Presiden Arema: Ini Saatnya Meninggalkan Ego, Malang Bersaudara dengan Surabaya

oleh Yus Mei SawitriIwan Setiawan diperbarui 08 Okt 2022, 05:35 WIB
Presiden klub Arema FC, Gilang Widya Pramana saat konferensi pers Piala Presiden 2022 di Studio Lantai 8 SCTV Tower, Senayan City, Jakarta pada Senin (06/06/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Malang - Presiden Arema FC, Gilang Widya Pramana, mengajak suporter untuk meninggalkan ego. Menurutnya, rivalitas antarsuporter seharusnya hanya berlangsung sepanjang 90 menit pertandingan. 

Ajakan tersebut dilontarkan sang Presiden Arema FC saat acara doa bersama di Stadion Kanjuruhan, Jumat (7/10/2022), untuk mengenang korban pada 1 Oktober 2022. 

Advertisement

"Ini saatnya meninggalkan ego. Malang bersaudara dengan Surabaya," kata Gilang.  

"Begitu juga dengan daerah lainnya. Rivalitas hanya 90 menit pertandingan. Setelah itu menjadi saudara," sambung dia. 

Gilang Widya Pramana membuka doa bersama ini dengan perasaan sedih. "Begitu cepat 7 hari berlalu. Saya masih terpukul dengan kejadian ini. Begitu banyak korban. Banyak yang kehilangan orang dicintai, dikasihi," kata pengusaha yang akrab disapa Juragan 99 ini.

 

2 dari 4 halaman

Sudah Berlangsung 7 Hari

Di bagian tengah lapangan, lilin yang dibentuk tulisan Arema tetap diupayakan hidup. Jika ada yang mati, aremania yang ada di dekatnya bergegas menyalakannya dengan korek api. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Doa bersama di Stadion Kanjuruhan sudah berjalan 7 hari. Makin hari, para suporter, warga setempat dan simpatisan semakin banyak yang datang. Jumat (7/10/2022) jadi hari terakhir doa bersama digelar. Ribuan orang berdatangan.

Puncaknya sekitar pukul 18.00 WIB, ketika tim Arema FC datang menggunakan bus. Suporter dan warga sekitar yang datang memenuhi area parkir layaknya sebuah pertandingan tengah digelar di Stadion Kanjuruhan.

Doa bersama ini berlangsung di area parkir utama depan pintu masuk VIP. 

 

3 dari 4 halaman

Berharap Tak Terulang Lagi

Ribuan masyarakat dari berbagai elemen berbondong-bondong mendatangi Stadion Kanjuruhan, Malang untuk ikut melaksanakan doa bersama memperingati tujuh hari Tragedi Kanjuruhan, Jumat (7/10/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Sejak tragedi, Gilang aktif mengunjungi rumah korban. Sehingga dia merasakan betul duka yang dialami keluarga suporter.

"Ada anak kecil meninggal. Suami kehilangan istri dan anak. Istri yang kehilangan suami dan anak. Mereka tak tahu akan ke mana ke depan," lanjutnya.

Gilang berharap kejadian ini tak terulang kembali. Begitu juga dengan manajer tim Arema, Ali Rifki. Dia mewakili pemain memberikan sambutan kepada ribuan orang yang ikut doa bersama.

 

4 dari 4 halaman

Tak Bubar karena Hujan

Ribuan warga sekitar yang datang berkumpul di area parkir depan pintu VIP layaknya sebuah pertandingan tengah digelar. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

"Saya mewakili pemain yang masih terpukul dengan kejadian ini. Demikian saya. Melihat sendiri dan ikut mengangkat korban. Ini bukan malam terakhir untuk mendoakan korban, Aremania. Setiap selesai sholat, selipkan doa untuk beliau-beliau ini," kata Ali.

Ketika doa bersama, hujan rintik-rintik sempat mengguyur Stadion Kanjuruhan. Kondisi ini membuat sebagian besar yang berkirim doa kehujanan.

Tenda yang disiapkan tak bisa menutupi semua yang hadir. Ini membuat acara semakin haru. Karena tak ada satu pun yang beranjak dari tempatnya. Di bagian tengah, lilin yang dibentuk tulisan Arema tetap diupayakan hidup. Jika ada yang mati, aremania yang ada didekatnya bergegas menyalakannya dengan korek api.

Berita Terkait