4 Pelatih Indonesia yang Kembali ke Klub yang Membesarkan Namanya sebagai Pemain

oleh Benediktus Gerendo Pradigdo diperbarui 19 Nov 2020, 08:15 WIB
Liga 1 - Trivia Pelatih Djadjang Nurdjaman, Aji Santoso, Nil Maizar, Budi Sudarsono (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Menjadi seorang pelatih sebagai jalan melanjutkan karier setelah gantung sepatu sebagai pemain profesional adalah hal yang lumrah terjadi dalam sepak bola, termasuk di Indonesia. Bahkan ada pula sejumlah pelatih yang kembali menangani klub yang membesarkan namanya ketika masih aktif sebagai pemain sepak bola.

Berdasarkan daftar pelatih di kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada musim 2020, ada delapan pelatih lokal yang bersaing dengan 10 pelatih asing dari seluruh dunia.

Advertisement

Kedelapan pelatih lokal yang kini menangani klub di level Liga 1 itu merupakan mantan pesepak bola, baik di era Perserikatan maupun Liga Indonesia.

Tidak semua dari delapan pelatih yang menangani klub Liga 1 musim 2020 merupakan mantan pemain yang pernah membela klub yang kini dibesutnya.

Namun, beberapa di antaranya punya catatan pernah menangani klub yang membesarkan namanya sebagai pemain sepak bola profesional dalam kariernya.

Bola.com mengulas empat pelatih di kasta tertinggi sepak bola Indonesia saat ini yang tercatat pernah menangani klub yang juga telah membesarkan namanya sebagai pemain. Siapa saja mereka?

Video

2 dari 5 halaman

Djadjang Nurdjaman

Djadjang Nurdjaman (Bola.com/Adreanus Titus)

Djadjang Nurdjaman merupakan pelatih yang kini membesut Barito Putera di Liga 1 2020. Namun, sebelum menangani Laskar Antasari, pelatih kelahiran Majalengka itu pernah menangani sejumlah klub besar, mulai dari Persib Bandung, Pelita Jaya, PSMS Medan, hingga Persebaya Surabaya.

Djadjang Nurdjaman juga merupakan mantan pemain Persib Bandung kala masih aktif bermain. Bahkan pelatih yang karib disapa Djanur itu sudah berhasil menorehkan prestasi bersama Persib, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.

Ketika memperkuat Persib sebagai pemain, Djanur berhasil membawa tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu tiga kali menjadi juara era perserikatan, yaitu pada 1986, 1989/1990, dan 1993/1994. Musim terakhirnya menjadi juara bersama Persib sebagai pemain juga ditandai berakhirnya era Perserikatan.

Setelah gantung sepatu, Djadjang Nurdjaman langsung menjadi staf kepelatihan di Persib dan menjadi asisten dari Indra Thohir pada 1994. Sebagai asisten pelatih, Djanur pun turut membantu Persib menjadi juara Liga Indonesia edisi pertama pada 1994/1995.

Sempat menjadi caretaker Persib pada 2007 hingga 2008, Djanur kemudian sempat menangani Pelita Jaya. Ia kembali ke Persib pada 2012 sebagai pelatih kepala dan membantu Maung Bandung menjadi juara Indonesia Super League 2014 serta Piala Presiden 2015.

Setelah kesuksesan bersama Persib Bandung, Djanur pergi karena desakan pada musim 2017 lantaran performa Maung Bandung yang tidak konsisten. Setelah itu, Djanur menangani PSMS Medan, Persebaya Surabaya, dan kini di Barito Putera.

Namun, citra Djanur begitu melekat dengan Persib, tim yang dibawanya menjadi juara, baik sebagai pemain, asisten pelatih, maupun sebagai pelatih kepala.

3 dari 5 halaman

Aji Santoso

Pelatih Persebaya Surabaya, Aji Santoso. (Bola.com/Yoppy Renato)

Nama kedua dalam daftar ini adalah mantan bek Timnas Indonesia, Aji Santoso. Kini pelatih asal Kepanjen, Malang, itu tengah menangani Persebaya Surabaya di Liga 1 2020. Ia sudah bergabung bersama Bajul Ijo sejak musim lalu, tepatnya sejak Oktober 2019.

Saat masih aktif bermain, Aji Santoso tercatat pernah membela Arema Malang, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persema Malang, dan Persela Lamongan. Bahkan ia membawa Arema, Persebaya, dan PSM menjadi juara.

Arema Malang dibantunya menjadi juara Galatama 1992/1993. Sementara Aji Santoso juga membantu Persebaya Surabaya menjuarai Liga Indonesia 1996/1997. Kemudian ia hijrah ke PSM dan membantu Juku Eja menjadi juara pada musim 1999/2000.

