5 Klub Juara Liga Inggris yang Zonk pada Musim Selanjutnya, Liverpool Bernasib Sama?

oleh Ario Yosia diperbarui 29 Jan 2021, 10:50 WIB
Premier League - Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Manuel Pellegrini (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Memenangkan piala Premier League membutuhkan konsistensi yang luar biasa. Tidak hanya tim harus tampil dengan performa ciamik di pertandingan besar, mereka harus terus bekerja dengan baik sepanjang musim menghadapi klub-klub medioker yang kerap merepotkan.

Liverpool menjadi juara Premier League musim lalu dengan langkah yang relatif mulus. Mereka jauh meninggalkan Manchester City, saingan terdekatnya. Masuk, musim 2020-2021 situasi berubah. The Reds, tergopoh-gopoh dalam upaya mempertahankan gelar.

Advertisement

Sepanjang sejarah Liga Inggris ada klub yang sukses mempertahankan trofi juara, namun jumlahnya tak banyak. Sebagian besar di antara para juara selalu kesulitan menjalani musim selanjutnya. Mereka menghadapi tantangan serius dari tim-tim lain yang gagal musim sebelumnya.

Ada juga tim yang terperosok setelah mencapai puncak. Itu bisa terjadi karena berbagai alasan mulai dari faktor kelelahan, kepuasan diri berlebihan, hingga pergantian personel tim.

Situs Sportskeeda merangkum lima klub yang mengalami mimpi buruk usai meraih gelar Liga Inggris.

Video

2 dari 6 halaman

Manchester City (2014-2015)

Manajer Manchester City, Manuel Pellegrini, menekankan arti penting kemenangan di kandang sebagai syarat untuk meraih gelar juara Premier League. (AFP/MARCO BERTORELLO)

Pemicu kegagalan Manchester City pada angkat piala musim 2014-2015 setelah memenangkan gelar Premier League di musim sebelumnya adalah rasa puas diri yang berlebihan.

Manajer Manchester City, Manuel Pellegrini melewatkan kesempatan untuk memperkuat skuad pada musim panas 2014 setelah memenangkan gelar. Ia hanya mendatangkan Fernando dan Mangala dengan harga gabungan 44 juta poundsterling selain mengontrak pemain bebas transfer, Frank Lampard dan Bacary Sagna.

Keputusan yang amat gegabah jika melihat kenyataan bahwa Citizen bisa juara kompetisi musim sebelumnya karena Liverpool pada musim 2013-2014 membuat kesalahan kecil di pengujung musim yang berujung raibnya kans juara.

Sementara itu, Chelsea berbenah gila-gilaan dengan mendatangkan Diego Costa, Cesc Fabregas, dan Thibaut Courtois yang kembali dari masa pinjaman.

Man City berperang menghadapi pelatih pelanggan juara Jose Mourinho dan hanya kalah dua kali di liga dalam perjalanan mereka untuk memenangkan gelar Premier League.

Meskipun Manchester City di pengujung musim hanya tertinggal delapan poin di belakang Chelsea, sejatinya mereka tidak pernah benar-benar merepotkan The Blues.  City bahkan pernah tertinggal 15 poin dengan enam pertandingan tersisa. Sesuatu hal yang memalukan buat sang juara bertahan.

3 dari 6 halaman

Leicester City (2016-2017)

Fans Leicester City membentangkan poster ucapan terima kasih untuk mantan pelatih Claudio Ranieri pada lanjutan Premier League di King Power Stadium, Leicester (27/2/2017). Leicester City menang 3-1. (Nick Potts/PA via AP)

Leicester City turun dari posisi tertinggi kompetisi menjadi 12 dalam hitungan satu musim. Rapor yang amat buruk dari klub kuda hitam yang mencetak keajaiban menjadi juara Liga Inggris musim 2015-2016.

Walau kalau mau fair, sejak awal mereka diragukan bisa mempertahankan gelar. Kegagalan mereka menahan kepergian pemain kunci jadi salah satu alasan namanya tak dihitung dalam perburuan gelar.

Kepergian N'Golo Kante menyisakan lubang mengangga di lini tengah. Dua bintang utama lainnya Jamie Vardy dan Riyad Mahrez kinerjanya melempem.

