Cerita Tentang Topi Pet dan Pipa Cangklong yang Melekat pada Suimin Diharja

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 04 Okt 2020, 12:15 WIB
Suimin Diharja. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Tangerang - Tidak hanya pemain sepak bola yang mempunyai gaya yang menjadi ciri khasnya di atas lapangan. Tidak ketinggalan dari para pelatih yang memiliki ciri khas sebagai pembedanya, satu di antaranya adalah Suimin Diharja, pelatih kawakan yang telah lama malang melintang di lapangan hijau Indonesia.

Bagi publik sepak bola dunia, nama pelatih senior Italia, Marcelo Lippi yang identik dengan cerutunya setiap memimpin pertandingan. Eks pelatih Juventus dan Timnas Italia tersebut sangat mudah dikenali karena selalu menghisap cerutu dari pinggir lapangan.

Advertisement

Di era sekarang barangkali ada nama Jurgen Klopp, juru taktik Liverpool yang gemar mengenakan topi. Di Indonesia juga tidak ketinggalan memiliki deretan pelatih yang punya ciri khas tertentu, satu di antaranya adalah Suimin Diharja.

Pelatih kawakan asal Medan, Sumatera Utara tersebut sangat dikenal oleh publik dengan aksesoris khas dari dirinya. Yakni topi pet yang selalu ia kenakan setiap saat. Hingga rokok dengan cangklong (pipa) yang juga dihisapnya termasuk saat memimpin skuadnya bertanding.

Ia menceritakan pengalamannya dengan topi pet yang kemudian menjadi ciri khasnya hingga saat ini. Dalam kanal YouTube Benteng Mania, Suimin Diharja bercerita awal mengenakan topi pet adalah saat menjadi pelatih PSMS Medan pada medio tahun 1998 hingga 2002 silam.

"Pertama kali saya melatih PSMS, ada sebuah toko olahraga yang ngefans atau bagaimana, dia masih muda, memberikan topi untuk saya. Jenis topi Baretta, dia minta agar saya memakainya. Setelah saya pakai topi itu nyaman dan sampai sekarang," kenang Suimin Diharja dalam video yang diunggah bulan September kemarin.

Kemudian tentang cangklong atau pipa rokok yang sangat khas dengan pembawaannya, tidak lepas dari peran anak Suimin Diharja. Ia mengaku awalnya diminta oleh anaknya untuk mengurangi kebiasaan merokok.

"Untuk mengurangi nikotin yang bisa masuk ke paru-paru, anak saya menyarankan agar memakai pipa. Awalnya pakai pipa plastik buatan Jepang, tapi kok setiap pertandingan sering pecah karena tergigit," ungkapnya.

"Akhirnya ada teman memberikan cangklong dengan ada yang terbuat dari gading gajah atau dari gigi ikan berukuran besar. Setelah pakai itu nyaman, merokok nggak pakai cangklong kok malah tidak enak," kenang Suimin Diharja.

 

Video

2 dari 2 halaman

Karakter Permainan Keras

Suimin Diharja (kanan) bersama dengan salah satu pendiri Persikota Tangerang, Abas Sunarya. (Dok. Persikota)

Tidak hanya soal penampilannya yang mudah diingat banyak orang. Karakter tim yang dibawanya yang cukup keras juga cukup identik pada sosok Suimin Diharja.

Suimin saat ini melatih tim Liga 3, Persikota Tangerang. Menengok ke belakang, dirinya sudah malang melintang bersama tim-tim besar termasuk PSMS Medan, PSPS Pekanbaru, dan Sriwijaya FC.

Pemilik lisensi kepelatihan A-AFC ini membeberkan gaya permainan keras yang selalu diusungnya tak lepas dari kultur sepak bola Medan yang merupakan tanah kelahirannya.

"Selalu saya tekankan ke anak-anak bahwa jangan sampai lawan pegang bola tujuh kali sentuhan. Lebih dari itu, harus bagaimana caranya menghentikan aliran bola mereka. Itulah pressing yang jadi karakter tim kami," terang Suimin Diharja.

Menurutnya, sepak bola memang olahraga keras. Jika dilakukan dengan lembek sementara tim lawan bermain keras, akan mempengaruhi sebuah tim. Diakuinya bahwa keras yang ia maksud bukan berarti ngawur, namun keras yang mendidik untuk memahami sepak bola Indonesia.

"Pemain ada yang karakternya stylish dan agresif, saya harus pilih sesuai apa yang saya terapkan dan bangun di Persikota. Tinggal bagaimana pemain memahami karakter tim yang saya bangun yakni dengan agresif," jelasnya.

Berita Terkait