roma dan kembali pulang ke Liga Inggris ketika Liverpool membelinya di awal musim 2017-2018.

Tak banyak yang menyangka Salah akan sangat mengilap bersama The Reds dengan pencapaian juara Liga Champions, Premier League, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Sejak Salah bersinar, nama Mourinho berulang kali dibawa-bawa. Sang manajer dinilai tak bisa memaksimalkannya dan kemudian memutuskan melegonya.

"Pertama mari membicarakan Salah. Karena banyak pembicaraan yang tidak benar tentang ini. Banyak orang menganggap saya sebagai pelatih yang menjual Salah. Saya adalah pelatih yang membelinya. Jadi itu anggapan yang salah," kata Mourinho kepada BeIN Sports.

"Saya menghadapi Basel di Liga Champions. Salah masih bocah kala di Basel, ketika saya bermain melawan tim tertentu, saya melakukan analisa yang lama pada tim dan pemain-pemain. Dan saya langsung jatuh cinta dengan bocah ini (Salah). Saya membelinya. Memaksa klub untuk membelinya dan saat itu kami memang sudah punya banyak penyerang fantastis. Hazard, Willian, banyak talenta top. Tapi saya tetap meminta membelinya. Saat itu dia masih menjadi winger ketimbang striker. Dia adalah bocah yang tersesat di London," lanjut Mourinho.

Salah datang ke London saat dia belum genap 22 tahun. Masih belia, Salah ketika itu punya keinginan besar dapat kesempatan bermain reguler. Maka dia dipinjamkan ke Fiorentina. Serie A dinilai Mourinho jadi tempat yang tepat untuk mengasah kemampuan Salah.

"Dia bocah yang tersesat di dunia yang baru. Kami ingin menjadikannya lebih baik dan baik lagi. Tapi dia ingin dapat kesempatan bermain dan tak mau menunggu. Jadi kami memutuskan meminjamkannya di tempat yang kulturnya sudah sangat saya tahu, Italia. Sepakbola taktikal dan fisikal. Tempat bagus buat bermain. Fiorentina juga menjadi tim yang baik karena tak ada tekanan untuk mendapatkan titel."

"Kami akhirnya memutuskan dia pindah. Ketika klub memutuskan menjualnya, itu bukan saya. Saya hanya membelinya, tidak mengambil peran menjualnya," ucap Mourinho.

Apapun pembelaan Jose, kenyataannya keputusan Chelsea melego sang bintang salah besar. Dan sang manajer berperan besar terhadap hal itu karena kerap mencadangkannya. Ia semestinya memberi ruang untuk berkembang.

3 dari 7 halaman

Anthony Martial

Striker Manchester United, Anthony Martial, tampak kecewa usai ditaklukkan Sevilla pada laga semifinal Liga Europa di Stadion RheinEnergie, Senin (17/8/2020). Sevilla menang 2-1 atas Manchester United. (Photo by Martin Meissner / POOL / AFP)

Saat menukangi Manchester United, Jose Mourinho pernah tidak akur dengan Anthony Martial. Penyerang asal Prancis itu kerap dicadangkan. Sang manajer pun kerap mengkritiknya secara terbuka di media.

Perselisihan antara Mourinho dengan Martial terjadi saat tur pramusim Man United 2017-2018. Saat itu Mourinho mengkritik Martial yang mesti absen karena menemani istrinya yang melahirkan.

Martial kemudian hanya dimainkan tiga kali sebagai starter dalam 11 pertandingan pertama Premier League. Winger Prancis itu perlahan kembali mendapatkan tempat di tim inti MU sehingga akhirnya mencetak sembilan gol plus lima assist di akhir musim.

Di sisi lain, sudah jadi rahasia umum jika Mourinho tidak segan untuk mengkritik pemainnya sendiri di muka publik. Martial mengungkapkan, dia kurang nyaman dengan hal ini.

"Memang benar aku lebih menyukai untuk diomongi langsung di depan wajahku. Tidak perlu mengatakannya di depan semua orang. Sudah pasti setelahnya, Anda ingin membuktikan bahwa dia salah," kata Martial kepada RMC, yang dikutip ESPN.

"Dia tidak memainkanku di beberapa pertandingan pertama musim. Padahal setiap aku bermain, aku mencetak gol, dan dia pada akhirnya bilang kepadaku: "lihat kan, sekarang kamu tahu apa yang saya inginkan."