The Foxes memulai kampanye mempertahanan gelar mereka dengan kekalahan pada laga pembukaan melawan Hull City yang baru promosi.

Claudio Ranieri dipecat di tengah musim setelah mereka menderita lima kekalahan. The Foxes berjuang untuk meniru bentuk mereka dari kampanye memenangkan gelar mereka yang luar biasa dan mereka akhirnya hanya sanggup bertengger di posisi ke-12 oleh caretaker, Craig Shakespeare.

Di akhir musim, mereka terpaut 49 poin dengan Chelsea yang menjadi kampiun kompetisi.

4 dari 6 halaman

Blackburn Rovers (1994-1995)

Alan Shearer saat membawa Blackburn Rovers juara Liga Inggris 1994/1995 (JOHN GILES / PA / AFP)

Didukung oleh kekayaan pengusaha lokal Jack Walker, Blackburn menjelma menjadi klub elite. Secara dramatis mereka mengangkat trofi Premier League pada laga terakhir musim 1994-1995. Alan Shearer cs. mengoyang dominasi klub elite layaknya Liverpool, Manchester United, dan Arsenal.

Namun, kejatuhan mereka dari atas sama luar biasanya. Ini mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa manajer pemenang gelar Kenny Dalglish pindah ke peran Direktur Sepak Bola meninggalkan asistennya Ray Harford untuk mengambil alih kursi panas manajerial.

Mereka didorong ke puncak Liga Inggris berkat eksploitasi Alan Shearer tertentu. Kembalinya  sangstriker ke performa terbaiknya dengan koleksi 31 gol jadi satu-satunya penghibur. Mereka hanya finis di urutan ketujuh di klasemen.

Blackburn tertinggal 21 poin dari Manchester United yang telah mereka kalahkan untuk meraih gelar pada musim 1994-1995 dengan keunggulan satu poin.

5 dari 6 halaman

Chelsea (2015-2016)

Pelatih Chelsea, Jose Mourinho (kedua dari kanan) bersitegang dengan Arsene Wenger (pelatih Arsenal) saat kedua tim berlaga di lanjutan Liga Primer Inggris di Stadion Stamford Bridge, (5/10/2014). Chelsea Unggul 2-0 atas Arsenal. (AFP PHOTO/Adrian Dennis)

Di musim di mana Leicester City menjadi berita utama, Chelsea yang berstatus juara bertahan kompetisi mencuri perhatian dengan hal negatif yang terjadi di tim. Setelah memenangkan gelar Liga Premier pada musim 2014-2015, The Blues hancur lebur secara mengerikan.

Chelsea kalah tujuh dari 12 pertandingan pertama mereka musim tersebut. Di luar analisis para pengamat yang memprediksi mereka akan kembali sukses di bawah Jose Mourinho. Chelsea berantakan dengan cara yang memalukan.

Jose Mourinho kehilangan kepercayaan di ruang ganti dan akhirnya dipecat pada bulan Desember. Guus Hiddink dipanggil untuk memperbaiki situasi. Tapi kondisi sudah telanjur parah.

Chelsea finis di urutan ke-10 di klasemen Liga Inggris dengan koleksi 50 poin. Southampton, West Ham United dan Stoke City finis di atas mereka saat Leicester City mengangkat gelar Premier League.

6 dari 6 halaman

Leeds United (1992-1993)

Eric Cantona (kanan) membawa Leeds United menjuarai Liga Inggris 1992 bersama Gary McAllister (kiri). (Dream Team)

Leeds United memenangkan gelar Liga Inggris edisi terakhir sebelum berganti nama menjadi Premier League pada musim 1991-92, unggul empat poin dari urutan kedua Manchester United yang juga merupakan rival sengit mereka selama berpuluh-puluh tahun. Tapi yang terjadi selanjutnya, amat memalukan.

Leeds United memulai era Premier League dengan pencapaian minimalis. Setelah kehilangan pemain utama mereka Eric Cantona dari rival Manchester United pada November, Leeds United gagal mencatatkan satu kemenangan tandang di keseluruhan musim 1992-1993.

Untungnya Leeds masih finis di urutan ke-17 di tabel akhir. Tertolong rangkaian hasil positif di kandang mereka Elland Road.

Mereka selamat dari degradasi dengan keunggulan dua poin dari zona merah.

Sumber: Sportskeeda

Berita Terkait