Keren Sih, tapi Selalu Terjungkal di Liga Champions, Bagamiana dong ? : 4 Nama yang Tergolong Sial

oleh Choki Sihotang diperbarui 16 Mar 2023, 19:58 WIB
Pelatih Liverpool Jurgen Klopp (kiri) berbicara kepada ofisial pertandingan setelah pertandingan melawan Real Madrid pada pertandingan leg pertamababak 16 besar Liga Champions di stadion Anfield di Liverpool, Inggris, Rabu (22/2/2023). Kebobolan lima gol merupakan pertama kalinya dirasakan Liverpool di Liga Champions, terutama di kandang sendiri para partai kompetisi Eropa. (AFP/Paul Ellis)

Bola.com, Jakarta - Liverpool tersingkir dari Liga Champions 2022/2023. Kalah aggregat 2-6 dari Real Madrid, pasukan Jurgen klopp harus mengubur mimpi kembali menjadi yang terhebat di ajang antarklub paling bergengsi di Benua Biru.

"Kami harus bisa menerima kenyataan ini," kata Jurgen Klopp, saat armadanya kalah 0-1 pada laga leg 2 babak 16 besar di Santiago Bernabeu, Kamis (16/3) dini hari WIB. Tak ada mujizat bagi Mo Salah dkk, setelah sebelumnya raksasa Inggris itu juga tersungkur 2-5 di kandang sendiri, Anfield.

Advertisement

Meski begitu, Klopp tetaplah pelatih top. Sejak dipercaya menukangi Liverpool pada 2015, ahli strategi Jerman berusia 55 tahun ini setidaknya sudah pernah merasakan manisnya gelar Liga Champions dalam kapasitas sebagai juru taktik. Prestasi itu tersaji pada 2018/2019, kala eks pembesut Borussia Dortmund membawa Anfield Gank memenangkan Liga Champions.

Pada 2012/2013, Klopp juga nyaris menggenggam Eropa bersama Die Borussen. Sayang, ketika itu, Dortmund harus puas sebagai runner up karena takluk di final dari sesama wakil Jerman, Bayern Munich.

Reputasi Klopp masih jauh lebih mentereng dari sejumlah pelatih beken lainnya, tapi justru sama sekali belum pernah mengangkat trofi Si Kuping Besar. Mau tahu siapa saja?

 

2 dari 5 halaman

Antonio Conte (Juventus, Chelsea, Inter Milan, Tottenham)

Ekspresi pelatih Juventus, Antonio Conte pada pertandingan sepak bola Liga Champions Grup B antara Real Madrid melawan Juventus di stadion Santiago Bernebeu, Madrid. Pada Rabu (23/10/13) waktu setempat. (AFP/Gerard Julien)

Di level domestik, Conte okelah. Tak ada yang meragukan. Waktu jadi bos di Juventus, Conte tiga kali mempersembahkan gelar Serie A.

Bersama Chelsea, Conte membawa Si Biru dari London ke singgasana Premier League 2016/2017. Pun begitu kala membesut Inter Milan, sebiji gelar Serie A berhasil dia suguhkan bagi Il Nerazurri.

Tapi di Liga Champions, Conte yang saat ini menukangi Tottenham Hotspur memble. Pencapaian terbaiknya hanya sampai perempat final dan itu tersaji bareng Juve pada musim 2012/2013.

 

3 dari 5 halaman

Unai Emery (Spartak Moscow, Valencia, Sevilla, PSG, Arsenal, Villarreal)

Unai Emery mengintruksikan pemainnya saat pertandingan Grup A Liga Champions UEFA antara PSG dan Arsenal di stadion Parc des Princes di Paris 13 September 2016. Setelah 22 tahun Arsenal punya manajer baru yaitu Unai Emery. (AFP Photo/Franck Fife)

Bareng Sevilla, Emery memenangkan Liga Europa tiga kali berturut-turut. Sebiji gelar serupa pernah dia persembahkan bagi Villarreal.

Sayang, di level yang paling tinggi yakni Liga Champions, nasib baik masih emoh berpihak kepada pelatih 51 tahun ini. Dia membawa Valencia yang kesulitan finansial ke kualifikasi Liga Champions pada tiga kesempatan.

Tatkala membidani klub lain macam Paris Saint-Germain dan Arsenal, gelar juara Liga Champions hanya sebatas angan-angan di kepala Emery.

 

4 dari 5 halaman

Didier Deschamps (Monaco, Marseille)

Di pentas Piala Dunia, dua jempol buat Deschamps. Pada edisi 2018, Deschamps memimpin Prancis menjadi kampiun usai mengalahkan Kroasia di partai puncak.

Empat tahun berselang di Qatar, juru taktik yang juga legenda Juventus itu juga membawa Les Bleus ke partai puncak. Sial, Prancis kalah adu penalti dari Argentina.

Walau jadi runner up, Deschamps tetap banjir sanjungan. Terbukti, PSSI-nya Prancis memperpanjang masa baktinya sebagai pelatih timnas.

Situasi itu bersama timnas. Lantas, bagaimana bersama klub yang pernah dibidaninya? Maaf, Deschamps tak lebih dari seorang pecundang. Artinya, Deschamps belum pernah memenangkan Liga Champions.

 

5 dari 5 halaman

Otto Rehhagel (Werder Bremen, Kaiserslautern)

Sudah sepuh, Rehhagel kini berusia 84 tahun. Dalam perjalanannya yang panjang sebagai pelatih, Rehhagel tak sekali pun mampu memenangkan Liga Champions.

Selain Werder Bremen dan Kaiserslautern, Rehhagel juga pernah menjadi orang nomor satu di ruang ganti Borussia Dortmund dan Bayern Munchen.

Sumber: Fourfourtwo

Berita Terkait