Egy, Asnawi, Baggott, dan 2 Pemain Timnas Indonesia yang Posisinya Terancam dengan Naturalisasi 4 Pesepak Bola Keturunan

oleh Muhammad Adi Yaksa diperbarui 17 Jan 2022, 07:45 WIB
Elkan Baggot, Egy Maulana Vikri dan Asnawi Mangkualam. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Jakarta - Pro dan kontra masih menghiasi rencana PSSI menaturalisasi empat pesepak bola keturunan. Nantinya, kedatangan Sandy Walsh, Jordi Amat, Mees Hilgers, dan Ragnar Oratmangoen disebut dapat mengancam para pemain lokal di Timnas Indonesia.

"Bersaing saja mereka. Mudah-mudahan muncul yang terbaik. Persaingan itu biasanya terjadi kalau sudah merasa terganggu," kata anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Hasani Abdulgani kepada Bola.com beberapa waktu lalu.

Advertisement

"Siapa tahu nanti pemain-pemain kita mungkin bisa menjadi lebih hebat. Sekarang mungkin karena tidak ada saingan, mereka mungkin tidak mengeluarkan kemampuan yanh dimiliki. Masa sih kita masih membicarakan soal seperti itu."

"Saya kalau misalnya mengambil pemain muda asal Brasil yang tidak ada hubungan darahnya, juga tidak setuju. Kalau seperti ini kan, mereka masih berdarah Indonesia. Cuma karena dibawa orang tuanya ke luar negeri, mereka jadi warga negara asing," papar Hasani.

Demi memenuhi target juara Timnas Indonesia di level Asia Tenggara (ASEAN), pelatih Shin Tae-yong menyodorkan empat pemain keturunan di Eropa untuk dinaturalisasi oleh PSSI.

Keempatnya adalah Sandy Walsh, Jordi Amat, Mees Hilgers, dan Kevin Diks. Keempatnya berposisi sebagai bek. Sandy dan Diks di pos bek sayap kanan, sementara Amat dan Hilgers bek tengah.

Belakangan, Shin Tae-yong mengganti Kevin Diks dengan Ragnar Oratmangoen. Sebab, Diks bentrok posisi dengan Sandy Walsh.

PSSI segera menerima dokumen keturunan dari Ragnar Oratmangoen dan Mees Hilgers. Keduanya disebut akan mengirimkan bukti untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) demi membela Timnas Indonesia itu pada Februari 2022.

"Untuk Mees Hilgers dan Ragnar Oratmangoen, janji agennya bakal mengirimkan dokumen pada Februari 2022," ujar Hasani dalam akun Instagramnya, @hasaniabdulgani, Sabtu (15/1/2022).

PSSI telah mendapatkan dokumen dari Sandy Walsh dan Jordi Amat. Sebab, kedua pemain itu sudah lolos tes wawancara dengan pelatih Shin Tae-yong. Dokumen keduanya juga tengah dipelajari.

"Sementara dokumen Jordi Amat dan Sandy Walsh sudah dikirim dari agen di Eropa kepada PSSI dan saat ini sedang diproses tim legal. Mudah-mudahan minggu depan sudah ada kabar, apakah dokumennya sudah komplet atau masih perlu tambahan," jelas Hasani.

PSSI menargetkan naturalisasi Sandy Walsh, Jordi Amat, Mees Hilgers, dan Ragnar Oratmangoen dapat rampung sebelum pertengahan tahun ini. Soalnya, keempatnya diharapkan bisa membela Timnas Indonesia di Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Asia 2023 pada Juni 2022.

"PSSI menargetkan keempat pemain itu bisa membela Timnas Indonesia di putaran ketiga Kualifikasi Piala Asia 2023 pada Juni 2022," papar Hasani.

Jika naturalisasi keempatnya berjalan lancar, bagaimana dengan nasib para pemain lokal di Timnas Indonesia? Siapa saja yang posisinya bakal terancam?

2 dari 6 halaman

Egy Maulana Vikri

Nama pertama ada Egy Maulana Fikri. Winger 21 tahun tersebut saat ini berkarier di klub asal Slovakia, FK Senica. Meski baru tampil saat partai semifinal leg kedua menghadapi Singapura, Egy mampu melesatkan gol untuk kemenangan 4-2 Timnas Indonesia. (AP/Suhaimi Abdullah)

Posisi Egy Maulana Vikri dapat terancam dengan naturalisasi pesepak bola keturunan. Peran pemain berusia 21 itu mirip dengan Ragnar Oratmangoen.

Transfermarkt mencatat Oratmangoen berposisi sebagai winger kanan, peran yang dimainkan oleh Egy di Timnas Indonesia.