Sebagai pelatih, perjalanan Aji Santoso sudah cukup panjang. Ia memulai karier kepelatihannya pada 2005. Sejumlah tim junior, seperti Indonesia U-17 hingga tim PON pernah dibelanya.

Aji Santoso kemudian tercatat tiga kali menjadi pelatih Persebaya Surabaya, yaitu pada musim 2009, musim 2010-2011, dan 2019 hingga saat ini. Ia juga pernah menangani Arema FC pada 2017 lalu.

Bersama Arema yang ketika bermain dibantunya menjuarai Galatama 1992/1993, Aji Santoso tergolong berkarier singkat ketika menjadi pelatih. Namun, ia mampu mempersembahkan gelar juara Piala Presiden 2017 untuk Singo Edan.

Setelah kembali ke Persebaya, Aji Santoso juga diharapkan bisa memberikan prestasi seperti yang pernah ditorehkannya saat masih aktif bermain. Namun, Aji Santoso sebelumnya juga sudah sempat mempersembahkan gelar juara Liga Primer Indonesia pada 2011 lalu. Kini di era Liga 1, ia baru mampu mempersembahkan gelar juara Piala Gubernur Jatim 2020.

4 dari 5 halaman

Nilmaizar

Pelatih Semen Padang, Nil Maizar usai melawan PS TNI pada lanjutan Torabika SC 2016 di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu (23/10/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Nilmaizar adalah sosok pelatih yang juga tidak melupakan jasa klub yang telah membesarkannya. Sempat menjajal kesempatan berlatih bersama Sparta Prague di Republik Ceko pada 1990 hingga 1992, Nilmaizar kemudian memperkuat Semen Padang pada 1992 hingga 1997.

Bersama Semen Padang sebagai pemain, Nilmaizar yang berposisi sebagai bek itu turut membantu Kabau Sirah meraih gelar juara Piala Galatama 1992. Setelah bermain bersama Semen Padang selama kurang lebih lima tahun, Nilmaizar kemudian pindah ke PSP Padang dan kemudian pensiun setelah dua tahun bermain di sana.

Nilmaizar kemudian mengawali karier kepelatihannya dengan menangani Semen Padang U-21 pada 2000. Ia kemudian menjadi asisten pelatih Kabau Sirah pada 2005 hingga 2010 dan kemudian diangkat menjadi pelatih kepala pada 2010.

Sebagai pelatih, Nilmaizar membawa Semen Padang menjadi yang terbaik di Indonesia Premier League 2011/2012. Prestasi tersebut yang mengantarkannya menangani Timnas Indonesia pada 2012 hingga 2013.

Kariernya bersama Semen Padang tidak berakhir sampai di situ. Sebagai putra daerah, pelatih yang lahir di Payakumbuh itu memutuskan kembali menangani Semen Padang pada 2015 hingga 2017, hingga akhirnya menjajal karier bersama PS Tira dan kini bersama Persela Lamongan.

5 dari 5 halaman

Budi Sudarsono

Pelatih Persik Kediri, Budi Sudarsono, memimpin latihan di Stadion Brawijaya Kota Kediri, Selasa (1/9/2020). (Bola.com/Gatot Susetyo)

Budi Sudarsono dikenal sebagai mantan striker Timnas Indonesia yang memiliki ketajaman yang tak bisa dibantah. Julukan Ular Piton melekat dalam diri pemain yang mengawali karier di Persebaya Surabaya pada 1999 itu.

Kariernya sebagai pemain profesional cukup panjang dan diwarnai banyak klub, mulai dari Persija Jakarta, Deltras FC, Persik Kediri, PDRM FA di Malaysia, Sriwijaya FC, Persib Bandung, Persikabo Bogor, hingga Presenga Ngawi.

Budi Sudarsono tercatat pernah membawa Persija Jakarta menjuarai Liga Indonesia 2000/2001 dan Persik Kediri menjadi juara Liga Indonesia 2006. Hal tersebut yang membuat namanya melekat sebagai legenda bagi kedua klub tersebut.

Budi Sudarsono pun kembali ke satu dari dua klub tersebut ketika memutuskan menjadi pelatih. Ia mengawali karier kepelatihan memang bersama Kalteng Putra sebagai asisten pelatih. Namun, ia kembali ke Persik pada 2018 juga sebagai asisten pelatih.

Kini, di Shopee Liga 1 2020, Budi Sudarsono ditunjuk menjadi pelatih kepala Persik Kediri. Namun, debutnya sebagai pelatih kepala masih tertunda lantaran kompetisi tersebut dihentikan sebelum ia ditunjuk menjadi pelatih dan baru akan berlanjut pada Februari 2021.

Berita Terkait