"Itu bisa menyengat, tapi saya cuma ingin menunjukkan kepada dia bahwa saya seharusnya ada di lapangan dapat kesempatan bermain untuk membuktikan kemampuan," timpal sang pemain.

Sepeninggal Jose Mourinho, performa Martial kinclong di Tim Setan Merah. Ole Gunnar Solskjaer memberinya banyak kesempatan bermain.

Martial pun bermain sebagai seorang striker, posisi yang ia impikan. Saat di tangan Jose ia lebih sering dimainkan sebagai winger, sehingga kemampuan terbaiknya tak keluar.

4 dari 7 halaman

Paul Pogba

Gelandang Manchester United (MU) Bruno Fernandes dan Paul Pogba saat menghadapi Sevilla di semifinal Liga Europa 2019/20. (foto: AP Photo/Martin Meissner, Pool)

Masa-masa karier kepelatihan Mourinho di Manchester United naik-turun. Tapi mungkin masalah terbesar yang dihadapinya adalah perseteruannya dengan Paul Pogba.

Didatangkan pada musim panas 2016 dengan rekor dunia saat itu sebesar 89 juta poundsterling, hanya beberapa bulan setelah kedatangan Mourinho di klub, Pogba seharusnya menjadi pemain yang membawa United kembali ke puncak Premier League.

Sayangnya, kolaborasi dua figur top ini tidak berhasil. Segalanya dimulai dengan baik, dengan Mourinho menggambarkan orang Prancis itu sebagai salah satu pemain terbaik di dunia. Dan meskipun performa Pogba tidak sempurna sepanjang musim 2016-2017, pemain Portugal itu terus membelanya dari para pencela.

Namun, keadaan berubah menjadi buruk ketika Pogba mengalami cedera hamstring pada September 2017. Alih-alih tinggal di Manchester, pria Prancis itu terbang ke Miami untuk memulihkan diri - dan keretakan dalam hubungannya dengan pelatih asal Portugal itu segera menyusul.

Kekalahan dari Tottenham pada Januari 2018 membuat Pogba ditarik keluar setelah hanya satu jam, dan segera setelah itu, pemain Prancis itu mendapati dirinya duduk di bangku cadangan. Pada Maret 2018, rumor beredar bahwa keduanya itu hampir tidak berbicara. Dan pada awal musim 2018-19, jelas bahwa hubungan itu tidak dapat diperbaiki.

Gelandang serang asal Prancis itu dicopot dari jabatan wakil kapten klub setelah bentrok pada September 2018. Dan deretan ruang ganti pada Desember 2018 dilaporkan melihat Mourinho melabeli Pogba sebagai "virus".

Pada akhirnya, Pogba tertawa terakhir. Hanya beberapa minggu kemudian, United memecat bos Portugal itu setelah penampilan United yang buruk. Dan Pogba menjawab dengan tweet samar - yang kemudian dihapus - menunjukkan dia tersenyum masam dan menyatakan "caption this".

Itu adalah tembakan terselubung ke Jose Mourinho, yang kemudian akan menyatakan bahwa dia selalu mengambil risiko dipecat jika dia membuat marah Pogba - yang dia sebutnya sebagai "Yang Mulia" di United.

5 dari 7 halaman

Luke Shaw

Pelatih Manchester United, Jose Mourinho merangkul bek Luke Shaw usai pertandingan melawan Tottenham Hotspur pada lanjutan Liga Inggris di Old Trafford, (27/8). MU kalah telak atas tottenham 3-0. (AFP Photo/Oli Scarff)

Sementara perseteruan Mourinho dengan Paul Pogba cenderung menjadi berita utama selama masa jabatannya sebagai bos Manchester United, ternyata pemain Prancis itu bukanlah satu-satunya pemain yang ribut dengan manajer asal Portugal itu.

Bek kiri Luke Shaw terus-menerus dikritik oleh Jose secara frontal di media. Statusnya di tim dibekukan sebelum Mourinho meninggalkan Old Trafford pada Desember 2018.

Kebugaran Shaw, komitmen untuk berlatih, dan berat badan semuanya dipertanyakan oleh Jose. Dan pada April 2017, dia dikritik Shaw karena pengambilan keputusannya di lapangan, dengan Mourinho menyatakan bahwa untuk berhasil, dia perlu "mengubah otak sepak bolanya".