Oratmangoen adalah pemain Go Ahead Eagles di Eredivisie. Winger berusia 23 tahun itu telah bermain 19 kali dan menorehkan dua assists di Liga Belanda musim ini.

3 dari 6 halaman

Witan Sulaeman

Witan Sulaeman. Pemain sayap milik Lechia Gdansk berusia 20 tahun ini tampil penuh 90 menit. Selain menyumbang gol, pergerakannya juga mampu merepotkan dan kadang harus dijatuhkan hingga menghasilkan beberapa kali tendangan bebas. Ia layak mendapat nilai 7,5. (AFP/Roslan Rahman)

Selain berposisi sebagai winger kanan, Ragnar Oratmangoen juga dapat bermain sebagai winger kiri. Sekilas dari posisinya, karakteristik pemain kelahiran 21 Januari 1998 itu juga identik dengan Witan Sulaeman di Timnas Indonesia.

Witan dapat bermain dalam banyak posisi di lini depan di Timnas Indonesia, mulai dari winger kanan, kiri, hingga penyerang lubang.

Jika Oratmangoen dimainkan sebagai winger kiri demi mengakomodir Egy di kanan, maka Witan akan menjadi korban. Untungnya, pemain berusia 20 tahun itu bisa didorong ke depan sebagai second striker.

4 dari 6 halaman

Asnawi Mangkualam

Asnawi Mangkualam. Kapten tim pilihan Shin Tae-yong yang beroperasi di bek kanan ini selalu menjadi starter dalam 4 laga Timnas Garuda. Dari keempatnya, ia hanya sekali tak bermain penuh akibat cedera. Total bermain dalam 340 menit, 1 gol dicetaknya saat kontra Laos. (affsuzukicup)

Andai Shin Tae-yong tidak mengubah posisinya, Asnawi Mangkualam bisa saja hanya menjadi ban serep bagi Sandy Walsh mengingat keduanya bermain sebagai bek sayap kanan.

Setahun belakangan, Asnawi melejit menjadi pemain tidak tergantikan di tim berjuluk Skuad Garuda itu. Bek Ansan Greeners ini bahkan telah dipercaya sebagai wakil kapten Timnas Indonesia.

Asnawi harus bersaing dengan Sandy Walsh yang notabene bukan pemain sembarangan. Dia adalah tulang punggung KV Mechelen di Liga Belgia. Di musim ini, Sandy telah bermain 20 kali dan mencetak dua gol plus lima assists.

5 dari 6 halaman

Elkan Baggott

Elkan Baggott menjelma menjadi tembok raksasa di Timnas Indonesia. Pria kelahiran Thailand tersebut saat ini tengah merumput bersama klub Inggris, Ipwich Town. Baggott tercatat telah tampil sebanyak empat kali dan berhasil menyumbangkan satu gol di Piala AFF 2020. (Dok. PSSI)

Nasib palang pintu lokal Timnas Indonesia paling rentan dengan rencana naturalisasi pemain keturunan. Sebab, Mees Hilgers dan Jordi Amat berposisi sebagai bek tengah.

Hilgers adalah bek muda berprospek cerah yang membela FC Twente di Eredivisie. Masih berusia 20 tahun, ia telah bermain 17 kali di musim ini.

Kans Elkan Baggott untuk menjadi pemain utama Timnas Indonesia tentu kecil jika naturalisasi keduanya terwujud. Padahal, pemain berusia 19 tahun itu baru memilih Indonesia ketimbang Inggris atau Thailand.

6 dari 6 halaman

Alfeandra Dewangga

Setelah tertinggal, Singapura gencar menekan pertahanan Indonesia. Namun peran Alfeandra Dewangga sebagai pemutus serangan di lini tengah Timnas Garuda masih mampu meredamnya. Hingga babak pertama usai skor 1-0 masih bertahan. (AFP/Roslan Rahman)

Jika Mees Hilgers adalah bek bertalenta, maka Jordi Amat ialah palang pintu berpengalaman yang telah malang melintang di Spanyol, Inggris, hingga Belgia.

Setelah berkarier di Espanyol, Swansea, Real Betis, sampai Rayo Vallecano, Jordi Amat membela KAS Eupen di Liga Belgia. Dia membukukan 20 pertandingan di musim ini.

Keberadaan pemain keturunan nantinya bukan hanya mengganggu Baggott, namun juga Alfeandra Dewangga. Bek berusia 20 tahun yang mencuri perhatian di Piala AFF itu bakal sulit bersaing dengan Jordi Amat dan Hilgers.

Berita Terkait