Perjalanan Egy Maulana Vikri dan Bagus Kahfi Menggapai Mimpi di Eropa: Bikin Geger dan Kontroversial

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 08 Des 2020, 08:30 WIB
Ilustrasi - Bagus Kahfi Vs Egy Maulana Vikri (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Pada akhir November 2020 publik sepak bola Indonesia disajikan drama transfer Bagus Kahfi. Drama yang turut menguras emosi masyarakat Indonesia.

Cerita bermula ketika klub Eredivisie Belanda, FC Utrecht, mengajukan minat untuk merekrut Bagus Kahfi dari Barito Putera. Dibantu oleh Mola TV, sponsor utama kegiatan Garuda Select yang didukung PSSI, FC Utrecht percaya diri untuk bisa mengamankan jasa Bagus Kahfi.

Advertisement

Namun, niat FC Utrecht ternyata tak mulus. Barito Putera sama sekali tak merespons minat FC Utrecht sampai batas waktu yang diberikan yakni Jumat (27/11/2020).

Ketika itu, Barito Putera berdalih karena FC Utrecht tidak mengajukan penawaran resmi, termasuk nilai transfer. Artinya, FC Utrecht yang ingin merekrut Bagus Kahfi secara gratis.

Hal itu lantas membuat FC Utrecht menarik tawaran atas Bagus Kahfi. Bak bumerang, Barito Putera mendapatkan kecaman dari segala penjuru meskipun secara posisi apa yang mereka lakukan sudah benar.

Barito Putera akhirnya difasilitasi PSSI untuk menyelesaikan drama transfer Bagus Kahfi. Klub berjulukan Laskar Antasari itu akhirnya melunak dan sepakat untuk mendukung karier Bagus Kahfi di luar negeri.

"Tentu kami sangat bangga dan mendukung Bagus Kahfi untuk bergabung bersama klub Eropa. Mudah-mudahan berkah untuk Bagus, Barito Putera, dan tentunya Timnas Indonesia," kata CEO Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman.

Cerita Bagus Kahfi mengingatkan publik pada Egy Maulana Vikri saat bergabung dengan Lechia Gdansk pada 2018. Ketika itu, Egy Maulana Vikri sempat mendapatkan cibiran karena pijakan karier yang melejit.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 3 halaman

Tak Punya Pengalaman Berkompetisi

Gelandang Lechia Gdansk, Egy Maulana Vikri, ketika menghadapi Stal Mielec di Stadion Energa Gdansk, Gdansk, Sabtu (19/9/2020). (Lechia Gdansk).

Egy Maulana Vikri membuat geger publik Indonesia pada awal Maret 2018. Ketika itu, klub raksasa Polandia, Lechia Gdansk, merekrut Egy yang saat ini belum genap 18 tahun.

Ketertarikan Lechia Gdansk pada Egy tak terlepas dari penampilan apiknya bersama Timnas Indonesia U-19. Selebihnya, Egy hanyalah seorang siswa dari SKO Ragunan yang tak punya pengalaman berkompetisi di klub.

Opini publik saat itu terbagi dua, antara bangga karena ada anak Indonesia menembus Eropa, dan curiga ada kepentingan lain di balik pengorbitan Egy. Perlahan tetapi pasti, Egy kenyataannya lebih sering dimainkan di Lechia Gdansk II.

Andai dipromosikan ke tim utama, Egy lebih sering duduk sebagai penghangat bangku cadangan. Pada musim perdana, Egy hanya mendapatkan kesempatan bermain selama 10 menit dalam dua pertandingan Lechia Gdansk di Ekstraklasa.

"Saya sudah di sini. Namun, saya belum puas. Saya ingin lebih dari pencapaian saya saat ini. Untuk saat ini, saya harus kerja keras lagi dari semua orang yang ada di sini jika ingin lebih dari mereka," kata Egy Maulana Vikri pada awal November 2021.

Perlahan namun pasti, Egy Maulana Vikri musim ini mulai sering dimainkan Lechia Gdansk. Tercatat, pemain berusia 20 tahun itu sudah mengoleksi 62 menit bermain dalam lima laga di Ekstraklasa.

Serupa dengan Egy, Bagus Kahfi juga tak punya pengalaman berkompetisi di level klub. Meskipun tercatat menjadi bagian dari Barito Putera sejak 2018, namun Bagus belum sekalipun membela Barito Putera di Liga 1.

Hal itu terjadi karena Bagus Kahfi lebih memilih menghabiskan waktunya di program Garuda Select. Pengalamannya hanyalah bermain untuk Timnas Indonesia U-16 dan U-19.

3 dari 3 halaman

Eksploitasi Komersial?

Bagus Kahfi dan Beckham Putra Nugraha saat laga melawan Korea Utara di SUGBK, Jakarta, Minggu (10/11/2019) dalam penyisihan Grup K kualifikasi Piala AFC U-19 2020. (Bola.com/Yoppy Renato)

Tak bisa dimungkiri, perekrutan Egy Maulana Vikri yang dilakukan Lechia Gdansk membawa dampak komersial. Popularitas klub asal Polandia itu langsung meningkat sejak memiliki Egy.

Akun media sosial Lechia Gdansk dibanjiri masyakat Indonesia yang bergerilya atas nama nasionalisme. Terutama untuk unggahan yang melibatkan Egy. 

Bahkan, mantan pemain Lechia Gdansk, Boguslaw Kaczmarek, pernah menuding adanya misi strategi pemasaran di balik perekrutan Egy.

"Untuk sekarang, ini adalah gimmick pemasaran. Fakta seseorang menggambarkannya dengan bakat hebat tidak berarti apa-apa," kata Boguslaw Kaczmarek waktu itu.

Jika hal itu yang sedang dilakukan Lechia Gdanks, sejauh ini strategi mereka cukup berhasil. Dari sektor penjualan, jersey Egy Maulana Vikri berbaju Lechia Gdanks laris manis di Polandia meskipun dibanderol hampir Rp 1 juta.

Hal ini juga berpotensi dialami Bagus Kahfi. Kehadiran Bagus Kahfi di FC Utrecht juga bisa mendongkrak popularitas klub Belanda itu di Indonesia.

Apalagi Bagus Kahfi yang akan bermain di Jong Utrecht bakal mendapatkan gaji fantastis yakni 25 ribu euro atau setara dengan Rp429 juta per bulan. Tentu saja, angka fantastis untuk seorang pemain muda yang belum punya pengalaman berkompetisi.

Terlepas dari tujuan apapun yang saat ini mengiringi karier Bagus Kahfi dan Egy Maulana Vikri, keduanya patut mendapatkan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia. Setidaknya keduanya telah menjadi duta pemain Indonesia di sepak bola Eropa yang bisa menjadi pintu untuk pemain lainnya.

"Terima kasih atas dukungannya. Saya memohon doa dan dukungannya untuk bermain di luar negeri. Semoga saya bisa membanggakan nama Indonesia," ujar Bagus Kahfi.

Berita Terkait