Segalanya tidak membaik untuk bek kiri tersebut selama musim kedua Mourinho menangani United, karena ia ditarik keluar pada babak pertama saat pertandingan Piala FA melawan Brighton & Hove Albion. Belakangan, laporan bahkan menunjukkan bahwa rekan satu tim Shaw merasa seperti sedang "diganggu" oleh bosnya.

Musim 2017-18 berakhir dengan bek kiri tersebut hanya membuat 11 penampilan Premier League untuk Mourinho, yang jelas tidak senang dengannya.

Sementara itu, Shaw tampaknya menerima kritikan itu, tidak pernah berbicara menentang Mourinho di media. Pada musim 2018-19 dia tampaknya mendukung metode sang pelatih. Shaw menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa "Anda membutuhkan kulit tebal untuk bermain di bawah manajer ini, tetapi kami harus berjuang untuknya."

Namun, kurang dari sebulan setelah wawancara, Mourinho pergi dari United, sementara Shaw tetap di klub dan sebagian besar menjadi bek kiri pilihan pertama di Manchester United.

6 dari 7 halaman

Mesut Ozil

Gelandang Arsenal, Mesut Ozil, menggiring bola saat menghadapi Chelsea pada laga Premier League pekan ke-24 di Stamford Bridge, London, Rabu (22/1). Arsenal tahan imbang Chelsea 2-2. (AFP/Ben Stansall)

Gelandang serang Arsenal, Mesut Ozil, mengaku pernah dipanggil pengecut oleh Jose Mourinho ketika sama-sama berada di Real Madrid. Meski kesal, Ozil menilai Mourinho memiliki maksud baik kepada dirinya.

Pemain Timnas Jerman itu menghabiskan tiga musim bersama Real Madrid di bawah asuhan Mourinho dari 2010 hingga 2013. Keduanya membantu Los Blancos meraih satu trofi La Liga, satu Copa del Rey, dan satu Piala Super Spanyol.

Tidak puas dengan performa Ozil, Mourinho pernah melontarkan kritik dengan sindiran keras. Saking kesalnya, Ozil merespons dengan melempar kostumnya dan menantang pelatih asal Portugal itu bermain di lapangan.

Nyatanya, Mourinho tidak berhenti menyoroti performa Mesut Ozil yang kurang maksimal. Pada akhirnya, pria berdarah Turki itu meminta maaf kepada para pemain Real Madrid dan menyadari niat baik Mourinho.

"Mourinho hanya tertawa dan mengatakan, 'Apakah Anda sudah menyerah? Anda seorang pengecut. Apa yang ingin Anda lakukan? Mandi dengan air hangat dan berkeramas? Apakah Anda ingin sendirian Atau menunjukkan kepada rekan-rekan setim, para suporter dan saya apa yang bisa Anda lakukan? Kenapa Anda tidak menangis, Mesut! Anda seperti bayi dan pergi ke kamar mandi. Kami tidak membutuhkan Anda'," tuturnya.

"Saya mengambil handuk dan berjalan di depan dia menuju kamar mandi tanpa mengatakan satu kata pun kepadanya. Kemudian, saya meminta maaf atas sikap saya kepada kapten Sergio Ramos dan semua rekan setim," lanjut pemain 28 tahun tersebut. 

"Pada akhirnya, saya memahami kenapa Mourinho meneriaki saya seperti itu di depan para pemain lain. Dia ingin memperjelas jika dia tidak ingin saya bersantai. Dia ingin mengeluarkan saya dari zona nyaman, menjadi lebih kuat dan mendorong saya untuk terus berkembang," imbuhnya. 

Mesut Ozil hengkang dari Real Madrid seiring pemecatan Jose Mourinho pada musim panas 2013. Pemain berusia 28 tahun itu hengkang ke Arsenal dengan nilai transfer 40 juta pounds atau setara dengan Rp 657 miliar.

"Mourinho benar saat itu. Saya merasa bermain indah sudah cukup ketika tiba di Madrid. Saya terlalu cepat puas. Mourinho menekan saya dan saya berterima kasih kepadanya untuk hal tersebut," tambahnya. 

"Dia juga meminta maaf atas pilihan kata-katanya. Dia memperjelas bahwa dia ingin mengeluarkan kemampuan terbaik saya," ujar Mesut Ozil.

Sumber: Berbagai sumber

7 dari 7 halaman

Video

Berita Terkait