Ubah Laku: Jeruk Kunci Jadi Alternatif Pasien COVID-19 Pulihkan Anosmia dan Sesak Napas

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 24 Okt 2021, 13:01 WIB
Jhon bersama dengan rekan riset independennya membuat minyak esensial berbahan dasar jeruk kunci. Minyak ini diyakini bisa meringankan gejala anosmia dan sesak napas ringan. (Foto: Liputan6.com).

Bola.com, Jakarta - Anosmia atau kehilangan indra penciuman merupakan gejala umum yang dialami penderita COVID-19. Beragam terapi bisa dilakukan untuk menyembuhkan anosmia, satu di antaranya dengan menggunakan jeruk kunci.

Sampai saat ini, pandemi COVID-19 di seluruh dunia termasuk Indonesia belum berakhir. Meski sudah memperlihatkan penurunan tajam untuk kasus positif, jumlah pasien virus corona masih saja bertambah setiap harinya.

Advertisement

Untuk di Indonesia, kasus baru postif COVID-19 berada di angka 760 pada 22 Oktober 2021. Jumlah itu sangat berbeda jauh dibandingkan pada 15 Juli lalu yang mencapai angka 56 ribu lebih kasus postif.

Ketika terpapar virus corona, pasien biasanya mengalami berbagai macam gejala, mulai dari demam, batuk, kelelahan, sesak napas, serta kehilangan rasa atau bau.

Sejumlah cara bisa dilakukan untuk sembuh dari COVID-19, seperti meminum vitamin ataupun terapi dengan menggunakan ramuan. Satu di antara alternatif terapi untuk pulih dari COVID-19 adalah minyak esensial dengan bahan dasar jeruk kunci.

Ide tersebut pertama kali dicetuskan John Yang Kinardi warga Bangka Belitung. John merasa terdorong untuk mencari solusi terapi gejala anosmia dan sesak napas ringan bagi warga yang harus menjalani isolasi mandiri (isoman).

Dia bersama para peneliti independen membuat minyak esensial dari jeruk kunci, yang merupakan tanaman endemik yang banyak ditemukan di Bangka Belitung.

"Ide dasar dari produk ini saat kami dengan beberapa teman periset independen mencari alternatif untuk bisa memberikan terapi ke penyakit saluran pernapasan. Kebetulan satu tahun yang lalu, pandemi COVID-19 baru masuk ke provinsi kami, Bangka Belitung," jelas John.

"Dari 10 ingredient (bahan) untuk minyak esensial itu ada tiga yang kami ambil langsung dari Bangka Belitung, dan yang paling unik adalah jeruk kunci. Karena di dunia bisa dibilang belum ada yang mengambil minyak ini dan cukup mempunyai efek anti bakterial yang sangat kuat," tambahnya.

 

2 dari 3 halaman

Memberi Efek Kesembuhan

Jeruk kunci yang baru dipetik untuk kemudian dibuat menjadi minyak esensial. Jhon mengatakan bahwa minyak esensial ini bisa meringankan gejala anosmia dan sesak napas ringan. (Foto: Liputan6.com).

Berkat racikan dari John bersama rekan peneliti independen, minyak esensial yang menggunakan bahan dasar jeruk kunci mampu menyembuhkan anosmia lebih cepat. Selain itu, minyak tersebut bisa mengurangi sesak nafas ringan pada pasien COVID-19.

"Ada pasien yang satu jam memberikan efek kesembuhan, ada juga yang butuh tiga sampai empat hari. Tetapi dengan catatan, anosmia tidak bisa sembuh secara drastis, melainkan secara bertahap," jelas John.

Memproduksi minyak esensial dengan bahan dasar jeruk kunci, John juga ikut menghidupkan kembali perekonomian warga setempat. Dia membuka lapangan pekerjaan bagi warga dengan mengumpulkan jeruk kunci, yang nantinya digunakan sebagai bahan minyak esensial.

"Dari usaha kami bisa membantu masyarakat sekitar,terutama buruh harian yang akibat covid jadi tidak bekerja setiap hari. Di situlah kami bisa membantu berkontribusi kepada mereka untuk bekerja part time di kami, mengumpulkan beberapa bahan untuk kami distilasi," ucapnya.

 

3 dari 3 halaman

Semua Bisa Berkontribusi

Meski belum dipasarkan secara masif, minyak esensial produksi John Yang Kinardi telah membawa dampak. Sejumlah pasien COVID-19 di Bangka Belitung merasakan kesembuhan dari minyak esensial jeruk kunci tersebut.

"Awal mula saya kena COVID itu saya hilang indra penciuman atau anosmia, serta tenggorokan sakit. Hari pertama saya sudah menggunakan produk terapi oil, dan dalam satu hari saya sering banget menghirup uap dari oil tersebut," ujar Silvia satu di antara penyintas COVID-19.

"Pada hari ketiga, tenggorokan saya sudah enak dan hidung pun semakin plong rasanya, sudah enakan," lanjutnya.

John berharap minyak esensial buatannya dan peneliti independen bisa menjadi alternatif penyembuhan anosmia dan sesak napas ringan bagi pasien COVID-19. Namun, hal tersebut bisa terwujud jika didukung lembaga riset yang kredibel dan melakukan tes medis dengan data-data yang akurat.

"Saya yakin kita semua bisa memberi kontribusi di masa pandemi ini. Mungkin terlihat kecil ataupun mungkin dipandang sebelah mata oleh banyak orang, tetapi dengan keyakinan kita pasti bisa dan kita semua orang yang ada di daerah ini, anak muda, harus Berani Berubah!" tegasnya.