Bayu Gatra Klarifikasi Kerusuhan Tarkam di Jember: Suporter Barbar, Pemain Jadi Korban

oleh Aditya Wany diperbarui 18 Nov 2020, 22:00 WIB
Pemain PSM Makassar, Bayu Gatra, saat melawan Kaya FC-Iloilo pada laga penyisihan Grup H Piala AFC di Stadion Madya, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Kedua tim bermain imbang 1-1. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bola.com, Jakarta - Penyerang sayap PSM Makassar, Bayu Gatra, mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dalam pertandingan. Itu terjadi saat Bayu mengikuti pertandingan antarkampung alias tarkam di Kabupaten Jember.

Pemain berusia 29 tahun itu bergabung dengan Predator FC yang melawan Bedadung FC dalam pertandingan di Lapangan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember. Dalam laga ini terjadi kerusuhan yang membuat suporter dan penonton hingga masuk lapangan.

Advertisement

Video masuknya suporter ke dalam lapangan ini sudah beredar di media sosial yang terlihat diambil dari kejauhan. Bayu sendiri kemudian membuat video klarifikasi mengenai kejadian tersebut melalui kanal Youtube Bayu 23 Gatra yang berjudul Ini Sepakbola Bukan Silat.

Mulanya, tim Predator FC berhasil unggul 1-0. Namun, terjadi hujan lebat sehingga Bayu meminta agar pertandingan ditunda. Laga kemudian tetap dilanjutkan dan Predator FC mampu menggandakan keunggulan dengan skor 2-0.

Setelah itu, terdapat salah satu pemain Predator FC yang menjatuhkan pemain Bedadung FC. Hal ini memantik penonton dan suporter di luar lapangan untuk merangsek masuk. Baku pukul pun tak terhindarkan.

“Penonton berlari menuju tengah lapangan dan memukul beberapa pemain. Hal ini sangat disayangkan dalam pertandingan sepak bola, sangat merugikan dan dapat mengancam jiwa manusia,” ucap Bayu Gatra.

Video

2 dari 3 halaman

Pemain Dipukul

Gelandang PSM Makassar, Bayu Gatra, mengangkat tangannya saat melawan Lao Toyota FC pada laga Piala AFC 2019 di Stadion Pakansari, Bogor, Rabu (13/3). PSM menang 7-3 atas Lao. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Pemain asli Jember itu mengaku sangat kecewa dengan insiden tersebut. Dia mengklaim bahkan ada suporter yang sampai memukul pemain dengan menggunakan botol.

“Ini yang saya tidak suka dari suporter Indonesia. Semua dipukul, hampir enam orang dipukul. Buat kalian, suporter juga, mendukung boleh mendukung, fanatik boleh fanatik, tapi jangan bodoh,” ucapnya.

“Jangan jadi provokator, ngompor-ngompori orang buat masuk lapangan. Sepak bola bukan silat, brutal. Jangan kasih contoh kepada generasi muda hal-hal yang buruk,” imbuh mantan pemain Timnas Indonesia tersebut.

3 dari 3 halaman

Ingin Menghibur

Gelandang PSM Makassar, Bayu Gatra, berusaha mengontrol bola saat melawan Lao Toyota FC pada laga Piala AFC 2019 di Stadion Pakansari, Bogor, Rabu (13/3). PSM menang 7-3 atas Lao. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Bayu mengaku sebenarnya enggan tampil dalam pertandingan tarkam. Namun, dia juga ingin menghibur masyarakat sekitar dengan ikut bertanding.

Dalam sebuah potongan video, Bayu ditenangkan oleh ibunya karena melihat situasi kerusuhan yang sempat belum terkendali. Sang ibu juga meminta Bayu untuk pulang saja meninggalkan lapangan.

“Dalam sebuah pertandingan, kalah menang itu hal yang biasa. Yang penting tetap harus sportif dan saling menjaga sesama pemain pula. Semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi. Jadilah penonton yang bijak, mendukung boleh, fanatisme berlebihan jangan,” tuturnya.

“Jadilah suporter yang bijak, cerdas, dan membawa perubahan ke generasi-generasi berikutnya. Saya ingin sepak bola lebih maju, lebih berhasil, seperti tim-tim yang ada di luar negeri. Jangan contoh hal buruk yang ada di video-video yang saya bagikan,” pesan Bayu.