Menkes Pastikan Obat COVID-19 Tersedia di Indonesia pada Akhir 2021

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 01 Nov 2021, 21:10 WIB
Aktivitas pekerja di pabrik produksi obat Kimia Farma di Banjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/7/2021). Menurut Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Kimia Farma telah memproduksi obat COVID-19 Favipiravir berkapasitas produksi 2 juta tablet per hari. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Bola.com, Jakarta - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengonfirmasi, obat COVID-19 berupa molnupiravir akan tersedia di Indonesia pada akhir 2021. Kepastian itu diungkapkan setelah Kemenkes mencapai kesepakatan dengan perusahaan produsen obat COVID-19 dari Amerika Serikat.

Indonesia akan menerima obat COVID-19 buatan perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Merck (MSD). Menkes berharap, pada akhir 2021 obat tersebut sudah tersedia di Indonesia, sehingga bisa langsung didistribusikan ke masyarakat.

Advertisement

"Kami sudah sampai ke tahap finalisasi dari agrement agar Indonesia bisa mengadakan tablet molnupiravir yang diusahakan akhir tahun ini," kata Budi Gunadi Sadikin.

Penggunaan molnupiravir sebagai obat COVID-19 harus melalui perjalanan panjang. Awalnya, obat yang dikembangkan di Emory University, Amerika Serikat, itu untuk influenza.

Namun, obat tersebut belakangan diketahui ampuh dan efektif untuk penggunaan pada COVID-19. Molnupiravir merupakan antivirus baru yang dikembangkan untuk mengobati pasien COVID-19 dengan kondisi ringan hingga sedang.

Sementara itu, obat COVID-19 yang saat ini tersedia di masyarakat adalah favipiravir dan remdesivir. Penggunaan antivirus itu dilakukan untuk terapi pada COVID-19 gejala berat, ringan, dan sedang dengan riwayat penyakit komorbid.

2 dari 3 halaman

Ampuh untuk Varian Delta

Studi temukan obat molnupirafir terbukti turunkan risiko rawat inap dan kematian akibat Covid-19. (Pexels/karolina grabowska).

Hasil studi laporatorium Merck menunjukkan, obat COVID-19 molnupiravir kemungkinan besar efektif melawan varian virus corona termasuk delta. Molnupiravir paling ampu bila diberikan pada tahap awal infeksi.

Obat ini memiiki cara kerja untuk mengacaukan kode genetik virus agar tidak bereplikasi di tubuh inang. Obat ini digadang-gadang sebagai antivirus oral pertama untuk pasien COVID-19.

Data dari hasil uji klinis fase I dan II menunjukkan molnupiravir aman digunakan dan efektif mengurangi jumlah virus COVID-19 pada pasien gejala ringan.

Adapun pada uji klinis fase III menunjukkan molnupiravir juga mampu mengurangi kebutuhan rawat inap di rumah sakit, hingga menekan risiko kematian sampai 50 persen.

3 dari 3 halaman

Angka COVID-19 di Indonesia

Pasien OTG COVID-19 menunggu saat tiba di Rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta, Senin (21/6/2021). Pemprov DKI Jakarta mulai mengaktifkan Rusun Nagrak sebagai tempat isolasi mandiri bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Satgas COVID-19 mencatat adanya penambahan 403 kasus positif di seluruh Indonesia per Senin (1/11/2021). Jumlah tersebut membuat angka penyebaran COVID-19 di Indonesia terkonfirmasi mencapai 4.244.761 kasus.

Sementara itu, terjadi penambahan 784 orang yang sembuh dari COVID-19. Dengan demikian, jumlah masyarakat yang sembuh akibat COVID-19 di Indonesia mencapai 4.088.419 orang.

Terjadi penambahan jumlah pula pada kasus meninggal dunia akibat COVID-19. Terdapat penambahan 18 kasus kematian yang membuat sudah 143.423 masyarakat Indonesia yang meninggal akibat COVID-19.